Selasa, 31 Januari 2012

Pagi Putih, Di Kamar Putih

Kring.. kring.. kring…
Telepon berbunyi.  Mang Ujo  terbangun. Melirik jam tangan. Masih pukul dua malam. Enggan ia beranjak dari tempat tidur. Kepalanya serasa berputar. Langkahnya terhuyung. Berpegangan dinding putih. Mencari keseimbangan. Belum genap dua jam mang ujo memejamkan mata. Ngatuk bercampur lelah.  Mang Ujo  meraih gagang telepon.
“Hallo…??” suara mang Ujo serak. Tenggorokannya  sakit.
“Mang, ini Rini mang..” suara di ujung sana terdengar panik.
“Mang.. Bapak mang…” semakin panik.
“Iya.. Bapak kenapa?”   seketika kantuk mang Ujo Ikut hilang. Sedikit panik.
“Bapak masuk ruang ICU  mang..” suara perawat pribadi itu semakin cepat.
“Buruan ke rumah sakit…”
Mang Ujo tak menjawab. Segera ditutup telepon. Menyambar kunci mobil di gantungan. Kemudian meluncur ke rumah sakit. Sudah sebulan ini, pak burhan di rawat di rumah sakit. Komplikasi.
Mang Ujo adalah sopir, sekaligus asisten pribadi Pak Burhan. Kemanapun pak Burhan pergi, Mang Ujo selalu di bawa. Sudah lebih dari dua puluh tahun mang ujo bekerja. Menjaga tradisi keluarga. Mengabdi kepada keluarga pak Burhan. Mengabdi sampai tua. Sebagai orang terdekat, Mang Ujo hafal betul majikannya. Dan selalu bersiap jika hari-hari seperti ini datang. Hari-hari ketika pak Burhan sendiri. Menjemput datangnya janji-janji.   

0000000000

Di tempat lain. Di rumah kontrakan petak tiga. Jauh dari rumah pak burhan.
“Mas..”
“Bangun mas…” suara Dinda tersedak. Memegangi perut. Menahan sakit.
“kenapa” Indra masih setengah tertidur
“Perutku melilit, sakit banget mas.. ”
“Mungkin sudah waktunya..”
Indra tersentak dari tidurnya.  Melirik jam tangan. Masih pukul dua malam. ia beranjak dari tempat tidur. Kepalanya serasa berputar. Langkahnya terhuyung. Berpegangan dinding putih. Mencari keseimbangan. Belum genap dua jam Indra memejamkan mata.  Sudah semingguan ini ia tidak  tidur nyenyak. Ini sudah ketiga kalinya, Dinda mengeluh sakit. Melilit. Malam-malam seperti ini. Kali  ini lain. Usia kandungan dinda genap Sembilan bulan sepuluh hari. Waktunya melahirkan.
Dan hari ini, genap dua tahun. Indra meninggalkan rumah besar itu. Membawa cita-cita dan idealismenya pergi. Menjemput janjinya sendiri. Janji kehidupan yang lebih baik. Meninggalkan semua kenyamanan yang telah sejak lama ia nikmati.
Segera ia menggedor kontrakan bang Ucok. Tukang bajai sebelah kontrakan. Meminta segera bangun.  Sengaja ia meminta bang Ucok memarkir bajaj butut itu dekat kontrakan. Bersiap jika hari-hari seperti ini datang. Hari-hari ketika Dinda siap melahirkan.
“Bang.. Bang Ucok, bangun bang..”
“Bang.. buruan bang..”
“Ayo bang lekas.. sepertinya Dinda benar-benar akan melahirkan..” Indra  panik.
Bang Ucok bersungut-sungut. Menguap lebar. Kaget dibangunkan tiba-tiba. Bang Ucok adalah tetangga kontrakan yang sangat baik. Ringan tangan untuk semua kebaikan.  Ia tinggal bersama istri dan seorang anak. Ia sopir bajaj yang cekatan. Jujur. Dan taat beragama. Ia memilih meninggalkan penumpang demi shalat lima waktu. Ia sering menasehati Indra dan Dinda. Agar menjadi keluarga yang sakinah. Menjaga keharmonisan keluarga sampai tua.
Sementara bang Ucok memanasi bajaj. Indra memapah dinda yang kesakitan. Disambarnya apa saja dibalai. Meski sudah disiapkan seminggguan. Tetap saja keliru. Sandal keliru sepatu, koper keliru ransel. Bukankah memang sering begitu. Cerita bang Ucok saat menjelang kelahiran anaknya terulang.  Ketukar sana sini. Tak berapa lama, bajai  berangkat. Berisik suara bajaj memecah keheningan malam. Bang Ucok menyetir bak kesetanan.  Membawa Dinda yang kesakitan. Membawa Indra yang panik tidak karuan.

0000000000

Bajaj bang Ucok masuk ke portal rumah sakit. Tepat di belakang sebuah mobil bagus, keluaran terbaru sebuah merk mobil ternama buatan negeri matahari. Bajaj bang ucok amat kontras dengan  mobil di depan. Ya suara. ya penampilan.
Persamaanya, kedua penumpang kendaraan itu terburu-buru. Tak sabar masuk ke rumah sakit. Hanya tempat ini yang terdekat. Dinda harus segera mendapat pertolongan. Segera melahirkan. Urusan bayaran, peduli nanti.
Perawat segera memindahkan dinda dari bajaj ke atas lori. Membawanya menuju ruang persalinan. Dinda Nampak semakin kesakitan. Mengerang. Kelojotan kesana kemari. Baju Dinda basah. Basah oleh keringat, basah oleh air ketuban yang sudah pecah.
Indra  duduk di koridor. Lemas. Berusaha menahan diri agar tidak jatuh pingsan. Bang Ucok  duduk disebelah Indra.  Memijat tangan indra, agar tetap terjaga. Mulutnya komat kamit mengucapkan doa. Mendoakan Indra, Mendoakan dinda. Percuma bicara dengan indra. Indra sedang tidak tenang. Bukankah dahulu, saat istrinya melahirkan, ia lebih parah. Pingsan beberapa kali.

00000000

Rumah sakit Nampak sepi. Suara binatang malam bersahutan. Lolongan anjing terdengar  di kejauhan. Pelan,  memilukan. Bangunan berlantai lima itu memang megah. Seluruh ruangan di cat putih. Menandakan kebersihan. Sesekali para petugas medis melintas di koridor. Lelah, namun tetap cekatan. Tetap saja ini  rumah sakit, semegah apapun tetap menyeramkan.
Seseorang tampak berjalan terburu-buru. Langkah kakinya tidak teratur. Sedikit limbung. Celingukan. Seperti mencari-cari sesuatu. Ia sekarang sudah di depan Indra. Seorang lelaki tua.
“Maaf den.. Numpang Tanya..?”
Indra malas menjawab. Hatinya sedang galau. Perasaanya sedang tidak karuan. Mata Indra  nampak berbeda. Memperhatikan dengan seksama. Menyelidik. Seperti mengenalnya.
“Ya..?”
“Kalau ruang ICU di mana ya?” Lelaki  itu kembali bertanya.
Indra tidak menjawab. Tangan kanannya hanya menunjuk ke papan di ujung koridor.
ICU
RADIOLOGI
RUANG MAWAR
ADMINISTRASI
“Yang ke arah kanan ya den?”
Indra  Mengangguk. Mengiyakan. Tak menjawab. Sesuatu sedang perputar-putar di kepalanya.
Lelaki itu beranjak pergi. Dua langkah berjalan. Kemudian terhenti. Membalikkan badan. Dua pasang mata itu bertemu. Berpandangan lama.
“Mang U.. jo..?” Indra terbata.
“Den Indra?” 
“Den Indra kemana saja?”
“Mamang sudah nyari Den Indra kesana-kemari tidak ketemu.”
“Malah ketemu di sini” Mang Ujo berkaca-kaca.
“Aku baik-baik saja mang..”
“Sehat seperti mamang lihat”
“yang sakit siapa mang?” Indra bertanya pelan. Khawatir.
“Kenapa mamang ada di sini?”
“Bapak sakit den?”
“Sekarang di ICU”
Wajah Indra berubah. Pucat berubah merah. Ada kebencian. Ada kemarahan yang tertahan. Mang Ujo hanya menatap Indra prihatin. Bang Ucok masih di samping Indra. Sempat tertidur sebentar. Bengong. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

00000000

“Memang apa yang selama ini ada di perutmu?”
“Darah yang mengalir di tubuhmu”
“Kesenangan yang kamu rasakan selama ini? Hah?”
“Motor, Hp, laptop, dan semua buku-buku tebalmu?”
“Memang uang kuliahmu yang mahal  di dapat dari mana?”
“Ya…”
“Semua hasil dari korupsi bapakmu”
“Bertahun-tahun bapak jadi pegawai”
“Mustahil bisa mendapatkan semua ini jika tidak korupsi”
Pak Burhan diam sebentar, rahangnya geretak. Menahan amarah. Yang diajak bicara hanya diam. Diam mematung. Menegak marah. Tak mau kalah.
“kalau kau tidak suka, kau boleh pergi”
“Pergi dari rumah ini…!!”
“Pergi sekarang juga…!!”
“kamu bukan anakku lagi…”  
Kemarahan pak Burhan mencapai puncak. Buntut keributan siang tadi.  Indra bersama teman sekampus mendatangi kantor Dekan. Meminta kejelasan alokasi penggunaan anggaran pendidikan di kampus indra. Dan yang di demo adalah pak Burhan, dekan sekaligus ayah Indra. Demo berakhir rusuh. Dua teman indra terluka di kepala. Yang lain terancam DO. Termasuk Indra, sebagai  koordinator.
“Baik…” Mata Indra berkaca-kaca.
“Indra akan pergi dari rumah ini..”
“Akan Indra buktikan…”
“Kalau Indra bisa mandiri..”
“Tidak makan hasil Korupsi…”
“Indra tak akan pulang.. sebelum Indra berhasil.”  Mantap indra bersumpah. Suaranya parau. Menahan tangis.
Sungguh, engkau akan menangis saat teramat sedih. Engkau akan menangis saat teramat bahagia. Engkau akan menangis saat terlalu marah. Saat tak mampu berbuat apa-apa.
Malam itu Indra memilih pergi. Dengan tas ransel di punggung dan kaos oblong menempel di badan.  Tak bisa dicegah. Pak Burhan kalap. Ia membanting vas bunga hingga hancur berkeping-keping. Menghancurkan kaca lemari kaca. Menyerakkan semua piagam dan piala penghargaan di dalamnya. Mang Ujo hanya  diam ujung ruangan. Menggigil ketakutan.  Menyaksikan pemandangan menyeramkan.

00000000

Seorang perempuan berbaju putih berjalan cepat. Setengah berlari. Terengah. Rupanya Rini. Perawat pribadi Pak Burhan. Sejak ditinggal istrinya pergi ia menolak menikah lagi. Membesarkan Indra seorang diri. Sejak Indra pergi dari rumah, ia sendiri.  Kemudian  mulai sakit-sakitan. Ia memilih menyewa perawat pribadi. Dan sebulan ini sakit pak Burhan bertambah parah. Ia terjatuh saat hendak berangkat ke tempat kerja.
Indra tersadar dari lamunan. Kedua matanya sembab.  Indra tak berani masuk ke ruang bersalin.  Tak tega melihat dinda kesakitan. Memilih menunggu di luar.
Belum juga jelas kabar dinda, Ada kabar lain. Ayahnya sekarang di rumah sakit. Di ICU.
Perempuan itu langsung mendekati mang Ujo. Menarik-narik tangan tuanya.
“Mang..!!”
“Tolong cepat mang…”
“Mamang segera ke ICU.. Bapak Kejang-kejang”
Yang diajak bicara terkejut. Wajahnya memucat.
“Rini… tetap di ruangan bapak!!” cekatan mang Ujo memerintah.
“Mamang akan memanggil dokter..!!” Mengabaikan Indra dan bang Ucok  mematung di sebelahnya.
Rini langsung berbalik. Berjalan cepat. Setengah berlari. Kemudian terhuyung kemudian.  Kaki kanannya menabrak tong sampah di ujung lorong koridor. Mengaduh menahan sakit.
Lama menimbang. Indra memutuskan mengikuti Rini. Sampai di depan Ruang ICU, Indra menolak masuk. Berdiri di depan ruangan. Gelisah. Mondar mandir. Memikirkan Dinda di ruang bersalin. Memikirkan pak Burhan di ruang ICU.

00000000

Beberapa saat kemudian. Mang ujo datang, beriringan bersama rombongan dokter dan perawat. Menggunakan setelan putih-putih. Berjalan cepat. Kemudian masuk ke ruangan. Mang Ujo menatap Indra di depan pintu. Urung masuk ke ruangan. Memegang pundak Indra. Mengajak duduk di bangku koridor. Indra tak bergeming.
“Sejak den Indra meninggalkan rumah”
“Pak Burhan selalu murung”
“Setiap hari hanya merenung”
“Sering berteriak-teriak sendiri…”
“Lebih sering minum-minum..”
“Pernah tidur di ruang depan..”
“Mamang sedih.. tidak tega melihatnya.. “
Suara mang Ujo berhenti. Matanya mengabut. Suaranya tercekat. Tak kuat melanjutkan.
Indra terdiam. Menggeleng. Rasa sakitnya belum hilang. Amarahnya belum reda.
“Den Indra… Mamang sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini”
“Anak dan istri mamang sudah lama meninggal.”
“Meninggal karena kesalahan mamang sendiri, kecelakaan saat mamang menyetir sembarangan.”
“Mamang sangat menyesal”
Berhenti lagi. Mang Ujo mengambil sapu tangan di saku. Mengusap matanya yang basah.
“Hanya den Indra dan pak Burhan keluarga mamang sekarang”
“Kalau pak burhan dan den indra pergi, mamang tidak punya siapa-siapa lagi”
Berhenti lagi.
  “Sungguh, Mamang tidak mengharap balas budi den Indra.”
“Biarlah keikhlasan mamang selama ini rusak”
“Tolong den,  Mamang mohon !!”
“Demi semua yang sudah mamang lakukan untuk keluarga pak Burhan, temuilah pak burhan untuk terakhir kalinya.” Mang Ujo tergugu. Gemetar memeluk lutut Indra. Indra tetap mematung  tak  bergerak.
Bang Ucok berjalan tergopoh. Nafasnya senen kemis. Diikuti seorang perawat ruang bersalin. Menunjuk-nunjuk kea rah Indra. Pandangan Indra langsung mengarah ke bang Ucok.  Matanya nanar. “Ada apa lagi ini?”
“Apa betul anda Bapak Indra, Suami Ibu Dinda?” perawat langsung bertanya.
“Betul Suster.. Kenapa istri saya” sudah tak terbayang seperti apa wajah indra.
“Istri bapak kesulitan melahirkan. Bayinya terlalu besar. Kata dokter harus segera di operasi.” Tegas, cepat, tapi menusuk dada.
Indra langsung lemas. Terjatuh di tempat duduk.
“Suster.. lakukan yang terbaik untuk istri saya.”
“Saya ingin istri dan anak saya selamat.”
Suster hanya mengangguk. Kemudian meninggalkan meraka. Berjalan cepat. Dinda harus segera di Operasi. Kondisinya kritis.
Indra menatap wajah tua mang Ujo. Terlihat amat putus asa. Lelah. Kenapa juga semuanya datang dengan sangat tiba-tiba.
“Mang.. ayo kita tengok bapak.”
Dibalas anggukan mang Ujo.
Saat membuka pintu. Ada dokter yang ada di sana bersiap keluar juga. Memandang tajam Indra dan mang Ujo. Mengangguk pelan.  Sudah saatnya.
Ruangan ICU ini sempurna berwarna putih. Penuh dengan alat-alat canggih. Pak burhan  tergolek lemah di tempat tidur. Penuh belalai  perlatan pembantu. Terlihat lebih segar.  Secara ajaib, pak Burhan kembali sadar. Namun tanda-tanda kehidupannya menurun drastis. 
Dua orang yang terpisah lama itu akhirnya bertemu. Ayah dan anak. Demi melihat Indra di dekatnya, pak Burhan melirik ke arah Rini. Segera Rini memperbaiki  posisi pak Burhan. Dua sungai kecil meleleh di pelupuk mata. Ingginnya memeluk Indra. Namun bergerakpun tak bisa. Hanya mampu menatapi jagoan kecilnya.
Indra segera memeluk pak Burhan. Terbenam di baju putih penuh selang. Menangis sesenggukan.
“Ayah.. maafkan Indra yah..”
“Indra sungguh tak berbakti, Indra sudah durhaka kepada ayah..”
Pak Burhan tak juga bergerak. Tangan kirinya sekuat tenaga ia gerakan. Tepat jatuh di atas kepala Indra. Air matanya makin deras. Tersungging senyum. Diikuti tarikan nafas panjang. Kemudian terlepas.  Meninggalkan Indra yang makin keras menangis. Meninggalkan man Ujo yang terpengkur di pojok ruangan. Meninggalkan kamar putih penuh peralatan.
Di ruangan lain. Di dekat koridor panjang. Tangis bayi memecah keheningan. Operasi berjalan baik. Bayi laki-laki Indra lahir. Sempurna bentuk rupa. Suster dan dokter bernafas lega. Dinda belum siuman. Wajahnya terlihat lega. Kelahiran anaknya sempurna.
Rumah sakit masih sepi. Langit timur nampak memerah. Suara jangkrik mulai hilang, digantikan kokok ayam di kejauhan. Sayup terdengar adzan subuh. Mengantar kepergian pak Burhan, Menyambut kehadiran bayi Indra.

  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar