Minggu, 02 September 2012

Cerita Perjalanan Umroh: Hari Pertama


Aku bagai komet di alam raya. Dalam ruang antar bintang. Di kegelapan sempurna. Kecil namun terasa. Pelan tapi pasti. Kekuatan itu menarikku ke pusat tata surya.  Dan semakin lama kekuatan grafitasi itu semakin kuat. Menuntunku bersama ribuan komet dan batu-batu dilangit mengunjungi tata surya. Dalam sebuah gerakan melengkung beraturan sangat panjang yang hampir-hampir lurus. Saatnya kami bergerak menuju ke titik perihelium, titik terdekat. Tak seorangpun dari kami akan tahu, apakah kami akan kembali dalam kebersihan,  dimana dosa-dasa dan keburukan kami akan terlelehkan olah pancaran matahari. Atau kami akan hilang sempurna bersama panas matahari, sebelum sempat singgah di sekelilinganya. Atau juga tesesat jatuh di salah satu planet nun jauh di depan sana. Menjadi meteorit. Menjadi seonggok batu mati. Tanpa guna. Tanpa daya.

Aku tak punya penggambaran yang lebih nyata selain menjadi sebagian kecil alam semesta, sebuah komet di tata surya. Yah.. ini perjalanan umroh pertamaku. Perjalanan mengunjungi tempat terindah di bumi. Tempat setiap muslim menghadapkan wajahnya ketika shalat. Tempat kami menghadapkan wajah di pembaringan terakhir di liang lahat. Apapun madzhab, golongan, sempalan, paham, komunitas dan apapun yang mengaku islam. Kami semua sepakat. Ka’bah adalah tempat kami semua seharusnya menghadap.

Ka’bah di Masjidl Kharom


Sesiapapun muslim di dunia ini, selalau merindukan saat-saat perjumpaan dengan Ka’bah di tengah kota mekkah. Begitupun diriku, aku merindukan berjumpaan dengan ka’bah sejak bertahun-tahun lalu. Rasa rindu untuk mengunjungi rumah suci, Baitulloh. Rasa rindu ingin menapaktilasi perjalanan para kekasih kebaggaan Alloh. Rasa kangen, untuk ikut merasakan perjuangan para nabi. Dan, Perasaan itu semakin menguat setelah sebuah kartu pos bergambar itu engkau kirimkan kepadaku beberapa tahun lalu. Kemudian, -perlahan namun pasti- terus terpupuk bersama janji-janji itu. Janji-janji mulia akan pemahaman kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Dan setelah kejadian-kejadian itu,setelah beberapa hal yang –karena ketidaktahuanku- akhirnya aku memahami bahwa rencana Alloh memang sunguh luar biasa. Seakan-akan aku lupa, Bahwa sekehendak Alloh memperlakukan kehidupan kita. Selalu ada alasan kenapa hidup kita begini atau begitu. Hari ini aku baru memahaminya, Alloh menginginkanku mengunjungi rumah-Nya terlebih dahulu. Tepat di depan pintunya, tempat dikabulkannya segala doa-doa.

Sepuluh ribu meter kini aku berada, sepuluh ribu kilo meter jarakku dari mekkah. Tenang di atas bangku empuk pesawat Saudi Air lines. Aku tak paham persis tipe-tipe pesawat terbang. Pesawat itu sungguh besar. Ruang penumpangnya saja cukup untuk bermain futsal tiga tim sekaligus. Sepuluh bangku berjejer di setiap barisnya. Dengan dua koridor memisahkan untuk hilir mudik para pramugari dan petugas yang berjaga. Untuk lalu lalang penumpang saat naik atau turun. Ataupun saat hendak buang hajat di belakang sana.

Setelah keributan pagi itu, kami pun berangkat juga. Semua sembilan belas orang dalam satu rombongan. Sepuluh orang adalah keluarga bapak Ali, seorang kaya raya keturunan Yaman, beliau menolak disebut keturunan arab. Padahal dilihat dari mana saja, ia tetap orang arab. Kenapa? Aku baru paham setelah pulang dari perjalanan ini. Kuceritakan nanti. Empat orang keluarga bapak Candra, beliau membawa istri dan 2 saudaranya berangkat serta. Pasangan serasi bapak dan ibu Ishak. Dua petugas Travel yang cantik-cantik, Icha dan Windy. Yang terakhir ya diriku sendiri. aku menyebutkan terakhir, lha karena datangnya paling terakhir.

Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan. kami tiba di jeddah. Waktu di bandara menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Jam di hapeku sudah menunjuk pukul setengah empat pagi. Bandara Jeddah adalah bandara kecil. Kami turun di lapangan terbang. Menuruni empat meteran tangga pesawat. Kemudian dijemput bis petugas bandara menuju terminal keberangkatan. Untuk mengambil miqot, niat umroh. Untuk mengurus surat-surat imigrasi.

Sampai di terminal imigrasi keributan kembali terjadi. Keluarga pak Ali ada-ada saja acaranya. Selesai ribut dengan istri anak-anak, sepupu dan keponakan-keponakannya. Kembali meributkan petugas. Yang diributkan malah ndak merasa berdosa. Ndak merasa salah. Seenaknya mereka melayani kita. Satu cap untuk satu atau dua petugas. Sehingga pelayanan menjadi lebih lama. Belum lagi disambi nelpon sana sini. Bercanda tiada henti. Entahlah, mungkin style mereka seperti itu. Berprasangka baik saja. Bukankah saat ikhrom, kita tidak boleh marah-marah, memaki-maki, berdepat sana sini. Dalam Ikhrom kita kembali, putih bersih seperti bayi. Bersih di pakaian, bersih di hati.

Setelah dua jam yang menguras tenaga dan kesabaran. Kami melanjutkan perjalanan. Dari dalam bis aku menyaksikan ribut-ribut diluar sana. Kelihatannya juragan potter barang-barang sedang rame berdebat dengan petugas travel. Ribut dengan upah yang tidak sesuai. Ribut dengan perlakuan petugas yang mengacuhkan diri. Jarak Jeddah-Mekkah tak terlalu jauh, butuh waktu sekitar satu setengah jam perjalanan menggunakan bis dengan kecepatan rata-rata seratusan km/jam. Seratus lima puluhan kilo meter. Jangan di bayangkan jalanan di Arab seperti di Indonesia, yang banyak perempatan dan rumah penduduk, termasuk warung kaki lima di kanan kiri jalan. Di arab hanya ada batu dan pasir, kecuali di dalam kota. Ada perumahan dan sedikit taman-taman, selebihnya batu dan gunung batu.

Waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Kami berhenti tepat di depan hotel Haneen. Hotel kecil bintang 2 atau 3 ya? Aku tak peduli, Yang penting, aku sudah sampai di mekkah. selama enam hari kedepan kami akan menginap di sana. Sementara keluarga pak Ali menginap di hotel seberang. Jalanan memang macet, Kendaraan di mana-mana. Klakson tiada henti. Lalu lalang, tak mau mengalah. Jalanan juga penuh dengan jamaah yang hendak ke masjid. Padahal subuh masih satu jamman lagi.

Demi melihat jamaah yang bergegas ke masjid, aku tak sabaran juga untuk ikut pergi. Kusegerakan berbenah diri. Menyiram badan dengan air hangat. Agar badan segar kembali. Sebenarnya tidak dianjurkan, takut ada bulu yang rontok. Dendanya lumayan. Satu bulu kita, entah rambut entah bulu badan yang lain, seekor kambing. Betul ndak ustad? Pukul empat kami berkumpul di lobi. Sembilan orang berkumpul di temani seorang ustad muda, bernama Ustad Andi. Setelah semua berkumpul, kami langsung berangkat menuju masjid. Masjidil Kharom.

Keluar dari hotel kami disambut angin mekkah yang panas. Berasa di depan api unggun. Yah, kalau digambarkan suasananya seperti di depan api unggun seperti jaman pramuka dulu. Tak terbayangkan di siang harinya. Lha jam 4 pagi saja panas begitu, apalagi siangnya. Secara geografis, Mekkah memang berada di bumi bagian utara. Di bulan juli seperti sekarang ini, posisi matahari sedang berada di utara equator. Berarti lagi panas-panasnya. Keringnya kondisi mekkah menambah panas dan menyiksanya iklim di sana. Setelah dicek diberita TV, suhu rata-rata di arab saudi, termasuk mekkah berkisar antara 39 sampai dengan 44 derajat celcius.  Tak terbayang seperti apa kondisinya 4000 tahun yang lalu. Saat nabi Ibrohim AS meninggalkan istri dan anaknya di tanah bakkah. Menuruti perintah Alloh. Sedangkan kita di indonesia, yang luar biasa nyaman, masih sering kurang menerima. Kurang ridlo dengan segala macam kelimpahan rejeki yang kita terima, termasuk cuaca dan keadaan alamnya.

Lokasi masjid tak seberapa jauh dari hotel kami, tak sampai tujuh menit berjalan kaki. Kami memasuki masjid melewati pintu Malik Fahd. Salah satu raja saudi. Atau pintu 79. Kami lebih senang menyebutnya pintu kuning. Karena di dalam sana tertulis plang berwarna kuning. Memang sebagian pintu masjid punya nama. Sebagian menggunakan nama raja arab. Sebagian menggunakan nama yang lain, seperti pintu umr, pintu billal, adalagi yang dinamai pintu mayt, karena pintu itu dipakai untuk keluar masuk jenazah saat akan di sholatkan. Oh ya, hampir setiap selesai sholat selalu ada shalat jenazah. Jadi jkalau teman-teman berkesempatan berziarah ke sana, ikutlah sholat jenazah. Insyalloh akan sangat berguna.

Pelayanan pemerintah saudi di masjidil kharom harus diacungi jempol. Secara umum kondsi masjidil Karom  sangat bersih dan rapi, lengkap dengan eskalator hingga kita tak perlu berjalan kaki kalau ingin menuju lantai atas. Meski di luar panas luar biasa, di masjid berasa sangat nyaman, ada puluhan kipas angin yang terus berputar, ada puluhan diffuser yang terus mengalirkan udara dingin yang memanjakan jamaah. Tempat wudlu dan toilet juga bersih. Bagaimana tidak, ada ratusan petugas yang senantiasa bekerja di sana yang stndby setiap waktu. Ada yang memberikan kantorng plastik untuk sandal,untuk kita simpan sendiri. Ada yang menyapu, ngepel, serta mengganti air zam-zam setiap waktu agar bisa dinikmati setiap hari.

Sesampai di masjid, iqomat sudah berkumandang. Ustad Andi memilihkan kami tempat untuk sholat subuh. Jamaah pria di sebelah kanan, di sebelah kiri jamaah putri. Kami di batasi koridor tempat orang berlalu lalang, dua puluh meter dari pintu masuk. Berdekatan dengan gentong-gentong berisi air zam-zam. Entahlah, aku berasa aneh, perasaan ini bercampur-campur. Berasa sadar, berasa mimpi. Tak bisa aku mengerti. Mengapa jadi begini?

Selesai shalat, Ustad Andi mengumpulkan kami, mengomando kami untuk memulai thowaf. Aku tak terlalu mendengarkan. Aku semakin tak berkonsentrasi. Gelisah luar biasa. Tak sabar ingin bertemu dengan ka’bah. Tak sabar untuk melihat bangunan itu.

Kami pun berjalan beriringan, terus masuk ke Masjidil kharom. Saat ka’bah terlihat di depan mataku, tangisku pecah. Yang terjadi-terjadilah. Air mataku meleleh begitu saja. Dadaku terasa amat penuh, ingin meledak. Nafasku sesak. Tenggorokanku tercekat. Agak lama aku sesenggukan.

Kawan, Jikalau engkau melihat ka’bah untuk pertama kali. Engkau pun akan terharu. Engkau akan menagis. Rasanya seperti seorang anak yang terpisah dengan ibunya setelah sekian lama. Tak sabar ingin menangis dipangguanya. Rasanya seperti seorang ibu yang terpisah dari buah hatinya. Tak sabar ingin merengkuhnya. Tak sabar ingin memeluknya erat.     

Komet itu pun meleleh jua. Terbakar oleh pesona pusat jagat raya. Mengikis semua kotoran yang membeku dalam kegelapan. Membuka kembali inti komet yang lama tak mendapatkan cahaya. Agar saat kembali nanti penuh dengan cahaya. Meski kecil tak terlihat, tak jadi mengapa.

Aku berdoa, semoga air mata ini pun membawa pula dosa-dosa yang selama ini kuperbuat. Besar atau pun kecil. Disengaja ataupun tidak. Semoga Alloh membersihkan hatiku dari segala kekotoran. Seperti matahari mengikis semua kotoran beku di permukaan komet itu. Semoga Alloh senantiasa memberikan hidayah kepadaku, seperti matahari yang senantiasa menyinari bumi. Semoga Alloh senantiasa menunjukkan bahwa yang baik adalah baik, dan diberikan kekuatan untuk mengerjakannya. Serta menunjukkan bahwa yang buruk adalah buruk, dan diberikan kekuatan untuk meninggalkannya. Semoga, aku yang sangat kecil ini, dengan segala kecilnya hal-hal yang kuperbuat bisa menjadi jalan bagi sebanyak-banyaknya orang agar bisa melakukan kebaikan, agar hidup dalam kehidupan yang membaikkan.   

Istirahat di Bukit Marwa setelah tahalul pada umroh pertama

2 komentar: