Kamis, 19 Januari 2012

Kisah Mamak : Bag ke-2

Malam mulai larut. Kukayuh si biru pada gigi 3-8. Gigi paling tinggi. Meninggalkan gedung 17 lantai, setinggi hampir 70 meter. Dua  tahun terakhir gedung mewah itu menjadi tempat kerjaku. Tepat pukul Sembilan malam.  Aku masih sempat melirik jam diding, saat menuntun si biru hendak pulang.
Si biru meliuk kesana-sini. Lincah melewati ruang yang tidak mungkin dilewati kendaraan lain. Sudah setahun terakhir si Biru menemaniku setiap hari. Mengimbangi perubahan badanku yang  mulai tak terkendali.
Udara jakarta mulai terasa dingin, angin malam kencang menerpa kaos mereh putihku. Mulai basah oleh keringat. Samar-samar rembulan muda mengintip di langit barat Jakarta yg berpolusi. Hanya sesekali terlihat diselingi gedung-gedung tinggi sekitar slipi jaya.
Jakarta memang selalu terjaga. Sepanjang jalan, keramaian seperti tidak hendak berubah. Hilir mudik kendaraan tak ada habisnya. Menyisakan asap knlapot yang menyesakan dada. Diiringi suara klakson ekstra keras. Pelampiasan stress hari ini. Entah karena pekerjaan, entah karena kemacetaan. Wajah-wajah letih jelas terlihat dikeremangan halte slipi jaya. Lelah menantang keras Jakarta. Ah esok pagi juga akan tetap seperti ini. Terus saja terjadi.
Segera kuparkir si Biru di tempat favorit sesampai di kosan. Kuletakkan  tas sekenanya. Kemudian turun ke ruang Tengah. Menyalakan kipas angin. Menonton acara TV sembarangan. Mendinginkan badan.
 Saat hendak mengambil minuman dingin. Kulihat Didik sedang termenung. Menghabiskan kunyahan terakhir makan malamnya. Tak biasanya ia begitu. Bukankah anak mamak yang satu ini selalu ramah? Selalu ceria?
“Mas, abis makan ko ngalamun?” aku bertanya sekenanya.
Yang ditanya hanya tersenyum. Tidak menjawab.
“Pokoknya aku ndak terima Yah.. !!!” tiba-tiba terdengar jeritan dari kamar. Suara mamak.
“Aku ndak terima yah, anaku diperlakukan begitu” makin keras.
“Anakku bukan maling.. anakku bukan pencuri..!!!” Tangis mamak pecah.
“Pokoknya mamak tidak terima..”  Sesenggukan kudengar mamak menangis. Menahan marah. Menahan kesedihan. Ngilu mendengarnya.
Tetap tidak ada jawaban dari bapak. Entah sudah tertidur. Entah pura-pura tidur. Tidak ada yang perlu dijawab.
kami berdua kaget. Tentu saja, Aku yang paling kaget.
Jantungku berdetak keras. Bingung dengan apa yang barusan kukatakan. Merasa sangat bersalah.
Kutarik tangan Didik. Berjalan menjauh.
“Ada apa mas?” pelan aku bertanya ingin tau. Gemetar menahan rasa.
“Apa om barusan salah ngomong mas?” Masih gemetar. Kawatir mamak mendengar percakapan kami.
Aku sungguh tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tak sabar mendengar penjelasan Didik. Sulung mamak.
“Ndak ada apa-apa om” Didik tetap diam. Enggan menjawab.
Aku terus mendesak. Makin penasaran.
“Biarin saja om, Mamak memang begitu” pelan didik menjawab. Seperti mengabaikan yang terjadi.
 Aku tetap tidak puas.
Tak mungkin aku bertanya kepada mamak. Beliau sedang emosi. Tak terima kesayangannya didzolimi.
Tak ridlo bujangnya difitnah.
Aku menyerah. Memilih masuk ke kamar penuh rasa gundah. Menahan rasa bersalah. Memilih tidur. Dan benar adanya. Aku tak nyenyak semalaman. Diganggu resah.
Pagi datang. Jakarta sedikit mendung. Semendung hati mamak semalaman.  
Kudekati mamak seusai sarapan. Wajahnya masih kuyu. Entah karena lelah, entah karena marah. Kedua mata mamak  bengkak. Sisa menangis semalam.
“Mak.. aku minta maaf” aku memulai pembicaraan.
“sungguh mak, saya ndak bermaksud menyinggung mamak” aku mengiba. Jelas-jelas aku bersalah. Tak perlu mencari pembelaan. Semakin cepat meminta maaf, semakin cepat urusan ini selesai.
“Mamak tidak marah sama Om” Mamak tersenyum. Lembut. Sedikit terganggu oleh lebam di mata.
“Sungguh.. mamak tidak marah denganmu om…”
“Mamak sakit hati sama pak haji sebelah” Mata mamak mendadak merah. Basah.
“Mamak tidak rela Didik dituduh mencuri HP pak Haji” Penuh emosi mamak menjawab.
“Mamak memang orang bodoh. Tidak sekolah..”
“Tapi pantang, buat mamak dan anak-anak berbuat hina seperti itu!!” gemetar suara mamak. Ada yang tertahan di sana.
“Semoga saja haji peot itu mendapatkan balasan setimpal !!” mamak mulai menyumpah.
“sudahlah mak…” pelan kau menyela. Tak tahan dengan perkataan mamak. Hari juga mulai siang. Harus segera berangkat.
“Cukup pak haji saja yang berbuat tidak terpuji, mamak tidak perlu menyumpah begitu.. Ndak baik, nanti pahalanya ilang mak..”  Aku mencoba menenangkan. Meski jelas, tidak akan berhasil.
 Mamak hanya mengangguk. Tapi kesedihannya masih belum hilang.
Aku pun berpamitan. Kugandeng si biru. Berangkat kerja.
Pelan si biru berjalan. Melewati sela-sela kemacetan Jakarta. Masih terlihat wajah-wajah lelah di halte pemberhentian. Entah sisa semalam. Entah sisa perjalanan. Entah juga bakal pekerjaan. Lelah yang akan terus berjalan. Menumpuk. Bertambah, seperti kendaraan di kota Jakarta.
Aku menatap jauh. Lurus seperti jalan protocol yang sedang kulewati. Merenungi kejadian semalaman.
Mengagumi kecintaan mamak kepada anaknya. Seperti semua ibu di seluruh dunia.
"Dan  jika  kau tahu sedikit saja apa yg telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang engkau tahu itu, sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta serta rasa sayangnya kepada kepadamu "







2 komentar:

  1. Ini fiksi/nyata? Bingung mbedainnya (terjebak nih dgn gaya Mas Naryo bercerita, hehe...). Yg om2 itu ngekos, tpi kok bareng sma pemilik kosannya? Itu gmana? Memang ada ya di tempat tinggalnya Mas?
    Terimakasih :)

    BalasHapus
  2. adalah.. om itu ya panggilan untuk aku.. bang indra pengin itu jadi fiksi atau nyata?

    BalasHapus