Minggu, 29 Januari 2012

"Kalung Emas Tiga Gram" (Ayang: Bag 2)

Sepagi ini, Jakarta sudah mulai panas. Udara terasa seperti mendidih. Seperti biasa, Jalanan Pulogadung-Bekasi seperti lumpuh. Tak maju tak mundur. Stag.  Pak polisi berompi hijau phosphor bergaris silang putih, tampak putus asa. Lelah mengatur lalu lintas. Lelah dengan pekerjaan. Lelah dengan kesemrawudan. Keringat di pelipisnya mengucur menganak sungai. Baju seragamnya mulai basah. Semakin coklat. Semakin berwarna gelap. 
Asap knalpot mengalir di sela-sela badan kendaraan. Membumbung tinggi ke udara. Kemudian tertahan di basah udara pagi. Membentuk awan rendah. Lengkap menutupi udara pagi yang mestinya segar menyehatkan. Berganti asap pekat nan menyesakkan. 
Bunyi Klakson kendaraan terdengar bersahutan. Balas membalas. Suara  kendaraan menderum naik turun. Kencang pelan. Menjaga mesin agar tidak mati.  Diselingi teriakan sopir angkot yang tak sabar menunggu. Rekan sopir yang lain tampak tenang menghalangi jalan kendaraan. Malang melintang. Santai dengan puntung rokok kretek yang tersisa separo. Masa bodoh. Bukankah setiap hari juga begini keadaanya. Tak lengkap kalau tidak macet.
Pun angkot yang saya tumpangi. Penuh sesak. Aroma keringat bercampur asap knalpot dan asap rokok. Bersenyawa menjadi satu. Tak terbayang busuk aromanya. Dadandan mba-mba di depanku kelihatan luntur. Baju setelan blazer hitam yang dikenakan mulai kucel. Sesak menahan napas dalam angkot berjubelan. Nampak putus asa. Wajah pucatnya tak bisa berdusta. Seputus asa penumpang lain.
Orang paling hebat di kendaraan ini adalah si sopir itu sendiri. Tangan kanan disandarkan ke pintu depan, yang kacanya entah sudah hilang kemana. Mungkin pecah saat serempetan. Meletakkan sikunya, sembari menikmati nikmat kretek yang tinggal separo. Menghembuskan asap putih memuakkan. Menyesaki kami yang berebut udara segar sedari tadi. Suara music “dangdutan” diputar keras,  dengan syair seronok. Diselingi anggukan sopir. Tampak menikmati. Menggenapi penderitaan kami. Setiap pagi.
Seorang ibu di pojokan kanan tampak sangat gelisah. Di pangkuan si ibu. –entah cucu entah bungsunya- Seorang gadis kecil nampak lebih gelisah. Umurnya belumlah 7 tahun. Sebentar –sebentar mengelus anak rambutnya yang terus terurai.  Basah oleh keringat. Menggunakan baju terusan merah kas koko-cici. Bukankah ini tahun baru cina. Rambutnya dikepang dua. Diselipi jepitan bunga warna merah. Dicocokan dengan baju dan sepatunya yang berwarna merah.
Bocah kecil berbaju merah, berkepang dua itu, -sempurna sudah- mengingatkanku pada ayangku. Membawaku kembali pada ingatan sore itu. Sore di depan rumah. Di atas “lincak”, saat berdua dengannya. Kebiasaan kami saat aku pulang.   
Dengan ayangku.
“Mamas.. aku mau sekolah di al khikmah.” Bungsuku bicara
“Biar pinter, seperti mas Aan”
“Biar pinter kaya mba kika”
Mas Aan dan Mba kika, mereka sepupuku.  Anak-anak bulikku dari ibu. Setahunan ini mereka sekolah di sana. Di TKIT Alkhikmah. Sekolah terpadu yang mulai digandrungi. Bukankah sekarang sekolah Islam terpadu sedang “In”. Lagi naik daun. Mulai familiar dikalangan ibu-ibu muda. Sebagian bimbang menyekolahkan kesayangan mereka. Dan sekolah Islam terpadu pun menjadi pilihan utama.
Ah.. bukankah bungsuku itu perempuan satu-satunya setelah ibuku. Paling cantik diantara kami bersepuluh. Ia lahir saat kuliahku genap semester enam. Saat perlahan takdir ini semakin terlihat terang benderang. Saat angan ini segera menjadi kenyataan. Sungguh tak terasa. Tahun ini ia akan genap enam tahun. Waktunya  sekolah. Seperti anak kebanyakan.
 “Oh ya?” Kujawab serius. Ingin tahu.
Dijawab pertanyaanku dengan anggukan. Anggukan  mantap. Penuh keyakinan.
Aku memutar otak. Bagaimana membiyayainya nanti. Uang pendaftaran, SPP, seragam. Masih sulit aku bayangkan. Gajiku sungguh sangat pas-pasan. Aku bahkan belum genap setahun bekerja. Aku masih anak bawang di kantor. Anak kemarin sore. Belum layak dihargai banyak.
Ayangku memang sensitive. Tak perlu banyak berbicara. Seakan dia sudah tahu jawabanku. Seolah dia paham benar yang sedang aku pikirkan.
Ayangku menatap tajam. Mengucapkan sesuatu. Sesuatu yang sungguh tak terduga.
“Mamas..”
“Kalo mamas tidak punya duit..”
“kalung Ajeng dijual saja..”
“Buat ndaftar sekolah”
“Ndak papa mas…”
“Nanti kalo mamas sudah punya duit, janji ya diganti?”
Aku hanya bengong. Diam melongo. Mendengarkan kata-kata ayangku barusan.
Bagaimana mungkin Ayangku berkata seperti itu. Bagaimana mungkin? Bukankah umurnya belum genap enam tahun. Kok bisa?
Aku tetap tidak percaya dengan apa yang diucapkan barusan.
Aku memang sering terheran dengan ayangku. Entah karena dia perempuan. Atau aku belum paham dengan para perempuan. Aku memang lebih terbiasa dengan adik laki-laki. Ceroboh. Terus terang. Bengal. “Pecicilan” tentunya. Tidak perlu banyak perlakuan khusus. Ayang memang lain sendiri. Lain dalam banyak hal. Istimewa. –tentu tanpa mengurangi kenyataan, bahwa ayang memang anak kesayangan di keluarga, perempuan stu-satunya diantara 10 bersaudara, anak terakhir pula-.
“Bagaimana mamas?”
“Boleh ya?” menelisik, menunggu jawabanku.
Aku masih belum menjawab. Bukankah itu kalung kesayanganmu yang. Itu hadiah dari simbokmu 4 tahun yang lalu. Saat engkau lancar berjalan. Saat kata-kata sudah jelas keluar dari bibirmu.
Memang itu hanya kalung emas tiga gram. Simbok menunggu lama agar bisa tergatung di sana. Menunggu giliran arisan ibu-ibu. Tiga tahun sudah. Simbok dapat giliran terakhir. Semua uang arisan dihadiahkan untukmu. Untuk kalung tiga gram yang melingkar di lehermu. Hanya rantai kalung tipis. Menyesuaikan berat emas. Lengkunganya kecil, agar  melingkar sempurna di leher kecilmu. Di tengahnya ada liontin bulat. Inginnya bisa berbentuk huruf “A”. “Ajeng”. Tapi uang simbok hanya mampu membeli kalung kecil dengan liontin bulat sebagai hiasan. Mungkin lain kali. Kalau uangnya cukup.
“Iya…”
“Boleh..”
Ayangku terlihat bahagaia. Mata bulatnya berbinar. Senyumnya mengembang. 
“Tapi janji ya..”
“Harus belajar yang rajin..”
Dijawab pertanyaanku dengan anggukan.
 JANJI.
“Memangnya ayang mau jadi apa kalau besar nanti?”
“Mau jadi dokter mas”
“Berarti harus belajar yang rajin banget ya?”
“Iya mas..”
“Janji ya mas.. kalungku diganti”
“Ganti yang baru.. “
“ Yang lebih bagus, kaya punya mba Uni, sama Mba Putri”
Aku hanya mengangguk. Mengiyakan saja. Tanpa tahu entah kapan bisa membelinya.
……………………………………….
Aku terjaga. Kebali dikeramaian Jakarta. Klakson super kencang menyalak dari sebuah truk tronton di belakang angkot. Super besar. Super memekakkan telinga. Sukses mengagetkan kami semua. Membangunkan kami dari lamunan. Dan kemacetan sukses  membuat kami terbang ke dunia lain. Terbang ke dunia angan-angan. Terbang ke kenangan masa lalu. Kemacetan pula yang sukses menyadarkan kami semua. Kami tidak kemana-mana. Tak beranjak dari kacau jalanan. Tak beringsut dari keras kehidupan Jakarta.
Gadis kecil berkepang dua, berbaju merah membuka mata. Masih dipangkuan. Celingukan menatap inangnya.  Kaget. Terbangun tiba-tiba. Lelapnya hilang  karena suara klakson barusan. Ditatap wanita setengah baya yang memangkunya. Wanita itu hanya menggeleng. “Tidak ada apa-apa, semua baik-baik saja”. Diraihnya sapu tangan di tas kecil. Diusap dahi gadis kecilnya yang terus basah oleh keringat. Kemudian mengangguk pelan. “Kita segera sampai nak, bersabarlah sebentar”.
 Aku ikut mengangguk. Menatap mata bulat gadis berkepang dua, berbaju merah. Meyakinkan ayangku.
“Yang..  semua baik-baik saja.”
“Tenanglah.. kalung emas tiga gram itu akan terbeli”
“Belajarlah sebaik-baiknya”
“Sekolah setinggi-tingginya”
“Mamas akan berusaha”
“Mamas akan membelikan untukmu..”
“Kalung emas yang pernah mamas janjikan”
“Untuk kembali  menemanimu”
”Mmenjemput masa depanmu”
“Masa depan yang sudah engkau bayar dengan mahal”
“Dengan kalung emas tiga gram yang melingkar dilehermu”

   

2 komentar: