Sabtu, 22 September 2012

Catatan perjalanan Umroh: Keajaiban-keajaiban


Sebenarnya, usai shalat duhur  aku  tak ingin buru-buru pulang ke hotel.  Ada shofa marwa yang belum aku datangi. Tempat-tempat istijabah tak boleh aku lewatkan begitu saja. Inginnya puas-puasin di masjidil kharom, tetapi panitia juga harus dihormati. Ada makan siang yang menunggu di hotal. Tak enak sudah disiapkan sedari tadi. Siang kemarin, kami dapat komplen karena pulang ke sorean. Keasikan di masjid, sampai lupa ditungguin panitia.

Baiklah, waktunya pulang dulu ke hotel. Nanti juga bisa mbalik lagi ke masjid. Aku pun bergegas. Berjalan cepat. Melewati tangga babul maut, Aku melirik jam besar di menara zam-zam,  Pukul 13.25.  Menerobos lantai towaf berwarna putih bersih. Udara di dalam masjid terasa panas, namun lantai granit itu terasa amat dingin. Seputih hati ini Engkau telah bersihakan, sedingin pikiran ini saat duduk termangu memandangi  rumah-Mu.  aku memilih lewat depan maqom ibrohim. Sebuah bangunan kecil di dekat pintu ka’bah  berupa sebuah batu dengan cerukan bekas dua kaki nabi ibrohim. Inginnya bisa towaf lagi. Kakiku berjalan ke arah babul malik Fahd, tapi kedua mataku tak juga berpaling dari ka’bah. Sebentar ya, aku mau makan dulu. Nanti aku akan datang lagi. Gumamku pada ka’bah.

Maqom Ibrohim-Tempat berpijaknya nabi Ibrohim AS saat membangun ka’bah

Perjalan panas sepanjang masjid ke hotel cukup menyiksa. Cuaca Mekkah bulan-bulan ini memang sedang tidak bersahabat. Panas menyengat. Perjalanan 5 menit pun terasa sangat lama. Panas 43 derajat celcius sering kali dihembusi angin gurun yang panas juga. Berasa di depan perapian saja. Sepanjang kanan kiri jalan nampak pembangunan sedang giat-giatnya. Banyak hotel-hotel bintang tiga nampak dikosongkan. Diruntuhkan. Di sisi lain bangunan-bangunan baru nampak mulai berdiri kokoh. Sebagian bangunan perluasan masjid, sebagian lagi untuk membangun hotel baru yang lebih tinggi, yang lebih megah lagi. 

Angin dingin menyambutku saat membuka pintu hotel. Lobi hotel nampak rame. Ternyata bapak dan ibu ishak juga ada di sana. Mereka sedang nampak bedebat, bersitegang dengan petugas hotel. Ternyata kunci hotel pak ishak tidak ada di loker penitipan. Bapak ishak merasa belum membawa kunci, sementara petugas hotel kekeh sudah ada yang mengambil kunci kamar beliau. Tak mau ribut lebih lama,  solusi di cari. Sudahlah, yang penting kamar bisa dibuka dahulu. Petugas hotel akhirnya mau membuka pintu kamar dengan kunci cadangan, namun menolak memberikan kunci cadangan kepada mereka. Jadilah keributan kecil terjadi. Ibu terlihat marah, hendak mengejar petugas. Sedikit memaki. Aku mengejarnya, memegang pundak ibu, menenangkan, meminta beliau beristighfar.
“Kita di tanah harom ibu, jangan marah.”
“Sudahlah, nanti juga kuncinya ketemu”
Ibu  terdiam. Lirih beristighfar. Wajah kesalnya belum juga hilang.
Tiba-tiba bapak berhamdalah.
“Kuncinya sudah ketemu mas”
“masyAlloh, Saya ndak tau, tiba-tiba ada di kantong baju”
“Saya yakin belum mengambilnya, tadi kantong saya kosong”
“Sekarang tau-tau sudah ada di sini”
Aku lega, bapak lega. Ibu masih diam. Jengkelnya berubah jadi malu. Menyesal sudah marah-marah.
Selesai urusan kunci, aku kembali ke kamarku. Istirahat sebentar, kemudian bersiap kembali ke masjid.
Itulah “Keajaiban pertama”.

Selesai sholat asar aku menyempatkan towaf. Selepas asar adalah waktu yang pas untuk towaf, Selain waktu dhuha. Udara tidak terlalu panas. Masjid juga belum terlalu ramai. Para jamaah biasanya datang satu setengah  jam sebelum maghrib, sekitar pukul setengah 6 sore. Sekarang ini masih jam 4 sore. Towaf selesai, aku berdoa  di belakang maqom ibrohim.  Sembari menunggu maghrib aku iseng berjalan-jalan di masjid. Ingin menikmati masjid di sepanjang sudutnya. Di sebuah sudut masjid aku melihat sekumulan arab badui sedang berkumpul, sibuk membagi kurma ke wadah-wadah. Kurma kecil berwarna kuning kecoklatan, seukuran jempol tangan orang dewasa. Sepertinya enak, pikirku. Coba bisa merasakannya. Aku terus berjalan, berkeliling, sambil berharap bisa mencicipi buah kurma. Baru sepuluh langkah berjalan, ada kerumunan, seorang pria arab sedang sibuk membagikan korma kepada jamaah. MasyaAlloh, belum juga doa itu diucapkan, sekarang korma itu sudah di depan mata. Aku menerima pemberian itu dengan senang hati. Aku diberi tahu ustad, bahwa kita tak boleh menolak pemberian di masjidil kharom. Nanti hilang berkahnya, katanya.

Lelah berkeliling, aku berhenti di arah malik fahd, masih di lantai putih area towaf  dekat keran zam-zam. Hari  semakin sore, jamaah semakin banyak, berdesakkan di sana-sini. Macet di setiap pintu masuk.
Aku duduk bersila, di samping kiriku seorang turki sedang sibuk membaca. Di sebelah kanan, mungkin orang pakistan atau bangladesh, sorbannya terlihat khas. Menunggu maghrib, aku membuka mushaf yang sedari tadi aku baca, masih ada beberapa lembar lagi, untuk satu jus target hari ini. Tiba-tiba seorang bocah kecil seumuran 8 tahunan berdiri di depanku. Menyodorkan sewadah kecil buah korma. MasyaAlloh, bukankah itu kurma yang tadi. Korma kuning kecoklatan yang aku inginkan. Aku mengambil beberapa buah. Cukup untuk sekedar mencicipi, cukup untuk tau rasanya.
Dan aku memutuskan sebagai “Keajaiban kedua”.
Sebenarnya masih ada banyak keajaiban yang lain. Mungkin banyak untuk diceritakan.

Bocah-bocah seperti ini yang memberikan kurma kuning kecoklatan untukkku


Maha Suci Alloh yang mempahalai ribuan kali lipat pahala orang-orang yang beribadah di masjidil kharom.  Tanah itu adalah tempat tinggal orang-orang pilihan Alloh. Tempat yang didoakan para nabi pilihan Alloh. Jauh hari sebelum berangkat, aku berharap Alloh mempahalai ibadah kita sama seperti mempahalai orang-orang yang beribadah di masjidil kharom. Biarlah itu hadist nabi, tapi jakalau Alloh mau? Kenapa tidak? Dan setelah pulang pun. Aku berharap begitu, bukan agar orang-orang tidak perlu menziarahi rumah-Nya. Akan tetapi agar semua orang yang karena memang keterbatasannya, tidak bisa mengunjungi ka’bah bisa tetap  meminta sekhusu’ itu kepada-Mu.

Sering kali kita mendengar cerita-cerita dari orang-orang yang pergi ke sana, - haji entah umroh- selalu membawa cerita yang berbeda-beda. Katanya perbuatan kita di tanah air langsung di balas di sana. Katanya begitu berdoa langsung dikabulkan di sana. Katanya ini katanya begitu. Semua tentang yang ajaib-ajaib.
Menurutku statemen ini benar adanya, bukankah Alloh berfirman dalam Al Qur’an.
“Ud’uni astajiblakum”
“Berdoalah niscahya akan Aku kabulkan.”

Kita sering kali lupa dengan ayat ini. Alloh menyuruh kita berdoa, agar Ia mengabulkan doa-doa yang kita inginkan. Lalu kenapa –seperti- ada perbedaan antara ketika di tanah kharom dengan di tanah air? Tentu saja jelas berbeda. Tanah kharom adalah tanah yang diberkahi. Tanah yang didoakan oleh nabi ibrohim, kekasih Alloh. Sedangkan kita di tanah yang entah berantah?

Apabila kita amati,  di luar berita-berita kurang menenangkan yang kita dengar, secara umum orang-orang di arab begitu taat beribadah. Begitu adzan berkumandang di masjid, semua kegiatan berhenti. Toko-toko tutup. Tak ada aktivitas selain sholat. Bahkan setelah iqomat, towafpun berhenti. Semua orang berhidmat kepada Alloh. Menyembah kepada-Nya. Pun demikian juga, saat kita berada di masjidil kharom atau masjid nabawi pada kususnya. Sesiapapun  yang pernah kesana tentunya merasakan sesuatu yang berbeda. Secara umum, Kita jadi lebih  rajin beribadah –tentunya dengan bandingan dari di tanah air-. Sholat tepat waktu. Tadarus. Rajin bersedekah. Berkelakuan baik. Tidak menggunjing. Tidak bertengkar. Tidak melakukan hal-hal tercela. Bukankah sedari awal niat kita adalah untuk beribadah. Bukan untuk berbelanja. Apalagi untuk membanggakan diri kepada tetangga.

Diakui atau tidak,  hal-hal baik yang kita lakukan, tentu akan mempengaruhi hati dan pikiran. Saat kita berbuat baik. Kita jadi berasa lebih tenang. Berasa sejuk. Betapapun panasnya udara Mekkah, tetap berasa nyaman di badan dan pikiran. Saat hati dan pikiran kita merasa tenang, maka kita menjadi lebih sensitif. Menjadi lebih peka terhadap hal-hal yang terjadi disekeliling kita. Tentang hal-hal yang terasa menyenangkan atau menyedihkan. Bahwa, apapun yang menimpa diri kita, senantiasa kita hadapi dengan lapang dada. Semua adalah  bukti kasih sayang Alloh. Tidak ada penyesalan, tidak ada keluhan. Susah atau pun senang tetap menjadi anugerah yang harus disukuri dan dijalani dengan sepenuh hati.

Saat kita pulang ke tanah air, semestinya kebeningan hati selama di mekkah juga harus turut di bawa serta. Tak ditinggal begitu saja. Alloh senantiasa mengabulkan doa-doa kita. Selalu ada keajaiban sebagaimana yang dialami saat berada di tanah harom. Hanya saja sifat iri, dengki, hasut  sering menghalangi mata hati kita untuk melihat besarnya karunia Alloh. Kebanggaan akan pengalaman kita, membuat kita menjadi takabur. Tinggi hati, dan merendahkan orang lain.

Sungguh, Tidak ada yang salah dengan doa-doa kita. Alloh akan tetap mengabulkan doa-doa kita di manapun kita berada. Ya di tanah harom, ya di tanah air. Bisa jadi, Yang tidak pas adalah isi doa-doa kita, dan  ketidaksabaran kita    menunggu terkabulnya doa-doa kita dikabulkan segera.

Maka
Saat Alloh mengabulkan doamu, Ia ingin menguji imanmu..
Saat Alloh tak –jua- mengabulkan doamu, Ia meminta kesabaranmu...
Saat Alloh mengabulkan yang bukan doamu, yakinlah Ia telah menganugerahkan yang terbaik untukmu...  

Minggu, 02 September 2012

Cerita Perjalanan Umroh: Hari Pertama


Aku bagai komet di alam raya. Dalam ruang antar bintang. Di kegelapan sempurna. Kecil namun terasa. Pelan tapi pasti. Kekuatan itu menarikku ke pusat tata surya.  Dan semakin lama kekuatan grafitasi itu semakin kuat. Menuntunku bersama ribuan komet dan batu-batu dilangit mengunjungi tata surya. Dalam sebuah gerakan melengkung beraturan sangat panjang yang hampir-hampir lurus. Saatnya kami bergerak menuju ke titik perihelium, titik terdekat. Tak seorangpun dari kami akan tahu, apakah kami akan kembali dalam kebersihan,  dimana dosa-dasa dan keburukan kami akan terlelehkan olah pancaran matahari. Atau kami akan hilang sempurna bersama panas matahari, sebelum sempat singgah di sekelilinganya. Atau juga tesesat jatuh di salah satu planet nun jauh di depan sana. Menjadi meteorit. Menjadi seonggok batu mati. Tanpa guna. Tanpa daya.

Aku tak punya penggambaran yang lebih nyata selain menjadi sebagian kecil alam semesta, sebuah komet di tata surya. Yah.. ini perjalanan umroh pertamaku. Perjalanan mengunjungi tempat terindah di bumi. Tempat setiap muslim menghadapkan wajahnya ketika shalat. Tempat kami menghadapkan wajah di pembaringan terakhir di liang lahat. Apapun madzhab, golongan, sempalan, paham, komunitas dan apapun yang mengaku islam. Kami semua sepakat. Ka’bah adalah tempat kami semua seharusnya menghadap.

Ka’bah di Masjidl Kharom


Sesiapapun muslim di dunia ini, selalau merindukan saat-saat perjumpaan dengan Ka’bah di tengah kota mekkah. Begitupun diriku, aku merindukan berjumpaan dengan ka’bah sejak bertahun-tahun lalu. Rasa rindu untuk mengunjungi rumah suci, Baitulloh. Rasa rindu ingin menapaktilasi perjalanan para kekasih kebaggaan Alloh. Rasa kangen, untuk ikut merasakan perjuangan para nabi. Dan, Perasaan itu semakin menguat setelah sebuah kartu pos bergambar itu engkau kirimkan kepadaku beberapa tahun lalu. Kemudian, -perlahan namun pasti- terus terpupuk bersama janji-janji itu. Janji-janji mulia akan pemahaman kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Dan setelah kejadian-kejadian itu,setelah beberapa hal yang –karena ketidaktahuanku- akhirnya aku memahami bahwa rencana Alloh memang sunguh luar biasa. Seakan-akan aku lupa, Bahwa sekehendak Alloh memperlakukan kehidupan kita. Selalu ada alasan kenapa hidup kita begini atau begitu. Hari ini aku baru memahaminya, Alloh menginginkanku mengunjungi rumah-Nya terlebih dahulu. Tepat di depan pintunya, tempat dikabulkannya segala doa-doa.

Sepuluh ribu meter kini aku berada, sepuluh ribu kilo meter jarakku dari mekkah. Tenang di atas bangku empuk pesawat Saudi Air lines. Aku tak paham persis tipe-tipe pesawat terbang. Pesawat itu sungguh besar. Ruang penumpangnya saja cukup untuk bermain futsal tiga tim sekaligus. Sepuluh bangku berjejer di setiap barisnya. Dengan dua koridor memisahkan untuk hilir mudik para pramugari dan petugas yang berjaga. Untuk lalu lalang penumpang saat naik atau turun. Ataupun saat hendak buang hajat di belakang sana.

Setelah keributan pagi itu, kami pun berangkat juga. Semua sembilan belas orang dalam satu rombongan. Sepuluh orang adalah keluarga bapak Ali, seorang kaya raya keturunan Yaman, beliau menolak disebut keturunan arab. Padahal dilihat dari mana saja, ia tetap orang arab. Kenapa? Aku baru paham setelah pulang dari perjalanan ini. Kuceritakan nanti. Empat orang keluarga bapak Candra, beliau membawa istri dan 2 saudaranya berangkat serta. Pasangan serasi bapak dan ibu Ishak. Dua petugas Travel yang cantik-cantik, Icha dan Windy. Yang terakhir ya diriku sendiri. aku menyebutkan terakhir, lha karena datangnya paling terakhir.

Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan. kami tiba di jeddah. Waktu di bandara menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Jam di hapeku sudah menunjuk pukul setengah empat pagi. Bandara Jeddah adalah bandara kecil. Kami turun di lapangan terbang. Menuruni empat meteran tangga pesawat. Kemudian dijemput bis petugas bandara menuju terminal keberangkatan. Untuk mengambil miqot, niat umroh. Untuk mengurus surat-surat imigrasi.

Sampai di terminal imigrasi keributan kembali terjadi. Keluarga pak Ali ada-ada saja acaranya. Selesai ribut dengan istri anak-anak, sepupu dan keponakan-keponakannya. Kembali meributkan petugas. Yang diributkan malah ndak merasa berdosa. Ndak merasa salah. Seenaknya mereka melayani kita. Satu cap untuk satu atau dua petugas. Sehingga pelayanan menjadi lebih lama. Belum lagi disambi nelpon sana sini. Bercanda tiada henti. Entahlah, mungkin style mereka seperti itu. Berprasangka baik saja. Bukankah saat ikhrom, kita tidak boleh marah-marah, memaki-maki, berdepat sana sini. Dalam Ikhrom kita kembali, putih bersih seperti bayi. Bersih di pakaian, bersih di hati.

Setelah dua jam yang menguras tenaga dan kesabaran. Kami melanjutkan perjalanan. Dari dalam bis aku menyaksikan ribut-ribut diluar sana. Kelihatannya juragan potter barang-barang sedang rame berdebat dengan petugas travel. Ribut dengan upah yang tidak sesuai. Ribut dengan perlakuan petugas yang mengacuhkan diri. Jarak Jeddah-Mekkah tak terlalu jauh, butuh waktu sekitar satu setengah jam perjalanan menggunakan bis dengan kecepatan rata-rata seratusan km/jam. Seratus lima puluhan kilo meter. Jangan di bayangkan jalanan di Arab seperti di Indonesia, yang banyak perempatan dan rumah penduduk, termasuk warung kaki lima di kanan kiri jalan. Di arab hanya ada batu dan pasir, kecuali di dalam kota. Ada perumahan dan sedikit taman-taman, selebihnya batu dan gunung batu.

Waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Kami berhenti tepat di depan hotel Haneen. Hotel kecil bintang 2 atau 3 ya? Aku tak peduli, Yang penting, aku sudah sampai di mekkah. selama enam hari kedepan kami akan menginap di sana. Sementara keluarga pak Ali menginap di hotel seberang. Jalanan memang macet, Kendaraan di mana-mana. Klakson tiada henti. Lalu lalang, tak mau mengalah. Jalanan juga penuh dengan jamaah yang hendak ke masjid. Padahal subuh masih satu jamman lagi.

Demi melihat jamaah yang bergegas ke masjid, aku tak sabaran juga untuk ikut pergi. Kusegerakan berbenah diri. Menyiram badan dengan air hangat. Agar badan segar kembali. Sebenarnya tidak dianjurkan, takut ada bulu yang rontok. Dendanya lumayan. Satu bulu kita, entah rambut entah bulu badan yang lain, seekor kambing. Betul ndak ustad? Pukul empat kami berkumpul di lobi. Sembilan orang berkumpul di temani seorang ustad muda, bernama Ustad Andi. Setelah semua berkumpul, kami langsung berangkat menuju masjid. Masjidil Kharom.

Keluar dari hotel kami disambut angin mekkah yang panas. Berasa di depan api unggun. Yah, kalau digambarkan suasananya seperti di depan api unggun seperti jaman pramuka dulu. Tak terbayangkan di siang harinya. Lha jam 4 pagi saja panas begitu, apalagi siangnya. Secara geografis, Mekkah memang berada di bumi bagian utara. Di bulan juli seperti sekarang ini, posisi matahari sedang berada di utara equator. Berarti lagi panas-panasnya. Keringnya kondisi mekkah menambah panas dan menyiksanya iklim di sana. Setelah dicek diberita TV, suhu rata-rata di arab saudi, termasuk mekkah berkisar antara 39 sampai dengan 44 derajat celcius.  Tak terbayang seperti apa kondisinya 4000 tahun yang lalu. Saat nabi Ibrohim AS meninggalkan istri dan anaknya di tanah bakkah. Menuruti perintah Alloh. Sedangkan kita di indonesia, yang luar biasa nyaman, masih sering kurang menerima. Kurang ridlo dengan segala macam kelimpahan rejeki yang kita terima, termasuk cuaca dan keadaan alamnya.

Lokasi masjid tak seberapa jauh dari hotel kami, tak sampai tujuh menit berjalan kaki. Kami memasuki masjid melewati pintu Malik Fahd. Salah satu raja saudi. Atau pintu 79. Kami lebih senang menyebutnya pintu kuning. Karena di dalam sana tertulis plang berwarna kuning. Memang sebagian pintu masjid punya nama. Sebagian menggunakan nama raja arab. Sebagian menggunakan nama yang lain, seperti pintu umr, pintu billal, adalagi yang dinamai pintu mayt, karena pintu itu dipakai untuk keluar masuk jenazah saat akan di sholatkan. Oh ya, hampir setiap selesai sholat selalu ada shalat jenazah. Jadi jkalau teman-teman berkesempatan berziarah ke sana, ikutlah sholat jenazah. Insyalloh akan sangat berguna.

Pelayanan pemerintah saudi di masjidil kharom harus diacungi jempol. Secara umum kondsi masjidil Karom  sangat bersih dan rapi, lengkap dengan eskalator hingga kita tak perlu berjalan kaki kalau ingin menuju lantai atas. Meski di luar panas luar biasa, di masjid berasa sangat nyaman, ada puluhan kipas angin yang terus berputar, ada puluhan diffuser yang terus mengalirkan udara dingin yang memanjakan jamaah. Tempat wudlu dan toilet juga bersih. Bagaimana tidak, ada ratusan petugas yang senantiasa bekerja di sana yang stndby setiap waktu. Ada yang memberikan kantorng plastik untuk sandal,untuk kita simpan sendiri. Ada yang menyapu, ngepel, serta mengganti air zam-zam setiap waktu agar bisa dinikmati setiap hari.

Sesampai di masjid, iqomat sudah berkumandang. Ustad Andi memilihkan kami tempat untuk sholat subuh. Jamaah pria di sebelah kanan, di sebelah kiri jamaah putri. Kami di batasi koridor tempat orang berlalu lalang, dua puluh meter dari pintu masuk. Berdekatan dengan gentong-gentong berisi air zam-zam. Entahlah, aku berasa aneh, perasaan ini bercampur-campur. Berasa sadar, berasa mimpi. Tak bisa aku mengerti. Mengapa jadi begini?

Selesai shalat, Ustad Andi mengumpulkan kami, mengomando kami untuk memulai thowaf. Aku tak terlalu mendengarkan. Aku semakin tak berkonsentrasi. Gelisah luar biasa. Tak sabar ingin bertemu dengan ka’bah. Tak sabar untuk melihat bangunan itu.

Kami pun berjalan beriringan, terus masuk ke Masjidil kharom. Saat ka’bah terlihat di depan mataku, tangisku pecah. Yang terjadi-terjadilah. Air mataku meleleh begitu saja. Dadaku terasa amat penuh, ingin meledak. Nafasku sesak. Tenggorokanku tercekat. Agak lama aku sesenggukan.

Kawan, Jikalau engkau melihat ka’bah untuk pertama kali. Engkau pun akan terharu. Engkau akan menagis. Rasanya seperti seorang anak yang terpisah dengan ibunya setelah sekian lama. Tak sabar ingin menangis dipangguanya. Rasanya seperti seorang ibu yang terpisah dari buah hatinya. Tak sabar ingin merengkuhnya. Tak sabar ingin memeluknya erat.     

Komet itu pun meleleh jua. Terbakar oleh pesona pusat jagat raya. Mengikis semua kotoran yang membeku dalam kegelapan. Membuka kembali inti komet yang lama tak mendapatkan cahaya. Agar saat kembali nanti penuh dengan cahaya. Meski kecil tak terlihat, tak jadi mengapa.

Aku berdoa, semoga air mata ini pun membawa pula dosa-dosa yang selama ini kuperbuat. Besar atau pun kecil. Disengaja ataupun tidak. Semoga Alloh membersihkan hatiku dari segala kekotoran. Seperti matahari mengikis semua kotoran beku di permukaan komet itu. Semoga Alloh senantiasa memberikan hidayah kepadaku, seperti matahari yang senantiasa menyinari bumi. Semoga Alloh senantiasa menunjukkan bahwa yang baik adalah baik, dan diberikan kekuatan untuk mengerjakannya. Serta menunjukkan bahwa yang buruk adalah buruk, dan diberikan kekuatan untuk meninggalkannya. Semoga, aku yang sangat kecil ini, dengan segala kecilnya hal-hal yang kuperbuat bisa menjadi jalan bagi sebanyak-banyaknya orang agar bisa melakukan kebaikan, agar hidup dalam kehidupan yang membaikkan.   

Istirahat di Bukit Marwa setelah tahalul pada umroh pertama

Jumat, 10 Agustus 2012

Catatan Perjalanan Ziarah: Bapak Ishak


Aku mengintip sela jendela pesawat, tepat di sisi  Icha duduk. Jendela berupa dinding transparan seukuran 30 x 20 cm, dengan kaca super tebal dan kuat untuk menjaga perbedaan tekanan dan temperatur di luar dan dalam pesawat.  Tak terbuka penuh,  terhalang sayap pesawat, namun masih cukup jelas untuk melihat suasana di luar sana. Ribuan  meter di atas bumi, ribuan kilo meter ke tempat aku seharusnya kembali. Dari sini langit sungguh kelihatan sangat indah, bersih tak terhalang awan. Icha terlihat menengok ke arah jendela. Mungkin sedang menikmati hal yang sama. Windy dan ibu masih terlelap di sebelahnya. Sepertinya kelelahan juga.

Aku juga kelelahan. Sungguh, ini rasa lelah tak tertahankan. Lelah fisik, lelah perasaan. Lelah karena hampir dua minggu nyaris kurang tidur dan istirahat, plus suasana musim panas yang ekstrim. Lelah manahan harap agar bisa kembali ke tanah suci itu. Perjalanan menuju Baitulloh memang terasa sangat panjang. Rasa rindu, penasaran tercampur menjadi satu. Tak sabar rasanya ingin segera bertemu. Bersua dengan tempat yang paling mulia di seluruh dunia. Pun demikian perjalanan pulang. Rindu ini semakin terpupuk. Dan rasa lelah karena menahan rindu sungguh tak tertahankan. Perjalanan kembali pun menjadi teka-teki. Apakah suatu saat nanti aku bisa mengunjungi rumah-Mu lagi? Insya Alloh.   

Seperti rombongan yang lain aku nyaris tak terbangun dari tidurku di sepanjang perjalanan, kecuali saat panggilan alam datang. Dan saat pramugari menawarkan makanan. Hingga saat kejadian itu tiba-tiba datang.
Sesaat setelah pilot mengumumkan bahwa kami akan segera mendarat. Penumpang di depanku seperti terlempar dari tempat duduknya. Aku kaget luar biasa. Tanpa babibu bapak Ishak lompat dari tempat duduknya, lari ke arah toilet sambil memegang perut. Dari raut wajahnya, aku melihat ekspresi kesakitan. Ia seperti menahan sesuatu. Padahal sesuai prosedur, kami harus duduk tenang di bangku, dengan seatbelt terpasang sempurna. Kontan pramugari di belakang kami menahan pak Ishak. Dalam posisi landing, kami dilarang melakukan aktivitas apapun, selain duduk manis di kursi penumpang.

 Lama pak Ishak berada di toilet pesawat. Ada lebih dari dua puluh menit. Aku mulai merasa kawatir. Sejak berangkat di Soekarno-Hatta, aku mengiringi pasangan serasi itu. Membuntuti mereka kemana pergi. Aku reflek membawakan tas-tas mereka berdua, selama perjalanan ini. Belakangan aku tau bahwa tas-tas itu berisi beras dan rice cooker untuk memasak di sana. Bukan tanpa alasan. Ibu Ishak punya diabetes, selain obat ia harus masak sendiri makananya. Dengan beras kusus tanpa gula tentunya. Aku senang saja saat di kira anak mereka. Setidaknya, bisa mengobati rasa rinduku setelah 3 bulan tak bersua. Sangat bahagia menjadi anak –anakan- bapak dan ibu Ishak. Biar gampang mbacanya aku panggil mereka bapak dan ibu saja ya? Setuju lah.

Waktu menunjukkan pukul setengah empat sore waktu singapura, jam di HP ku masih menunjukkan pukul setengah sebelas. Berarti pukul setengah tiga waktu jakarta. Perjalanan yang panjang. Kami take off pukul 23.00 waktu jeddah. Berarti sekitar hampir 12 an jam. Aku menuntun bapak sepanjang lorong pendaratan. –aku tak tahu nama tepatnya-. Sementara tas mereka berdua aku titipkan Icha dan Windy. Sepanjang perjalanan kami relatif tepat waktu. Seperti yang dijanjikan tulisan di bandara Jeddah. Tak terlambat lima menitpun. Berbeda dengan bis-bis antar kota yang aku tumpangi, sering ngaret ndak jelas. Sebagiannya karena macet. Sebagiannya karena sopir pengin menghemat solar. Jadi ndak perlu ngebut-ngebut. Seperti semboyan paling populer. “Biar lambat asal selamat”. Eh “Biar lambat asal telat”. Tak terbayang jika pesawat kami telat dengan kondisi bapak  seperti sekarang ini.


Bersama bapak Ishak dan lainya di bukit Marwa saat umroh I

Masuk di bandara changi kami langsung dijemput dua orang petugas berparas india dengan aksen melayu yang khas. kadang-kadang berbahasa inggris, kadang-kadang melayu. “campur-campur hey”. Sementara yang lain mengobrol, Aku mencari tempat  duduk. Lengan pak Ishak terasa basah dan hangat. Keringat di dahi bercucuran. Bukankah ini ruang ber-AC yang super dingin? Rasa sakitnya makin tak tertahankan. Sepertinya bliau sudah tidak kuat lagi berjalan. Aku mengajak bapak duduk di kursi tunggu, tak menghiraukan arahan petugas berwajah india beraksen melayu itu. Sementara ibu panik mencari obat, bapak menahan sakit, aku gelisah. Gelisah dengan semua pikiran yang berkecamuk dipikiranku. Kupikir sudah cukup perjalan berangkat saja yang membuatku super tegang, ternyata perjalanan pulang terasa jauh lebih menegangkan.

Aku mendorong kursi roda dengan bapak penumpangnya. Tak menuju ke area tiket transit, aku menuju toilet. Penyakit Prostat bapak kambuh, semalam bliau lupa minum obat. ditambah juga efek dari semua kelelahan selama umroh. Trus penyakit prostat itu apa? Aku tak begitu memahaminya, taunya ya ada gangguan saat buang air seni. Sering kebelet “pipis”. Dan rasanya sakit luar biasa. Lebih jelasnya tanya dokter saja ya, ane ndak paham. 

Suka tidak suka, aku harus mengacungi jempol fasilitas bandara changi. Selain keran-keran minum yang menyegarkan, lantai karpet super tebal, toilet bersih terawat, ada juga toilet kusus untuk orang sakit atau orang cacat. Ada juga ruangan kusus untuk menyusui.

Aku tak pernah tahu rasa yang lebih sakit dari pada dua malam tak tidur menahan sakitnya kencing batu beberapa waktu yang lalu. Sepertinya rasa sakit bapak sungguh sakit. Betapa ini tempat yang super dingin, keringat tak berhenti mengucur. Aku tak bisa berbuat banyak, selain berjalan mondar mandir di koridor. Sesekali mengintip bapak dan bertanya?

“Sudah belum pak?”
“Bagaimana keluar ndak?”  
Dijawab dengan erangangan. Selebihnya diam.

Selesai dari toilet, kami menuju mushola. Sudah waktu ashar. Jama’ takhir dengan duhur. Jama’ qosor. Kita rada buru-buru. Ya buru-buru ngejar pesawat. Ya buru-buru ingin segera ke toilet lagi. Sholat subuh kami kerjakan di pesawat. Berta’yamum. Sambil duduk,lengkap dengan isyarat ruku dan sujud. Bapak mengikuti saranku, sholat sambil duduk. Selesai sholat, Bapak khusuk berdo’a. Ibu mengintip dari tirai shof perempuan. Ingin tau kondisi bapak. Aku memperhatikan mereka dari jauh. Ini toh yang namanya pasangan serasi? Seperti ini toh, keluarga sakinah? Semoga saja aku bisa.

Usai sholat kami meluncur ke tempat transit. Aku lupa belum menyerahkan pasportku. Ikut panik mengurusi bapak tadi. Pesawat baru berangkat pukul 18.00 waktu singapure. Berarti masih satu setengah jam lagi. Ibu Nevi dan yang lain duduk-duduk di kursi ruang tunggu. Sesekali pak Ali dan pak Candra mencoba ngobrol dengan bapak.  Memberikan saran ini itu.  Bapak menjawabnya dengan anggukan dan gelengan saja. Kemudian mengajakku kembali. Balik lagi ke toilet.

Aku meminta petugas bandara membantu mempermudah urusan bapak dan ibu. Di layani dengan seorang petugas, berikut selembar surat pernyataan. Intinya, kalau terjadi apa-apa sama bapak maka pihak bandara maupun maskapai penerbangan tidak bertanggung jawab. Tidak bisa dituntut. Setelah berdiskusi dengan pak candra selaku kepala rombongan, surat tersebut aku isi untuk kemudian ditandatangani bapak. Pak Ali masih kelihatan emosional. Belum juga reda dari keributan di madinah dan jeddah ditambah lagi masalah di Changi. Pesawat delay satu jam. Penerbangan mundur menjadi pukul 19.00. Aku urung menyerahkan surat itu kepada bapak. Ia nampak sangat kesakitan. Komat-kamit terus berdzikr. Ibu menangis. Aku semakin cemas. Yang lain  memandang kami prihatin.

Kami bertiga masuk ke pesawat garuda paling awal. Bersama-sama dengan ibu-ibu gemuk keturunan tionghoa –yang juga sakit-. Nampaknya selepas berobat di negeri singa putih itu. Di belakang kami menguntit  dua artis terkenal, duduk di kursi VIP. Siapa itu Nia zulkarnain sama suaminya Arie Sihasale. Bangganya itu saja, selebihnya adalah hal yang paling menegangkan selama perjalanan.

Suasana kabin lumayan crowded. Bener ndak nulisnya? Koridor yang sempit menyulitkan para penumpang berlalu lalang. Keluarga pak Ali terlihat amat ribet. Bertukar penumpang satu dengan yang lain. Rusuh mengatur sana sini. Aku duduk bertiga dengan bapak dan ibu. Sementara ibu disamping jendela, bapak ditengah, aku di pinggir kiri dekat koridor. Bukan tanpa tujuan, biar lebih mudah meminta bantuan petugas.
Pesawat berangsur take off. Ada sedikit kelegaan. Berharap segera sampai di tanah air dengan selamat. Aku terus menahan agar bapak  tak beranjak dari tempat duduknya. Rasa sakit memang mengalahkan banyak hal. Aku tak tahan saat bapak menahan keakitan kali ini. Ia nampak kejang-kejang. Mendelik ke sana kemari. Menggeliat kesana kemari. Keringat dingin muncul segede-gede  beras.  Dilepasnya pakaian bapak. Di kendorkan semua kancing dan ikatan sabuk. Ia sangat ingin ke toilet. Ibu terus menangis. Beristighfar. Kebingungan. Takut terjadi apa-apa.  Aku semakin gelisah. Bermacam pikiran terus berkecamuk. Hingga kemungkinan yang paling buruk.

Aku harus berfikir cepat. Kami bertiga duduk di kursi ekonomi barisan bangku ke-7. Barisan nomer tiga dari depan. Aku menengok ke belakang, ke arah toilet. Jarak toilet dengan tempat duduk kami sekitar lima belasan meter. Dengan jarak sejauh dan koridor sesempit ini , tidak mungkin menggandeng bapak ke toilet. Takkan terjangkau. Pesawat masih terus naik menuju zona terbang 10.000 feet. Sekitar 3050 meter di atas tanah. Berarti tak boleh ada aktivitas penumpang, selain duduk manis dengan seatbelt terpasang erat. Bapak semakin kesakitan, ibu semakin kebingungan.

Aku mengambil tissu sisa snack. Memberikan kepada ibu. Memintanya memasukan –maaf- ke celana bapak. Ia muhrimnya, jadi tak ada masalah. Yang terjadi terjadilah, Pikirku. Ibu buru-buru melakukan seperti yang kuperintahkan. Agak ragu, kikuk tapi tetap saja dilakukan. Bapak juga ragu, kesakitan, lampu masih menyala terang. Tapi bukankah sudah kukatakan kepadamu. Rasa sakit akan mengalahkan banyak hal. Aku merobek plastik tempat headset untuk menampung tisu sisa mengelap air seni bapak. Sebagian untuk mengelap keringat bapak yang terus bercucuran. Bapak terlihat sedikit lega, beristighfar. Lumayan. Dari yang sangat-sangat sakit, turun menjadi sangat sakit.



Bersama bapak saat perjalanan Mekkah-madinah

Hampir satu jam perjalanan, pilot pesawat memberikan pengumuman. Pengumuman baik dan pengumuman buruk. Pengumuman baiknya kita sudah sampai di tanah air. Pengumuman buruknya, pesawat akan berputar-putar selama 20 menit menunggu antrian. Bandara soekarno-hatta sedang ramai. Lalu lintas sedang padat. Aku beristighfar pelan. Bapak terdiam. Ibu sudah tak menangis. Sibuk mengantongi tissu-tissu tadi. Sudah terkumpul dua bungkus. Bungkusan yang besar. Semoga semua baik-baik saja.

Setelah 20 menit berputar-putar, akhirnya pesawat landing juga. Semua merasa lega. Termasuk bapak dan ibu. Lirih aku mendengar bapak mengucap hamdalah. Masih dengan mata tertutup. Menahan sakit. Pesawat tak turun di tempat semestinya, kami turun di lapangan. Jadilah kami harus menuruni tangga pesawat setinggi lima meteran. Bagi kalian yang sehat, mungkin takkan jadi masalah. Namun bagi bapak yang menahan sakit. Itu  luar biasa berat. 

Kabar dari singapura, tentang penumpang pesawat direspon dengan baik. Sesampai di lapangan kami dijemput sebuah minivan. Sepertinya sudah dimodifikasi  untuk para penumpang berkebutuhan kusus. Sementara kami naik van, rombongan yang lain naik bus. Sama-sama menuju ke satu tempat. Bagian pemeriksaan pasprt. Apa namanya? Lupa aku.

Cekatan petugas memeriksa pasport kami bertiga. Sementara bapak didorong oleh petugas, aku berjalan bersama ibu, dengan tas di tangan kanan dan kiri yang semula di bawa Icha. Kembali seperti semua, seperti saat kami berangkat bersama. Berkali-kali ibu memelukku, menangis, mengucap terima kasih. Bapak hanya diam. Mata bapak terus saja basah. Menangis. Bersukur. Aku diam, terus  berusaha membesarkan hati ibu.

“Kalau ndak ada mas naryo, ibu sama bapak ndak tau bagaimana” Ibu terisak.
“Ibu...” aku berkata pelan.
“Seharusnya, saya yang berterima kasih sama ibu, berterima kasih sama bapak..”
“Bapak sama ibu sudah menjadi jalan saya agar bisa berbuat baik kepada orang lain..”
“Bisa saja Alloh mengutus orang lain untuk membantu bapak ibu.”
“Bisa saja Alloh mengatur agar saya kemarin telat, dan ndak bisa ikut?”
“Tapi Alloh memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan ini semua kepada bapak sama ibu?”
“Jadi seharusnya saya yang berterima kasih, bapak sama ibu menjadi perantara atas terkabulnya do’a-doa saya selama ini”

Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Tenggorokanku tercekat. Lidahku kelu. Aku tak meneruskan kalimatku.
Ibu menangis. Menggeleng. Bapak juga menangis. Duduk diam di kursi roda. Menatap lurus ke depan.

Jujur, ini kedua kalinya aku di peluk atau meluk  perempuan, selain Ajeng –bungsuku-. Kali pertama adalah saat peristiwa gempa di jogja. Aku meluk ibu panti asuhan di piyungan, menjaganya agar tak kejatuhan genteng, atau jatuh tak kuat menjaga keseimbangan dari besarnya gempa. Tenang saja coy, dua-duanya sudah di atas 60 tahun. 

Selesai berurusan dengan petugas bandara dan menghubungi anak-anak bapak ibu. Aku langsung meluncur keluar, meninggalkan ibu dan barang-barang bawaan kami. Titipkan Icha saja. Di luar kami sudah disambut keluarga bapak. Bapak tetap diam, tanpa ekspresi. Haru juga melihat mereka.

“Bapak sakit, tolong segera di bawa ke rumah sakit!!” aku berkata tegas.

“Tolong ada yang ditinggal di sini untuk menjemput ibu dan membawa koper-koper”

Tak ada suara, hanya anggukan.

Setelah memastikan urusan bapak, aku meluncur ke ATM. Hanya 1 Real yang aku bawa dari sana.  Kemudian mencari tiket bis untuk pulang. Waktu sudah pukul sembilan malam. Harus segera dapat tiket, atau merogoh dompet lebih untuk naik taksi. Iri juga ngeliat banyak yang jemput. Tapi bukankah jemputanku lebih gede. Bis Damri. Selepas mengurus tiket pulang, aku kembali untuk tas-tasku. Setelah menunggu sebentar, akhirnya ibu dan yang lain keluar juga. Aku mengambil barang-barangku,Berpamitan, mencium tangan ibu, balik badan, kemudian pergi.

Aku tak tahan melihat  ibu menangis lagi. 


Buka bareng di Rumah pak Ishak. 4 Agustus 2012 di daerah Jati padang jakarta selatan

Minggu, 22 Juli 2012

Orang Arab: Bagian III


Aku tidak habis pikir, mengapa pula harus menceritakan orang arab. Maksudku orang-orang yang tinggal di arab. Makah dan Madinah pada kususnya. Mereka masarakat yang beranekaragam. Dengan segala keanehan dan kerumitannya. Keberagaman masarakat di dua kota besar itu bagai cermin bagi komunitas islam yang sangat besar. Seperti miniatur masarakat  islam yang unik.
Bukankah kalian semua juga tahu, hanya orang muslim yang diijinkan masuk ke tanah harom di sekitar mekah, dengan batas yang teramat jelas, berikut rambu-rambu danpemeriksaan yang cukup ketat. Jadi –mohon maaf- jikalau anda bukan muslim akan sangat sulit rasanya bisa memasuki kota yang lur biasa tersebut. Sudah terlalu banyak, cerita-cerita dari masarakat di sana tentang orang-orang yang berkeinginan melanggar batas tanah harom. Entah karena ia bukan seorang muslim, entah karena ingin berbuat yang tidak baik. Mulai dikejar-kejar anjing liar, atau diganggu dengan hal-hal lain. Jadi maafkan, memang Al Qur’an mengamanahkan seperti itu. Mohon dimaklumi.
Mekah dan madinah dengan segala fenomenanya. Beberapa hal memang aku sepakati, beberapa hal lain masih agak susah diterima. Setidak-tidaknya untuk orang awam sepertiku. Setidak-tidaknya untuk orang asing, yang baru sekali ini menapaki tanah harom.
Dan akhirnya kembali lagi pada cerita berikutnya, bahwa orang arab itu;
17. Orang arab sangat mengutamakan perempuan. 

Urusan ini sebenarnya pernah aku dengar sebelumnya saat masih kuliah. Saat tinggal di asrama. Suatu malam, kira-kira malam ke dua atau ke tiga di Mekkah, aku –dengan terpaksa- mengikuti ust. Andi menemani bapak Ishak menukar rupiah ke real. Permitaan orang tua tidak baik ditolak. Sangat sulit menemukan tempat penukaran uang, alias money changer di sekitar masjidil harom. Selepas –hampir- semua hotel disekitar haneen diruntuhkan, ruko-ruko, termasuk money chenger pun ikut gulung tikar. Sebenarnya ada satu money changer di lantai satu tower bin dawood. Namun, selalu tutup. Belakangan diketahui, bahwa pemerintah arab saudi menutup banyak money changer nakal yang memanfaatkan kesulitan peziarah. Jadilah mereka gulung tikar. Dari sedikit money changer yang masih buka, antara lain di dekat pasar misfala, sekitar 20 menit berjalan kaki dari penginapan kami. Money changer itu berada di area rame, kawasan pasar. Kawasan misfala memang semakin rame saja, terutama setelah pasar seng dibongkar. Money changer itu terletak di ruko kecil disamping toko wewangian, termasuk kemenyan khas arab –oh ya, orang arab juga punya kebiasaan membakar wewangian semacam menyan lho- . Diantara ruko-ruko penjual pakaian, pernak-pernik dan lain sebagainya. Ruwet!!
Kembali ke urusan perempuan, eh money changer. Kami sampai di sana saat rame, antrian panjang, sampai mengular ke jalan. Orang-orang dari berbgai negara berdesakan ingin menukar uang mereka dengan real. Selain petugas kasir, ada petugas lain di luar yang memastikan antrian berjalan dengan baik. Hingga tiba-tiba seorang perempuan mengantri dibelakangku. Tanpa babibu petugas pengatur tadi langsung memanggil perempuan tersebut agar langsung ke barisan paling depan. Sebentar kemudian bereslah urusannya. Dan tak ada satupun di antara antrian yang protes. Sudah menjadi maklum, di arab perempuan lebih diutamakan untuk banyak urusan. Entah karena mengikuti hadist nabi tentang pengutamaan perempuan, entah mereka risih dengan perempuan di dekat mereka, atau juga untuk menghindari hal-hal yang tak dinginkan. Yang pasti dalam beberapa urusan perempuan lebih diutamakan. Termasuk dalam urusan mengantri.
Konon saat orang arab bertengkar dalam suatu urusan, dan menemui jalan buntu. Biasanya mereka memanggil perempuan yang dituakan diantara keluarga mereka. Apapun yang diputuskan oleh perempuan yang dituakan tadi akan diikuti oleh semua pihak yang bersengketa. Untuk urusan ini aku tidak tahu kebenaranya pasti. Aku hanya mendengar dari ust. Andi. Namun apapun yang terjadi, setidaknya peran atau perlakuan terhadap perempuan di arab mengalami kemajuan yang pesat jika dibandingkan dengan masa sebelum Rosululloh datang. Masih ingat bukan, kisah saat Umar Ibn Khattab mengubur hidup-hidup anak perempuannya?
18. Perempuan di arab dilarang menyetir kendaraan. Memang urusan ini terdengar agak bertentangan dengan point yang sebelumnya. Isu perempuan menyetir juga sudah menjadi persoalan yang meluas di negara-negara arab kususnya. Umumnya di dunia, berkaitan dengan persoalan hak-hak atas perempuan. Tentang hak-hak feminisme.
Dalam hal ini, aku ingin berprasangka baik saja. Masarakat di arab dalam banyak sisi memang mengurangi banyak peran perempuan dalam urusan publik. Saat  bepergian perempuan –di- arab juga harus ditemani oleh muhrim pria. (kalau yang ini sudah pernah saya jelaskan di tulisan sebelumnya, dan itu bagian dari kebiasaan di sana). Termasuk dalam urusan larangan menyetir.

Betapapun tanah harom adalah tanah yang dijamin keamanannya. Akan tetapi bila melihat jalanan di arab pada umunya, aku lebih sependapat dengan pendapat bahwa memang perempuan di sana –menurut saya juga- tidak disarankan bepergian sendirian,atau menyetir sendiri. Kalau di indonesia kan beda, sampai ada lagunya.
“kiri kanan kulihat saja, banyak pohon cemara” dan seterusnya.
Hla di sana...
“kiri kanan kulihat saja, hanya pasir dan gunung batu saja”
Sangat kontras. Tak ada warung, rumah-rumah penduduk disepanjang jalan seperti di indonesia. Pom bensin hanya ada di rest area,yang jarak antara rest area satu dan yang lain mencapai puluhan kilo meter. Bandingkan dengan di indonesia. Tiap seuluh kilo ada satu. Selama perjalanan dari mekah ke madinah sepanjang hampir 400 km, hanya ada 4 atau 5 rest area saja, selebihnya ya padang pasir, gunung batu dan kerikil. Berarti tiap seratusan kilo meter, seperti jarak jogja-purworejo. Bayangkan kalo tiba-tiba mobil mogok. Perempuan, sendirian, di padang pasir. Mau minta tolong sama siapa?
Jadi mohon dipahami saja urusan ini, sebagai tindakan pencegahan terhadap hal-hal yang tak diinginkan.

19. Orang arab suka berdebat. Dulu, waktu kuliah, sedikit banyak aku kenal dengan orang-orang arab –keturunan- yang  di jogja. Termasuk yang empunya asrama. Aku sempat tinggal satu atap dengan mereka untuk bebepa hari saat menjadi relawan –gadungan- gempa jogja dan klaten. Tentu saja kebersamaan itu memberikanku banyak informasi. Saat mereka berbincang, bisa memakan waktu ayng amat lama. Macam anak-anak filsafat yang mbulet ngobrolin semua hal. Bisa dari pagi ketemu pagi lagi. Berikut lengkap dengan bumbu gontok-gontokannya. Ya ngototnya, ya rasa ndak mau ngalahnya. Komplet jadi satu. Yang tak terlupakan adalah saad Al katiri, kuceritakan nanti.  Belakangan saat saya konfirmasi,mereka lebih senang disebut hadromi, keturunan yaman (Kalau salah mohon dikoreksi, trims sebelumnya). Sedikit banyak aku mulai tau penyebabnya, kuceritakan di tulisan yang berbeda nanti juga. Mereka umumnya senang berbincang. Atau bagi saya masarakat jawa yang relatif lemah lembut –GR.com-, jika dibandingkan dengan watak keras orang arab. kebiasaan berbincang mereka lebih mirip perdebatan. Perdebatan mereka pun akhirnya lebih mirip pertengkaran.
Setidaknya aku menjumpai beberapa pertengkaran selama disana. Pertama adalah perdebatan di hotel, aku tak tahu persoalannya apa. Sepertinya berkatian dengan pembayaran logistik hotel dan lain sebagainya. Kedua adalah perdebatan saat subuh di depan ka,bah. Seorang jamaah memaksa memaksa mencium hajar aswad, sedangkan sebentar lagi iqomat. Padahal shaf sudah penuh. Oh ya, kami juga berbut, berdesakan demi mendapatkan shaf terdepan saat sholat. Inginnya sedekat mungkin dengan Ka’bah. Setelah komat, berarti semua aktifitas terhenti. Berarti tak boleh seorangpun mengganggu. Kecuali sholat. Pertengkaran semakin rame, jamaah dan askar, sudah saling memiting. Saling mencengkeram krah baju. Si askar merasa frustasi setelah jamaah tersebut menolak diingatkan. Ditambah lagi para jamaah –yang menurut saya- sangat tidak sopan menembakan lampu blitz ke arah ka’bah dari jarak yang amat dekat. Jadilah perdebatan itu semakin seru. Hampir saja terjadi perkelahian pagi itu. Setelah beberapa askar ikut turun tangan, jamaah itu akhirnya pergi, dengan masih ngomel sendiri. Dan masih ada beberapa pertengkaran lainnya.
20. Orang - di- arab  suka tidur pagi. 

Jikalau engkau juga ada di sana. Mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Udara bulan-bulan terasa lebih panas di arab maklum, puncak musim panas, bahkan di pagi hari sekalipun. Kenyamanan di dalam rumah yang dingin ber- AC, akan membuat banyak orang memilih tinggal di rumah dari pada bepergian. Apalagi di bulan romadlon yang panas seperti ini. Terakhir temperatur di sana antara 39 s.d 43 derajat celcius. Di samping panas, waktu berpuasa juga relatif lebih lama. Subuh berkumandang pukul 04.00 pagi hari sedangkan adzan maghrib baru berkumandang sekitar pukul 07.30 malam. Konon, orang-orang yang bandel memilih tidur di rumah seharian, dan baru bangun sekitar waktu asar. Jam empat sorelah kira-kira.  Trus kerjanya kapan? Orang arab lebih banyak melakukan aktivitas di malam hari, selepas isya menunggu udara relatif lebih dingin. Meski tetap saja, malam pun berasa di depan api unggun. Akhirnya, menurut pendapat banyak orang, orang arab relatif gampang penyakitan di masa tua, tentu saja penyakit dikarenakan banyak makan dan banyak tidur, serta penyakit karena selalu berada di ruang dingin ber-AC.  
21.  Orang arab lebih tau puncak dari pada bali. Konon kata orang-orang bule, mereka lebih tau bali dari pada indonesia sendiri. Mereka sering bertanya, bali itu mananya indonesia sih? Dan lain sebagainya. Lain hal dengan orang-orang di arab. Kalo ini sumbernya dari ust. Andi lho. Orang-orang di arab mengenal indonesia ya karena di indonesia ada Puncak. Katanya puncak itu kaya sorga. (Umumnya, orang-orang di arab mengagumi indonesia, selain ceweknya yang cakep-cakep ya kesuburan tanah indonesia). Bagi orang arab, boleh jadi Indonesia adalah representasi sorga bagi pikiran mereka, dianugerahi kesuburan, tanah yang hijau beserta tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka ragam. Sungai-sungai yang mengalir di mana-mana. Serta hujan yang –relatif- turun sepanjang tahun. Coba bandingkan dengan di arab?
Yang masih perlu di konfirmasi lagi adalah masalah Vila di puncak. Konon mereka –orang-orang arab yang nakal, yang suka “jajan”- menikmati betul jamuan villa indonesia. Ya makanannya, ya jamuan spesial yang lain. Akhirnya, akal-akalan nikah sirri dan lain sebagainya. Kalau yang ini hanya aku tau dari tivi, selebihnya cerita dari ustadz Andi.

Dulu pernah saya punya seorang ustadz yang keturunan timur tengah, saat perjalanan dari jogja ke solo. Sang ustadz memilih melepas jas hujan dari pada memakainya. Ia ingin menikmati hujan. Malah berkelakar, doi yan gorang mesir ini bilang. Kalo di mesir banyak petir kaya di indonesia, mungkin dulu fir’aun takut sama petir dan urung mengaku menjadi tuhan.



  

Selasa, 17 Juli 2012

Orang Arab : Bagian II


Membicarakan urusan orang lain memang –terasa- menyenangkan. Kekurangan atau kejelekan, sesedikit apapun sering kali menutupi kelebihan-kelebihan yang jauh lebih banyak. Sungguh, kita cenderung melihat orang lain secara tidak objektif. Kekurangan selalu menjadi bumbu paling gurih yang ditambahkan. Entah karena kita tidak suka dengan orang tersebut, entah juga karena kita sedang menyembunyikan kejelekan kita dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain. Pun begitu dengan yang akan kita bicarakan di tulisan ini, yang merupakan  kelanjutan tulisan-tulisan sebelumnya. Mengapa juga aku tidak menanyakan langsung kepada orang-orang arab sendiri, bukan pada orang-orang Indonesia yang tinggal di sana. Bagaimanapun, mereka adalah orang asing di mata orang arab. Dari banyak hal, terutama mengenai kebudayaan dan kebiasaan tentu saja berbeda. Tapi apa mau di kata, selain kendala bahasa, aku juga tak cukup punya waktu dan kesempatan untuk bertanya langsung pada sumbernya. Semoga saja yang saya sampaikan di sini tak berbeda jauh dari kenyataan, setidak-tidaknya dengan sudut pandang orang asing seperti saya.
Bahwa orang arab itu.
10.  Menggunakan pakaian Khas. Sudah menjadi kebiasaan tiap bangsa memiliki pakaian khas sendiri-sendiri. Di Arab saudi –Terutama Mekah dan Madinah- orang arab menggunakan baju “thob” untuk pria. Sejenis baju kurung terusan, berwarna putih,  berlengan panjang dengan kerah di leher. Lengkap dengan saku di dada kiri dan dua saku lainnya di pinggang kanan dan kiri. Belakangan saku pingang di modifikasi dengan sebuah kantung kecil di dalamnya. Katanya untuk menyimpan HP. Beberapa orang juga menggunakan pelengkap sejenis jubah sebagai identitas, seperti coklat, hitam, dan lain sebagainya. Tak lupa menggunakan sejenis sorban yang disebut kafiyeh.

Sementara untuk perempuan menggunakan baju abaya berwarna hitam. Lengkap dengan cadar, sebagian membiarkan kedua mata terbuka, sebagian lagi memilih menutupi seluruh wajah, menggunakan semacam burkha khas seperti Afganistan yang lebih mirip jendela. Hanya saja burkha arab menggunakan  dua kain tipis (setidaknya lebih tipis dari baju dan kerudungnya) untuk menutupi wajah. Seperti kaca riben saja. Ada step satu dan step dua. Step satu untuk terang, step dua untuk yang lbih gelap. Tidak seperti pakaian pria. Thob pria bisa berwarna warni hijau, putih, coklat dan lain sebagainya. Sementara pakaian perempuan arab selalu berwarna hitam. Pertanyaan saya adalah ketika para perempuan berpapasan di jalan, bagaimana mereka saling mengenali satu sama lain?

11. Sering nabrakin kendaraan. Untuk urusan ini aku juga tak terlalu mengerti. Seperti di kota-kota besar lainnya. Di Mekah dan Madinah juga sering terjadi kemacetan. Kalo di indonesia macetnya pas berangkat ataupun pulang kantor. Hla kalau di sana macetnya ya pas bubaran sholat fardu. Orang arab tidak suka berlincah ria menginjak rem dan kopling seperti di Indonesia. Kalau malas ya sudah tabrakin saja. Maju kena mundur juga kena. Ya tabrakin saja. Setelah itu ribut sebentar. Saling berargumen, menyalahkan satu sama lain. Mencari alibi sendiri-sendiri. Saling beristighfar, berzikir. Kemudian mencari jalan masing-masing. Terbukti dari setiap “Ijaroh” atau taksi yang saya lihat selalu ada penyok entah di body samping,  bember depan atau di belakang. Entahlah, mungkin karena mobil di sana murah-murah kali. Kalau rusak ya tinggal saja di jalan. Kan nanti bisa beli lagi. Selain taksi dan mobil pribadi, mobil derek juga terlihat di sana sini. Mengangkut mobil-mobil yang berparkir sembarangan. Mungkin juga karena ditinggal sama yang mpunya.
12. Orang arab -relatif- jarang Ngrumpi. Khusus statement ini adalah hipotesis saya sendiri. Rumah-rumah di arab bentuknya kota-kota bertingkat paling sedikit dua atau tiga, ndak limasan seperti di indonesia. Rumah-rumah di arab ada yang berpetak dempet, ada juga yang berpagar tinggi. Satu keluarga biasanya menepati satu lantai. Satu rumah biasanya ditempati beberapa keluarga. Dari kakek sampai cucu. (Na kalo yang ini berdasarkan info dari Syeh Andi mutowwif saya). Lha jadinya kalo ibu-ibu mau ngrumpi paling ya sama anak atau adek-adeknya saja. Jadi di arab tidak ada kebiasaan “Nonggo” –main ke rumah tetangga, atau ngumpul di satu tempat untuk ngrumpi-. Selain cuaca di sana sangat panas (Kalo musim panas, kalo musim dingin ya dingin sekali), para wanita juga relatif terisolir dari pergaulan umum.  Ndak seperti di indonesia. Selain gerobak tukang sayur, warung tetangga juga menjadi tempat favorit ibu-ibu atau mba-mba berngerumpi ria. Sepanjang saya berada di saudi. Tak ada satu acara tv atau koran yang membahas “Berita Kuning”. Istilah untuk conten gosip. Jadi intensitas ngerumpi orang arab relatif lebih sedikit dari pada orang-orang indonesia.

13. Orang arab gila pepsi. Menurutku istilah itu pantas disematkan. Bayangkan, sarapan pagi minumnya pepsi, makan siang pepsi, makan malam juga pepsi. Dengan catatan “harus dingin”. Seperti iklan di Indonesia saja. Jadi sedikit beda, di Arab apapun makannannya, minumnya yang Pepsi. Aku masih tidak mengerti, aku dulu pernah di protes salah seorang pelanggan saat jualan pepsi di kampus. Katanya pepsi berafiliasi dengan gerakan zeonis Israel. Heran juga di arab pepsi malah justru sangat digemari. Sekali lagi tua-muda, miskin kaya, apapun makannya minumnya selalu pepsi.
14. Orang arab terobsesi dengan yang serba dingin. Karena kondisi yang cenderung panas, menjadikan orang arab terobsesi dengan yang serba dingin, baik ruangan ataupun minuman. Kalo belum minum dingin belum minum rasanya. Air zam-zam di masjidil harom dan Nabawi pun ditaruh dalam termos besar agar tetap dingin. Bahkan di pasar Misfala dekat Masjidil kharom, yang super panas, kita masih bisa menikmati air zam-zam super dingin dan menyegarkan.
Pernah suatu pagi saat menginap di Jeddah, aku bangun dengan tiba-tiba. Menggigil seluruh badanku karena kedinginan. Tenggorokanpun terasa amat sakit. Kelu. Temperatur di remot kontrol menunjukkan angka 21 derajat celsius. Dengan bunyi blower diffuser terdengar kencang. Entah karena masih jetlek entah karena udara di ruangan memang super dingin. Begitupun selama perjalanan di dalam bis. Selalu saja menggigil. Suhu yang sama. Padahal di luar ruangan atau di luar bis, temperatur rata-rata antara 39 s.d 44 derajat celcius. Di arab –pada umumnya- temperatur udara relatif tinggi di musim panas, hujan sangat jarang turun. Pemandangan kanan kiri di sepanjang perjalanan hanya pasir dan batu. Tepatnya gunung batu.  Sangking gersangnya, rumputpun tidak mau tumbuh. Kebayang ndak? 2000 tahun yang lalu, nabi Ibrohim AS tanpa babibu melaksanakan perintah Alloh. Meninggalkan ibunda Siti Hajar nabi Ismail di mekah yang  gersang, tempat rumput pun tidak mau tumbuh? SubhanAlloh
15. Orang-orang di arab paling seneng dengan orang indonesia. Ada semacam kebiasaan memanggil orang yang tidak dikenal di arab. Orang arab biasanya di panggil Ahmad, orang india atou pakistan Badrun,sedangkan orang indonesia atau perempuan indonesia dengan “Siti Rahmah”. Sebenarnya nama itu seperti nama olok-olok untuk para pembantu rumah tangga (TKI – tenaga Kerja Indonesia? Bener ndak?). Namun kemudian berkembang menjadi sebutan umum.
Nah curi-curi dengar ini, selain terkenal kecantikannya, orang indonesia juga terkenal ramah-ramah. Paling rajin berbelanja. Sampe-sampe ada istilah “Towaf di Chronice” . Chronice adalah sebuh area belanja terkenal di daerah Jeddah. Tempat para ibu-ibu menghabiskan real mereka. Karena, pandangan kita beda-beda tipis antara belanja dan ibadah jadilah ritual itu menjadi seperti wajib. Khas orang-orang indonesia sehabis merantau atau pulang mudik, sibuk borong-borong. Dan orang-orang indonesia diperantauan sangat pandai berwira usaha. Maka jadilah sederet toko-toko bernama indonesia. “ali Murah” “Sultan  Murah” dan lain sebagainya. Pokoknya selalu ada embel-embel murah dibelakangnya.
Yang menyenangkan lagi, orang indonesia jarang menawar saat berbelanja, tentu saja selain masalah bahasa. Orang kita tak enak  menawar di sana.
Selain towaf di Chronice, hampir bisa dipastikan selesai bubaran masjid, orang indonesia tak lupa menyempatkan ke toko-toko atau belanja di obralan pasar kaget di depan masjid. Jangan tanya nawarinnya, ya pake bahasa indonesia.
“Hajj... Hajj... “
“Sepuluh real..  Sepuluh real..”
“Murah... Murah...” (Dialek  india mode: ON)
  Orang indonesia kalo belanja atau naik taksi,  umumnya lebih suka mengikhlaskan kembalian jika pedagang atau sopir tidak punya uang kembalian. Jangan tanya kalo orang dari negara lain. Bisa ribut berlama-lama itu.
Yang paling berasa tidak nyaman adalah jika mengenai “Kharim” bahasa gampangnya cewek. Rasanya saya lihat orang-orang di sana “gatel” kalau lihat cewek. Terutama orang indonesia. Cantik-cantik katanya. Kebetulan selama perjalanan saya dititipi dua perempuan, utusan dari biro di jakarta. Saat di hotel para petugas (yang semua laki-laki, di arab perempuan jarang yang bekerja di sektor publik, paling mentok ya guru atau dokter, trus pedagang –itupun orang badui-, selebihnya dikerjakan para pria,para wanita berada di rumah, mengurus anak dan lain sebagainya), mereka memaksa masuk –dengan alasan membersihkan kamar- ke kamar muhrim saya, sontak ditolak dong. Akhirnya Icha –salah satu muhrim saya-  menelepon meminta bantuan. Untung saja kamar kami masih satu lantai. Jadilah keributan kecil siang itu. Setelah peristiwa itu saya bener-bener yakin, bahwa kemanapun perempuan pergi di sana, semestinya harus didampingi mahromnya. Kalo ndak bisa gawat. Menurutmu kepiye?

16. Termasuk korban mode. Suatu malam, selepas dari jama’ah isya di masjid aku merasa kelelahan. Ah, kira-kira selepas umro ke dua.  Aku menunggu sampai jama’ah agak sepi, baru keluar dari masjid. Bukankah selepas isya adalah jam paling ramai di sana. Memang, bangunan sekitar masjid sudah di penuhi mall-mall dan hotel bintang lima. Sebut saja, Intercontinental, Bin Dawood, Soffa tower, dan yang paling tinggi adalah tower zam-zam. Saat berjalan-jalan di jabal rahmah, tower itu masih kelihatan. Terlihat anggun, atau sombong barangkali.
Pelataran masjid masih ramai, di sana-sini orang duduk-duduk di pelataran. Menggelar tikar, menjeplak begitu saja. Ketawa-ketiwi, sambil menikmati kudapan santap makan malam, sayangnya lebih banyak menu KFC dari pada menu kebab yang dinikmati.
Kembali ke masalah mode. Saat berjalan melewati tempat wudlu, aku berpapasan dengan serombongan ABG bercadar. Mereka tampak saling menggoda, dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Arab ‘Ammiah. Berkejaran satu sama lain. Mau tak mau ekor mataku mengikuti gerakan mereka. Yang tak biasa selain sepatu mereka, diujung sepatu  terlihat jelas bahan levis. Mereka mengenakan celana levis. Untuk baju atasannya, aku tidak tentu tidak tahu. Hanya mendengar dari para TKW bahwa mereka juga menjadi korban mode seperti kita di negara timur. Bahkan masih di pelataran masjid nabawi, ada toko yang memajang jelas di jendela show room pakaian yang semestinya tidak dipajang di Arab secara vulgar. Setidaknya di depan masjid.
Untuk pria sebenarnya tidak banyak variasi. Selain menggunakan variasi warna thob. Paling juga memodifikasi bentuk krah baju, saku, dan kancing lengan baju. Sebagian memberikan accesories bordiran di sekitar dada kanan. Sebagian dibuat agak lebih ketat, agar bentuk tubuh mereka lebih kelihatan macho gitu. (Kalo yang ini murni prasangka saya). Tapi setidaknya, hampir tak ada pria (dalam pakaian resmi) yang menggunakan pakaian selain Thob.
Ini akhir jilid dua, berikutnya cekidot lagi ya......

Jumat, 13 Juli 2012

Orang Arab : Bagian I


Alkhmadulillah beberapa waktu yang lalu Alloh memberikan kesempatan kepada saya, untuk mengunjungi Baitulloh. Saya tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Selain berpuas diri di dua tanah harom, saya menyempatkan diri untuk mengamati perilaku keseharian orang arab. Selain pengamatan fisik, saya tentu saja dibantu seorang nara sumber. Selama di sana, saya banyak bertanya kepada ustadz saya  yang nota bene adalah seorang mantan TKI. Namanya Ust. Andi. Beliau sudah sepuluh tahun tinggal di sana. Pernah mencoba bermacam profesi. Tentu saja cukup banyak mengenal tabiat orang arab pada umumnya.  Yang saya sampaikan masih sangat sederhana mengingat singkatnya waktu dan sedikitnya nara sumber. Harus digaris bawahi, ini  sekedar intermeso saja. Kalau ada benarnya itu dari Alloh SWT, kalau salah ya di harap ma’lum saja.
Dari hasil pengamatan diketahui, bahwa orang arab itu.
1.       Paling baik dalam menyambut tamu. Kebiasaan ini memang udah dari jaman Nabi Ismail AS masih anak-anak. Kebaikan Siti Hajar menerima kabilah-kabilah arab untuk numpang hidup di Mekkah menjadi tauladan bagi orang-orang arab pada masa berikutnya. Disamping itu ketaatan untuk meneladani Rosululloh menjadi dasar yang lain. Bahwa tuan rumah berkewajiban menjamu tamu selama tiga hari. (Hadistnya mahsyur)
2.       Suka dipuji. Kalau yang ini manusiawi. Siapapun orangnya pasti suka.
3.       Suka Bersedekah. Adalah kebiasaan orang arab untuk berlomba-lomba berbuat baik kepada orang lain. Di masa lampau, salah satu tolak ukur kemuliaan dan ketinggian derajat orang arab di masyarakat adalah dari besarnya kebaikan yang ia berikan kepada orang lain. Meskipun, posisi paling bergengsi (bahkan sampai sekarang) adalah penjaga 2 tanah haram.
4.       Gila Kecepatan. Bisa diketahui dari mobil-mobil yang di pakai di sana. Umumnya pabrikan eropa yang ber “cc” besar. Ferrari, ford, GMC dan lain-lain. Mobil-mobil pabrikan Jepang seperti toyota lebih banyak dipakai buat taksi.  kijang innova, dan toyota camry. Padahal di indonesia kan ntu, tu mobilnya bos-bos. Selain itu tingginya angka kecelakaan menjadi acuan bahwa mereka begitu tergila-gila dengan kecepatan. Saya melihat sendiri bangkai mobil berserakan di sana-sini disepanjang perjalanan saya dari Mekah-madinah, maupun dari madinah-jeddah. Di jalan-jalan di arab telah di pasang kamera pengintai untuk menangkap basah para tukang ngebut. Sekali kena, paling sedikit 250 real harus keluar (ya setengah juta lebih, 1 real = Rp. 2500). Bayangkan saja jarak Mekah-Madinah sejauh 400 km, setara Jakarta-Jogja ditempuh hanya dalam waktu 6 jam. Berikut istirahat dan lain-lain. Selain jalanan luar kota lurus dan datar (kalo ada gunung langsung di jebol), volume kendaraan juga tidak sebanyak di indonesia dan masih banyak lagi faktor berikutnya.  Jadi was-wis-wus...
5.       Update barang baru. Pernah suatu malam saat saya keluar dari masjidil harom, tak sengaja ngelihat ada mba-mba pake “burkha” (saya anggap saja orang arab) sedang sibuk memainkan Gadget keluaran terbaru. Sambil “Ndlosor” di pelataran masjid. Contoh lain adalah HP yang dipakai sama askar (security) dan para pengurus masjid ndak ada yang poliklinik –maksude poliponik- semua pakai “touch screen” (maaf blepotan nulisnya). Selama ziarah di kota, di sana sini terpampang iklan gadget keluaran terbaru, berikut promosi yang lain. Disamping mereka rejekinya baik, barang-barang elektronik umumnya lebih murah 20-30 persen dibandingkan dengan di indonesia.
6.       –Cenderung-  suka pamer. Gampanya kalo abis beli barang-barang baru. Entah elektronik, entah furniture. Mereka mengundang sanak saudara dan handai tolan, untuk melihat barang-barang yang baru saja ia beli. Kemudian membagakannya di depan mereka. Akhirnya terjadi persaingan kepemilikan barang paling update. Kalau info tentang ini saya dapat dari seorang kenalan TKI yang bekerja sebagai sopir pribadi.
7.       Taat beribadah. Secara umum, orang-orang di mekah taat beribadah. Jangan coba-coba keluyuran di tanah haram waktu sholat tiba. Bisa di seret sama askar. Sial-sial bisa masuk bui. Betapapun di jeddah lebih bebas. Tapi masjid-masjid selalu padat di waktu sholat. Bahkan mengantri. Jadi jangan iri kalau rejeki mereka lebih baik dari kita. Lha mereka lebih taat dari pada kita di tanah air.
8.       Terus terang. Secara umum orang arab lebih terus terang. Mereka tidak akan segan mengingatkan orang lain. Apalagi saat di masjid. Mereka tidak akan menyerah jika merasa di jalan yang benar. Dengan keyakinan bahwa di tanah haram hal baik selalu menang. Dan kedzliman selalu kalah. Jadi ndak usah sungkan-sungkan ngeyel di sana kalau memang anda berada di posisi yang benar.
9.       Kalau anda kesasar, orang arab akan mengantar anda sampai ke tempat tujuan. Atau setidaknya sampai ke tempat yang anda mengerti. Hal ini masih berkaitan dengan doktrin kemuliaan-kebaikan yang sudah mengakar di sana.
10.   Perempuan yang baik adalah perempuan yang “gendut”. Seperti kita ketahui, setiap bangsa punya mitos kecantikan sendiri-sendiri. Di jawa cantik itu berarti langsing singset, berkulit kuning langsat. Di amerika yang kudu –maaf- semok begitu. Sementara di gurun pasir, arab, dan sebagian afrika. Cantik itu berarti gendut. Sekali lagi bukan “Gembrot” ya. Saya beruntung bertemu dengan seorang santri yang belajar di salah satu pesantren di mekkah. Namanya M. Mujibuti  asal Madura. Ia nyantri di sana lantaran ibunya marah besar karena mujibuti membawa pulang batu Harom sisa melempar jumroh. Sebagai hukuman, Ia dipaksa pergi lagi ke Mekkah dan tidak boleh pulang sampai menjadi ahli agama.   Mujibuti bilang kepada saya, menurut syair-syair kuno, orang arab lebih banyak memberikan sanjungan kepada perempuan-perempuan gendut. Hal itu berhubungan dengan mitos kesuburan. Bahwa perempuan yang gemuk berarti perempuan yang sehat. Perempuan yang sehat berarti punya kemungkinan untuk bisa melahirkan banyak anak-anak. Mengingat gersangnya tanah arab menjadi sebab tingginya angka kematian akibat, sakit atau kekurangan makanan dan minuman.
Sementara segini dulu ya mas bro. Masih ada banyak point lagi yang saya temukan tentang orang arab. Biar tidak bosen bacanya. Saya terbitkan sedikit demi sedikit. Pokmen cekidot terus blok saya.