Selasa, 03 Januari 2012

Perempuan berkerudung putih

Kemana…  kemana…  
kemana ku harus mencari kemana
Kekasih tercinta tak tahu rimbanya
Lama tak datang ke rumah
Dimana dimana dimana tinggalnya sekarang dimana..

Seorang ibu bersuara “cempreng” sedang menyanyi. Diiringi music dari tip jadul dengan batere aki soak. Entah suara speakernya yang buruk entah memang vokalnya kurang berkualitas. (kalo ngomong jelek nanti di demo sama “PARFI” pimpinannya bapak Anwar Fuadi). 

Dandananya sudah mirip bitang tivi. Baju ketat warna-warni.  Macam audisi biduan dangdut, di sebuah stasiun tv swata yang di siarin hampir tiap malam.  Make up wajahnya mulai luntur, terkena keringat. Seharian berpanas-panasan teriknya  Cikarang. Mengejar bis yang tidak pernah benar-benar diam berhenti. Bedaknya juga murahan. Ngirit pengeluaran.

Ah ndak penting… mau se-sewrawut apapun tampangnya, mau  sejelek apapun suaranya, mau secempreng atau sepales apapun juga. Lagu artis yg sedang naik daun itu tetap akrab di telinga kami. 

Bus P 9 BC Jurusan Kampung rambutan-Cikarang via cawang UKI melaju kencang di jalan tol. Salah satu bus favourit ke Jakarta. sepertinya jalanan belumlah ramai. Jam di HP ku masih menunjukkan pukul 15.00 waktu cikarang. Aku selalu tidak enak hati menanyakan jam kepada orang di sebelahku, apalagi kalau cewek. Masih Satu jam-an lagi karyawan kawasan bubaran. Akhir-akhir ini aku harus sering bolak-balik Jakarta-Cikarang. Semoga tidak bertambah sering lagi, alamat bermasalah dompetku.

Sementara sang ibu menyanyi, - sepertinya memang ibunya- seorang anak mengedarkan amplop butut, bertuliskan deretan cerita. Tulisannya sudah mulai kabur.  luntur di sana-sini. Disiasatinya dengan isolasi bening. Tetap saja tidak menghilangkan lunturnya.  Setidaknya masih bisa terbaca dengan jelas. Intinya “mohon sumbangan”.

Anak kecil yang cantik. Seusia “Ayang” ku, ah mungkin sedikit lebih muda. Setahun mungkin. Menggunakan setelan kerudung kotak yg dilipat-lipat. Aku tetap tidak tahu nama keren kerudung itu. Atasan kaos lengan pendek warna putih, dan celana setengah lutut. Nampat sangat “Luwes” setidaknya untuk anak seusianya.  

Aku selalu –untuk saat ini- keberatan jika “Ayang” ku menggunakan kerudung model itu. Ia memang selalu tampak sangat cantik saat mengenakannya. Dengan warna apapun, ia sudah piawai mencocokkan kerudung dengan warna bajunya.  Aku keberatan, “Dandannya Lama”. Ribet banget. Setengah jam lebih hanya untuk memasangnya saja di sana. Di dalam kamar, yang selalu saja complain jika diganggu, bahkan simboknya sendiri. Selalu saja diusir jika mendekat, apalagi menegur.  Dan jangan dikritik sedikitpun, butuh setengah jam lebih untuk memperbaikinya. Apalagi dikritik warnanya, “Dilarang Keras” bias tambahan waktu setengah jam, “Buat nangis dan Paniknya”.

Ah maafkan kawan, aku selalu lupa jika bercerita tentang ayangku..

Ke sana kemari membawa alamat
Namun yang ku temui bukan dirinya
Sayang yang ku terima alamat palsu

Aku tersadar , bocah berkerudung putih itu menyodorkan amplop putih kecoklatan penuh tulisan agak luntur  kepadaku. Disertai senyum “Lima Senti” dari bibir mungilnya.  

Ah sepertinya aku melamun barusan. Sudah dua bulan lebih tak pulang. Kangen “Ayangku”. Proyek blum bisa ditinggal.

“Sabar ya yang..”
“Mamas segera pulang”

Seorang ibu-ibu berkerudung putih di kursi sebelahku membalas senyum “lima senti”. Menerima amplop juga. Matanya berbinar melihat bocah berkerudung putih itu. Mungkin membayangkan bungsunya, seperti aku membayangkan “Ayangku”.

Tak lama ia merogoh tas lengan warna coklat khas ibu-ibu. Ia mengeluarkan uang lembaran berwarna biru tua. Agak lama berhenti, sebelum akhirnya memutuskan menyelipkan ke dalam amplop.
“Uang yang besar”, batinku.

Sisi lainku berfikir. Memikirkan segala kemungkinan. -Sebenarnya sih boleh dibilang prasangka-
“Boleh juga itu jadi pengamen”.

 Kalau tiap hari ada yang ngisi amplopnya uang warna biru. Mendingan jadi pengamen saja.
Dandan ala panggung gembira, make up murahan. Baju ketat warna-warni. Nyanyi dah…

Ndak perlu mikirin date line, ndak usah mikiri schedule, minggu ndak perlu masuk, hasilnya ndak jauh beda.

Ah…” wang sinawang”

Jangan-jangan ibu-ibu dan anak pengamen itu juga ingin seperti kita, tidak perlu kejar-kejaran dengan trantib, tak perlu rebutan dengan pengamen lain, dan tentu saja tak perlu takut diganggu preman maupun calo terminal.Mudah-mudahan apa yang tertulis di amplop lusuh itu benar adanya.

Hidup memang begitu wataknya, kita hanya harus lebih bersyukur dengan apa yg kita miliki. Mungkin kita yang lebih banyak merasa bosan, karena –mungkin kita- kurang –berusaha- mencintai pekerjaan kita. Mungkin kita lupa mengucapkan terima kasih kepada pasangan kita, yang dengan sabar menunggu kekasihnya pulang. Mungkin kita mulai merasa terganggu dengan celoteh anak-anak yang dahulu sangat kita idam-idamkan kehadirannya dulu.

Teet…. Teeeet… Teeet..  klakson bus berbunyi… keras sekali..
“cawang… cawang.. cawang..” kondektur berseru keras.
Dan bus pun melambat jalannya. Para penumpang mulai mengepaki barangnya, bersiap segera turun. Memastikan tidak ada yang ketinggalan.
Pun diriku, aku menjijing tas ranselku. Berat. Bersiap turun ganti Busway, arah grogol.
Cawang mulai padat dan ramai.. lamat-lamat  masih terdengar alunan musik penyanyi yang sedang naik daun itu..

Kemana kemana kemana ku harus mencari kemana
Kekasih tercinta tak tahu rimbanya
Lama tak datang ke rumah
Dimana dimana dimana tinggalnya sekarang dimana




3 komentar:

  1. Aku juga sering berpikir begitu mas...
    Jakarta membuat aku lebih bersyukur..
    Melihat bapak tua jualan kue semprong di jembatan depan kantor yang relatif sepi..mending gak lewat situ..

    BalasHapus
  2. Ra mentolo yo... ngelus dada...

    BalasHapus
  3. meski hasilnya gak jauh beda, tapi lebih berkah yang mana tu mas?

    BalasHapus