Minggu, 22 Juli 2012

Orang Arab: Bagian III


Aku tidak habis pikir, mengapa pula harus menceritakan orang arab. Maksudku orang-orang yang tinggal di arab. Makah dan Madinah pada kususnya. Mereka masarakat yang beranekaragam. Dengan segala keanehan dan kerumitannya. Keberagaman masarakat di dua kota besar itu bagai cermin bagi komunitas islam yang sangat besar. Seperti miniatur masarakat  islam yang unik.
Bukankah kalian semua juga tahu, hanya orang muslim yang diijinkan masuk ke tanah harom di sekitar mekah, dengan batas yang teramat jelas, berikut rambu-rambu danpemeriksaan yang cukup ketat. Jadi –mohon maaf- jikalau anda bukan muslim akan sangat sulit rasanya bisa memasuki kota yang lur biasa tersebut. Sudah terlalu banyak, cerita-cerita dari masarakat di sana tentang orang-orang yang berkeinginan melanggar batas tanah harom. Entah karena ia bukan seorang muslim, entah karena ingin berbuat yang tidak baik. Mulai dikejar-kejar anjing liar, atau diganggu dengan hal-hal lain. Jadi maafkan, memang Al Qur’an mengamanahkan seperti itu. Mohon dimaklumi.
Mekah dan madinah dengan segala fenomenanya. Beberapa hal memang aku sepakati, beberapa hal lain masih agak susah diterima. Setidak-tidaknya untuk orang awam sepertiku. Setidak-tidaknya untuk orang asing, yang baru sekali ini menapaki tanah harom.
Dan akhirnya kembali lagi pada cerita berikutnya, bahwa orang arab itu;
17. Orang arab sangat mengutamakan perempuan. 

Urusan ini sebenarnya pernah aku dengar sebelumnya saat masih kuliah. Saat tinggal di asrama. Suatu malam, kira-kira malam ke dua atau ke tiga di Mekkah, aku –dengan terpaksa- mengikuti ust. Andi menemani bapak Ishak menukar rupiah ke real. Permitaan orang tua tidak baik ditolak. Sangat sulit menemukan tempat penukaran uang, alias money changer di sekitar masjidil harom. Selepas –hampir- semua hotel disekitar haneen diruntuhkan, ruko-ruko, termasuk money chenger pun ikut gulung tikar. Sebenarnya ada satu money changer di lantai satu tower bin dawood. Namun, selalu tutup. Belakangan diketahui, bahwa pemerintah arab saudi menutup banyak money changer nakal yang memanfaatkan kesulitan peziarah. Jadilah mereka gulung tikar. Dari sedikit money changer yang masih buka, antara lain di dekat pasar misfala, sekitar 20 menit berjalan kaki dari penginapan kami. Money changer itu berada di area rame, kawasan pasar. Kawasan misfala memang semakin rame saja, terutama setelah pasar seng dibongkar. Money changer itu terletak di ruko kecil disamping toko wewangian, termasuk kemenyan khas arab –oh ya, orang arab juga punya kebiasaan membakar wewangian semacam menyan lho- . Diantara ruko-ruko penjual pakaian, pernak-pernik dan lain sebagainya. Ruwet!!
Kembali ke urusan perempuan, eh money changer. Kami sampai di sana saat rame, antrian panjang, sampai mengular ke jalan. Orang-orang dari berbgai negara berdesakan ingin menukar uang mereka dengan real. Selain petugas kasir, ada petugas lain di luar yang memastikan antrian berjalan dengan baik. Hingga tiba-tiba seorang perempuan mengantri dibelakangku. Tanpa babibu petugas pengatur tadi langsung memanggil perempuan tersebut agar langsung ke barisan paling depan. Sebentar kemudian bereslah urusannya. Dan tak ada satupun di antara antrian yang protes. Sudah menjadi maklum, di arab perempuan lebih diutamakan untuk banyak urusan. Entah karena mengikuti hadist nabi tentang pengutamaan perempuan, entah mereka risih dengan perempuan di dekat mereka, atau juga untuk menghindari hal-hal yang tak dinginkan. Yang pasti dalam beberapa urusan perempuan lebih diutamakan. Termasuk dalam urusan mengantri.
Konon saat orang arab bertengkar dalam suatu urusan, dan menemui jalan buntu. Biasanya mereka memanggil perempuan yang dituakan diantara keluarga mereka. Apapun yang diputuskan oleh perempuan yang dituakan tadi akan diikuti oleh semua pihak yang bersengketa. Untuk urusan ini aku tidak tahu kebenaranya pasti. Aku hanya mendengar dari ust. Andi. Namun apapun yang terjadi, setidaknya peran atau perlakuan terhadap perempuan di arab mengalami kemajuan yang pesat jika dibandingkan dengan masa sebelum Rosululloh datang. Masih ingat bukan, kisah saat Umar Ibn Khattab mengubur hidup-hidup anak perempuannya?
18. Perempuan di arab dilarang menyetir kendaraan. Memang urusan ini terdengar agak bertentangan dengan point yang sebelumnya. Isu perempuan menyetir juga sudah menjadi persoalan yang meluas di negara-negara arab kususnya. Umumnya di dunia, berkaitan dengan persoalan hak-hak atas perempuan. Tentang hak-hak feminisme.
Dalam hal ini, aku ingin berprasangka baik saja. Masarakat di arab dalam banyak sisi memang mengurangi banyak peran perempuan dalam urusan publik. Saat  bepergian perempuan –di- arab juga harus ditemani oleh muhrim pria. (kalau yang ini sudah pernah saya jelaskan di tulisan sebelumnya, dan itu bagian dari kebiasaan di sana). Termasuk dalam urusan larangan menyetir.

Betapapun tanah harom adalah tanah yang dijamin keamanannya. Akan tetapi bila melihat jalanan di arab pada umunya, aku lebih sependapat dengan pendapat bahwa memang perempuan di sana –menurut saya juga- tidak disarankan bepergian sendirian,atau menyetir sendiri. Kalau di indonesia kan beda, sampai ada lagunya.
“kiri kanan kulihat saja, banyak pohon cemara” dan seterusnya.
Hla di sana...
“kiri kanan kulihat saja, hanya pasir dan gunung batu saja”
Sangat kontras. Tak ada warung, rumah-rumah penduduk disepanjang jalan seperti di indonesia. Pom bensin hanya ada di rest area,yang jarak antara rest area satu dan yang lain mencapai puluhan kilo meter. Bandingkan dengan di indonesia. Tiap seuluh kilo ada satu. Selama perjalanan dari mekah ke madinah sepanjang hampir 400 km, hanya ada 4 atau 5 rest area saja, selebihnya ya padang pasir, gunung batu dan kerikil. Berarti tiap seratusan kilo meter, seperti jarak jogja-purworejo. Bayangkan kalo tiba-tiba mobil mogok. Perempuan, sendirian, di padang pasir. Mau minta tolong sama siapa?
Jadi mohon dipahami saja urusan ini, sebagai tindakan pencegahan terhadap hal-hal yang tak diinginkan.

19. Orang arab suka berdebat. Dulu, waktu kuliah, sedikit banyak aku kenal dengan orang-orang arab –keturunan- yang  di jogja. Termasuk yang empunya asrama. Aku sempat tinggal satu atap dengan mereka untuk bebepa hari saat menjadi relawan –gadungan- gempa jogja dan klaten. Tentu saja kebersamaan itu memberikanku banyak informasi. Saat mereka berbincang, bisa memakan waktu ayng amat lama. Macam anak-anak filsafat yang mbulet ngobrolin semua hal. Bisa dari pagi ketemu pagi lagi. Berikut lengkap dengan bumbu gontok-gontokannya. Ya ngototnya, ya rasa ndak mau ngalahnya. Komplet jadi satu. Yang tak terlupakan adalah saad Al katiri, kuceritakan nanti.  Belakangan saat saya konfirmasi,mereka lebih senang disebut hadromi, keturunan yaman (Kalau salah mohon dikoreksi, trims sebelumnya). Sedikit banyak aku mulai tau penyebabnya, kuceritakan di tulisan yang berbeda nanti juga. Mereka umumnya senang berbincang. Atau bagi saya masarakat jawa yang relatif lemah lembut –GR.com-, jika dibandingkan dengan watak keras orang arab. kebiasaan berbincang mereka lebih mirip perdebatan. Perdebatan mereka pun akhirnya lebih mirip pertengkaran.
Setidaknya aku menjumpai beberapa pertengkaran selama disana. Pertama adalah perdebatan di hotel, aku tak tahu persoalannya apa. Sepertinya berkatian dengan pembayaran logistik hotel dan lain sebagainya. Kedua adalah perdebatan saat subuh di depan ka,bah. Seorang jamaah memaksa memaksa mencium hajar aswad, sedangkan sebentar lagi iqomat. Padahal shaf sudah penuh. Oh ya, kami juga berbut, berdesakan demi mendapatkan shaf terdepan saat sholat. Inginnya sedekat mungkin dengan Ka’bah. Setelah komat, berarti semua aktifitas terhenti. Berarti tak boleh seorangpun mengganggu. Kecuali sholat. Pertengkaran semakin rame, jamaah dan askar, sudah saling memiting. Saling mencengkeram krah baju. Si askar merasa frustasi setelah jamaah tersebut menolak diingatkan. Ditambah lagi para jamaah –yang menurut saya- sangat tidak sopan menembakan lampu blitz ke arah ka’bah dari jarak yang amat dekat. Jadilah perdebatan itu semakin seru. Hampir saja terjadi perkelahian pagi itu. Setelah beberapa askar ikut turun tangan, jamaah itu akhirnya pergi, dengan masih ngomel sendiri. Dan masih ada beberapa pertengkaran lainnya.
20. Orang - di- arab  suka tidur pagi. 

Jikalau engkau juga ada di sana. Mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Udara bulan-bulan terasa lebih panas di arab maklum, puncak musim panas, bahkan di pagi hari sekalipun. Kenyamanan di dalam rumah yang dingin ber- AC, akan membuat banyak orang memilih tinggal di rumah dari pada bepergian. Apalagi di bulan romadlon yang panas seperti ini. Terakhir temperatur di sana antara 39 s.d 43 derajat celcius. Di samping panas, waktu berpuasa juga relatif lebih lama. Subuh berkumandang pukul 04.00 pagi hari sedangkan adzan maghrib baru berkumandang sekitar pukul 07.30 malam. Konon, orang-orang yang bandel memilih tidur di rumah seharian, dan baru bangun sekitar waktu asar. Jam empat sorelah kira-kira.  Trus kerjanya kapan? Orang arab lebih banyak melakukan aktivitas di malam hari, selepas isya menunggu udara relatif lebih dingin. Meski tetap saja, malam pun berasa di depan api unggun. Akhirnya, menurut pendapat banyak orang, orang arab relatif gampang penyakitan di masa tua, tentu saja penyakit dikarenakan banyak makan dan banyak tidur, serta penyakit karena selalu berada di ruang dingin ber-AC.  
21.  Orang arab lebih tau puncak dari pada bali. Konon kata orang-orang bule, mereka lebih tau bali dari pada indonesia sendiri. Mereka sering bertanya, bali itu mananya indonesia sih? Dan lain sebagainya. Lain hal dengan orang-orang di arab. Kalo ini sumbernya dari ust. Andi lho. Orang-orang di arab mengenal indonesia ya karena di indonesia ada Puncak. Katanya puncak itu kaya sorga. (Umumnya, orang-orang di arab mengagumi indonesia, selain ceweknya yang cakep-cakep ya kesuburan tanah indonesia). Bagi orang arab, boleh jadi Indonesia adalah representasi sorga bagi pikiran mereka, dianugerahi kesuburan, tanah yang hijau beserta tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka ragam. Sungai-sungai yang mengalir di mana-mana. Serta hujan yang –relatif- turun sepanjang tahun. Coba bandingkan dengan di arab?
Yang masih perlu di konfirmasi lagi adalah masalah Vila di puncak. Konon mereka –orang-orang arab yang nakal, yang suka “jajan”- menikmati betul jamuan villa indonesia. Ya makanannya, ya jamuan spesial yang lain. Akhirnya, akal-akalan nikah sirri dan lain sebagainya. Kalau yang ini hanya aku tau dari tivi, selebihnya cerita dari ustadz Andi.

Dulu pernah saya punya seorang ustadz yang keturunan timur tengah, saat perjalanan dari jogja ke solo. Sang ustadz memilih melepas jas hujan dari pada memakainya. Ia ingin menikmati hujan. Malah berkelakar, doi yan gorang mesir ini bilang. Kalo di mesir banyak petir kaya di indonesia, mungkin dulu fir’aun takut sama petir dan urung mengaku menjadi tuhan.



  

Selasa, 17 Juli 2012

Orang Arab : Bagian II


Membicarakan urusan orang lain memang –terasa- menyenangkan. Kekurangan atau kejelekan, sesedikit apapun sering kali menutupi kelebihan-kelebihan yang jauh lebih banyak. Sungguh, kita cenderung melihat orang lain secara tidak objektif. Kekurangan selalu menjadi bumbu paling gurih yang ditambahkan. Entah karena kita tidak suka dengan orang tersebut, entah juga karena kita sedang menyembunyikan kejelekan kita dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain. Pun begitu dengan yang akan kita bicarakan di tulisan ini, yang merupakan  kelanjutan tulisan-tulisan sebelumnya. Mengapa juga aku tidak menanyakan langsung kepada orang-orang arab sendiri, bukan pada orang-orang Indonesia yang tinggal di sana. Bagaimanapun, mereka adalah orang asing di mata orang arab. Dari banyak hal, terutama mengenai kebudayaan dan kebiasaan tentu saja berbeda. Tapi apa mau di kata, selain kendala bahasa, aku juga tak cukup punya waktu dan kesempatan untuk bertanya langsung pada sumbernya. Semoga saja yang saya sampaikan di sini tak berbeda jauh dari kenyataan, setidak-tidaknya dengan sudut pandang orang asing seperti saya.
Bahwa orang arab itu.
10.  Menggunakan pakaian Khas. Sudah menjadi kebiasaan tiap bangsa memiliki pakaian khas sendiri-sendiri. Di Arab saudi –Terutama Mekah dan Madinah- orang arab menggunakan baju “thob” untuk pria. Sejenis baju kurung terusan, berwarna putih,  berlengan panjang dengan kerah di leher. Lengkap dengan saku di dada kiri dan dua saku lainnya di pinggang kanan dan kiri. Belakangan saku pingang di modifikasi dengan sebuah kantung kecil di dalamnya. Katanya untuk menyimpan HP. Beberapa orang juga menggunakan pelengkap sejenis jubah sebagai identitas, seperti coklat, hitam, dan lain sebagainya. Tak lupa menggunakan sejenis sorban yang disebut kafiyeh.

Sementara untuk perempuan menggunakan baju abaya berwarna hitam. Lengkap dengan cadar, sebagian membiarkan kedua mata terbuka, sebagian lagi memilih menutupi seluruh wajah, menggunakan semacam burkha khas seperti Afganistan yang lebih mirip jendela. Hanya saja burkha arab menggunakan  dua kain tipis (setidaknya lebih tipis dari baju dan kerudungnya) untuk menutupi wajah. Seperti kaca riben saja. Ada step satu dan step dua. Step satu untuk terang, step dua untuk yang lbih gelap. Tidak seperti pakaian pria. Thob pria bisa berwarna warni hijau, putih, coklat dan lain sebagainya. Sementara pakaian perempuan arab selalu berwarna hitam. Pertanyaan saya adalah ketika para perempuan berpapasan di jalan, bagaimana mereka saling mengenali satu sama lain?

11. Sering nabrakin kendaraan. Untuk urusan ini aku juga tak terlalu mengerti. Seperti di kota-kota besar lainnya. Di Mekah dan Madinah juga sering terjadi kemacetan. Kalo di indonesia macetnya pas berangkat ataupun pulang kantor. Hla kalau di sana macetnya ya pas bubaran sholat fardu. Orang arab tidak suka berlincah ria menginjak rem dan kopling seperti di Indonesia. Kalau malas ya sudah tabrakin saja. Maju kena mundur juga kena. Ya tabrakin saja. Setelah itu ribut sebentar. Saling berargumen, menyalahkan satu sama lain. Mencari alibi sendiri-sendiri. Saling beristighfar, berzikir. Kemudian mencari jalan masing-masing. Terbukti dari setiap “Ijaroh” atau taksi yang saya lihat selalu ada penyok entah di body samping,  bember depan atau di belakang. Entahlah, mungkin karena mobil di sana murah-murah kali. Kalau rusak ya tinggal saja di jalan. Kan nanti bisa beli lagi. Selain taksi dan mobil pribadi, mobil derek juga terlihat di sana sini. Mengangkut mobil-mobil yang berparkir sembarangan. Mungkin juga karena ditinggal sama yang mpunya.
12. Orang arab -relatif- jarang Ngrumpi. Khusus statement ini adalah hipotesis saya sendiri. Rumah-rumah di arab bentuknya kota-kota bertingkat paling sedikit dua atau tiga, ndak limasan seperti di indonesia. Rumah-rumah di arab ada yang berpetak dempet, ada juga yang berpagar tinggi. Satu keluarga biasanya menepati satu lantai. Satu rumah biasanya ditempati beberapa keluarga. Dari kakek sampai cucu. (Na kalo yang ini berdasarkan info dari Syeh Andi mutowwif saya). Lha jadinya kalo ibu-ibu mau ngrumpi paling ya sama anak atau adek-adeknya saja. Jadi di arab tidak ada kebiasaan “Nonggo” –main ke rumah tetangga, atau ngumpul di satu tempat untuk ngrumpi-. Selain cuaca di sana sangat panas (Kalo musim panas, kalo musim dingin ya dingin sekali), para wanita juga relatif terisolir dari pergaulan umum.  Ndak seperti di indonesia. Selain gerobak tukang sayur, warung tetangga juga menjadi tempat favorit ibu-ibu atau mba-mba berngerumpi ria. Sepanjang saya berada di saudi. Tak ada satu acara tv atau koran yang membahas “Berita Kuning”. Istilah untuk conten gosip. Jadi intensitas ngerumpi orang arab relatif lebih sedikit dari pada orang-orang indonesia.

13. Orang arab gila pepsi. Menurutku istilah itu pantas disematkan. Bayangkan, sarapan pagi minumnya pepsi, makan siang pepsi, makan malam juga pepsi. Dengan catatan “harus dingin”. Seperti iklan di Indonesia saja. Jadi sedikit beda, di Arab apapun makannannya, minumnya yang Pepsi. Aku masih tidak mengerti, aku dulu pernah di protes salah seorang pelanggan saat jualan pepsi di kampus. Katanya pepsi berafiliasi dengan gerakan zeonis Israel. Heran juga di arab pepsi malah justru sangat digemari. Sekali lagi tua-muda, miskin kaya, apapun makannya minumnya selalu pepsi.
14. Orang arab terobsesi dengan yang serba dingin. Karena kondisi yang cenderung panas, menjadikan orang arab terobsesi dengan yang serba dingin, baik ruangan ataupun minuman. Kalo belum minum dingin belum minum rasanya. Air zam-zam di masjidil harom dan Nabawi pun ditaruh dalam termos besar agar tetap dingin. Bahkan di pasar Misfala dekat Masjidil kharom, yang super panas, kita masih bisa menikmati air zam-zam super dingin dan menyegarkan.
Pernah suatu pagi saat menginap di Jeddah, aku bangun dengan tiba-tiba. Menggigil seluruh badanku karena kedinginan. Tenggorokanpun terasa amat sakit. Kelu. Temperatur di remot kontrol menunjukkan angka 21 derajat celsius. Dengan bunyi blower diffuser terdengar kencang. Entah karena masih jetlek entah karena udara di ruangan memang super dingin. Begitupun selama perjalanan di dalam bis. Selalu saja menggigil. Suhu yang sama. Padahal di luar ruangan atau di luar bis, temperatur rata-rata antara 39 s.d 44 derajat celcius. Di arab –pada umumnya- temperatur udara relatif tinggi di musim panas, hujan sangat jarang turun. Pemandangan kanan kiri di sepanjang perjalanan hanya pasir dan batu. Tepatnya gunung batu.  Sangking gersangnya, rumputpun tidak mau tumbuh. Kebayang ndak? 2000 tahun yang lalu, nabi Ibrohim AS tanpa babibu melaksanakan perintah Alloh. Meninggalkan ibunda Siti Hajar nabi Ismail di mekah yang  gersang, tempat rumput pun tidak mau tumbuh? SubhanAlloh
15. Orang-orang di arab paling seneng dengan orang indonesia. Ada semacam kebiasaan memanggil orang yang tidak dikenal di arab. Orang arab biasanya di panggil Ahmad, orang india atou pakistan Badrun,sedangkan orang indonesia atau perempuan indonesia dengan “Siti Rahmah”. Sebenarnya nama itu seperti nama olok-olok untuk para pembantu rumah tangga (TKI – tenaga Kerja Indonesia? Bener ndak?). Namun kemudian berkembang menjadi sebutan umum.
Nah curi-curi dengar ini, selain terkenal kecantikannya, orang indonesia juga terkenal ramah-ramah. Paling rajin berbelanja. Sampe-sampe ada istilah “Towaf di Chronice” . Chronice adalah sebuh area belanja terkenal di daerah Jeddah. Tempat para ibu-ibu menghabiskan real mereka. Karena, pandangan kita beda-beda tipis antara belanja dan ibadah jadilah ritual itu menjadi seperti wajib. Khas orang-orang indonesia sehabis merantau atau pulang mudik, sibuk borong-borong. Dan orang-orang indonesia diperantauan sangat pandai berwira usaha. Maka jadilah sederet toko-toko bernama indonesia. “ali Murah” “Sultan  Murah” dan lain sebagainya. Pokoknya selalu ada embel-embel murah dibelakangnya.
Yang menyenangkan lagi, orang indonesia jarang menawar saat berbelanja, tentu saja selain masalah bahasa. Orang kita tak enak  menawar di sana.
Selain towaf di Chronice, hampir bisa dipastikan selesai bubaran masjid, orang indonesia tak lupa menyempatkan ke toko-toko atau belanja di obralan pasar kaget di depan masjid. Jangan tanya nawarinnya, ya pake bahasa indonesia.
“Hajj... Hajj... “
“Sepuluh real..  Sepuluh real..”
“Murah... Murah...” (Dialek  india mode: ON)
  Orang indonesia kalo belanja atau naik taksi,  umumnya lebih suka mengikhlaskan kembalian jika pedagang atau sopir tidak punya uang kembalian. Jangan tanya kalo orang dari negara lain. Bisa ribut berlama-lama itu.
Yang paling berasa tidak nyaman adalah jika mengenai “Kharim” bahasa gampangnya cewek. Rasanya saya lihat orang-orang di sana “gatel” kalau lihat cewek. Terutama orang indonesia. Cantik-cantik katanya. Kebetulan selama perjalanan saya dititipi dua perempuan, utusan dari biro di jakarta. Saat di hotel para petugas (yang semua laki-laki, di arab perempuan jarang yang bekerja di sektor publik, paling mentok ya guru atau dokter, trus pedagang –itupun orang badui-, selebihnya dikerjakan para pria,para wanita berada di rumah, mengurus anak dan lain sebagainya), mereka memaksa masuk –dengan alasan membersihkan kamar- ke kamar muhrim saya, sontak ditolak dong. Akhirnya Icha –salah satu muhrim saya-  menelepon meminta bantuan. Untung saja kamar kami masih satu lantai. Jadilah keributan kecil siang itu. Setelah peristiwa itu saya bener-bener yakin, bahwa kemanapun perempuan pergi di sana, semestinya harus didampingi mahromnya. Kalo ndak bisa gawat. Menurutmu kepiye?

16. Termasuk korban mode. Suatu malam, selepas dari jama’ah isya di masjid aku merasa kelelahan. Ah, kira-kira selepas umro ke dua.  Aku menunggu sampai jama’ah agak sepi, baru keluar dari masjid. Bukankah selepas isya adalah jam paling ramai di sana. Memang, bangunan sekitar masjid sudah di penuhi mall-mall dan hotel bintang lima. Sebut saja, Intercontinental, Bin Dawood, Soffa tower, dan yang paling tinggi adalah tower zam-zam. Saat berjalan-jalan di jabal rahmah, tower itu masih kelihatan. Terlihat anggun, atau sombong barangkali.
Pelataran masjid masih ramai, di sana-sini orang duduk-duduk di pelataran. Menggelar tikar, menjeplak begitu saja. Ketawa-ketiwi, sambil menikmati kudapan santap makan malam, sayangnya lebih banyak menu KFC dari pada menu kebab yang dinikmati.
Kembali ke masalah mode. Saat berjalan melewati tempat wudlu, aku berpapasan dengan serombongan ABG bercadar. Mereka tampak saling menggoda, dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Arab ‘Ammiah. Berkejaran satu sama lain. Mau tak mau ekor mataku mengikuti gerakan mereka. Yang tak biasa selain sepatu mereka, diujung sepatu  terlihat jelas bahan levis. Mereka mengenakan celana levis. Untuk baju atasannya, aku tidak tentu tidak tahu. Hanya mendengar dari para TKW bahwa mereka juga menjadi korban mode seperti kita di negara timur. Bahkan masih di pelataran masjid nabawi, ada toko yang memajang jelas di jendela show room pakaian yang semestinya tidak dipajang di Arab secara vulgar. Setidaknya di depan masjid.
Untuk pria sebenarnya tidak banyak variasi. Selain menggunakan variasi warna thob. Paling juga memodifikasi bentuk krah baju, saku, dan kancing lengan baju. Sebagian memberikan accesories bordiran di sekitar dada kanan. Sebagian dibuat agak lebih ketat, agar bentuk tubuh mereka lebih kelihatan macho gitu. (Kalo yang ini murni prasangka saya). Tapi setidaknya, hampir tak ada pria (dalam pakaian resmi) yang menggunakan pakaian selain Thob.
Ini akhir jilid dua, berikutnya cekidot lagi ya......

Jumat, 13 Juli 2012

Orang Arab : Bagian I


Alkhmadulillah beberapa waktu yang lalu Alloh memberikan kesempatan kepada saya, untuk mengunjungi Baitulloh. Saya tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Selain berpuas diri di dua tanah harom, saya menyempatkan diri untuk mengamati perilaku keseharian orang arab. Selain pengamatan fisik, saya tentu saja dibantu seorang nara sumber. Selama di sana, saya banyak bertanya kepada ustadz saya  yang nota bene adalah seorang mantan TKI. Namanya Ust. Andi. Beliau sudah sepuluh tahun tinggal di sana. Pernah mencoba bermacam profesi. Tentu saja cukup banyak mengenal tabiat orang arab pada umumnya.  Yang saya sampaikan masih sangat sederhana mengingat singkatnya waktu dan sedikitnya nara sumber. Harus digaris bawahi, ini  sekedar intermeso saja. Kalau ada benarnya itu dari Alloh SWT, kalau salah ya di harap ma’lum saja.
Dari hasil pengamatan diketahui, bahwa orang arab itu.
1.       Paling baik dalam menyambut tamu. Kebiasaan ini memang udah dari jaman Nabi Ismail AS masih anak-anak. Kebaikan Siti Hajar menerima kabilah-kabilah arab untuk numpang hidup di Mekkah menjadi tauladan bagi orang-orang arab pada masa berikutnya. Disamping itu ketaatan untuk meneladani Rosululloh menjadi dasar yang lain. Bahwa tuan rumah berkewajiban menjamu tamu selama tiga hari. (Hadistnya mahsyur)
2.       Suka dipuji. Kalau yang ini manusiawi. Siapapun orangnya pasti suka.
3.       Suka Bersedekah. Adalah kebiasaan orang arab untuk berlomba-lomba berbuat baik kepada orang lain. Di masa lampau, salah satu tolak ukur kemuliaan dan ketinggian derajat orang arab di masyarakat adalah dari besarnya kebaikan yang ia berikan kepada orang lain. Meskipun, posisi paling bergengsi (bahkan sampai sekarang) adalah penjaga 2 tanah haram.
4.       Gila Kecepatan. Bisa diketahui dari mobil-mobil yang di pakai di sana. Umumnya pabrikan eropa yang ber “cc” besar. Ferrari, ford, GMC dan lain-lain. Mobil-mobil pabrikan Jepang seperti toyota lebih banyak dipakai buat taksi.  kijang innova, dan toyota camry. Padahal di indonesia kan ntu, tu mobilnya bos-bos. Selain itu tingginya angka kecelakaan menjadi acuan bahwa mereka begitu tergila-gila dengan kecepatan. Saya melihat sendiri bangkai mobil berserakan di sana-sini disepanjang perjalanan saya dari Mekah-madinah, maupun dari madinah-jeddah. Di jalan-jalan di arab telah di pasang kamera pengintai untuk menangkap basah para tukang ngebut. Sekali kena, paling sedikit 250 real harus keluar (ya setengah juta lebih, 1 real = Rp. 2500). Bayangkan saja jarak Mekah-Madinah sejauh 400 km, setara Jakarta-Jogja ditempuh hanya dalam waktu 6 jam. Berikut istirahat dan lain-lain. Selain jalanan luar kota lurus dan datar (kalo ada gunung langsung di jebol), volume kendaraan juga tidak sebanyak di indonesia dan masih banyak lagi faktor berikutnya.  Jadi was-wis-wus...
5.       Update barang baru. Pernah suatu malam saat saya keluar dari masjidil harom, tak sengaja ngelihat ada mba-mba pake “burkha” (saya anggap saja orang arab) sedang sibuk memainkan Gadget keluaran terbaru. Sambil “Ndlosor” di pelataran masjid. Contoh lain adalah HP yang dipakai sama askar (security) dan para pengurus masjid ndak ada yang poliklinik –maksude poliponik- semua pakai “touch screen” (maaf blepotan nulisnya). Selama ziarah di kota, di sana sini terpampang iklan gadget keluaran terbaru, berikut promosi yang lain. Disamping mereka rejekinya baik, barang-barang elektronik umumnya lebih murah 20-30 persen dibandingkan dengan di indonesia.
6.       –Cenderung-  suka pamer. Gampanya kalo abis beli barang-barang baru. Entah elektronik, entah furniture. Mereka mengundang sanak saudara dan handai tolan, untuk melihat barang-barang yang baru saja ia beli. Kemudian membagakannya di depan mereka. Akhirnya terjadi persaingan kepemilikan barang paling update. Kalau info tentang ini saya dapat dari seorang kenalan TKI yang bekerja sebagai sopir pribadi.
7.       Taat beribadah. Secara umum, orang-orang di mekah taat beribadah. Jangan coba-coba keluyuran di tanah haram waktu sholat tiba. Bisa di seret sama askar. Sial-sial bisa masuk bui. Betapapun di jeddah lebih bebas. Tapi masjid-masjid selalu padat di waktu sholat. Bahkan mengantri. Jadi jangan iri kalau rejeki mereka lebih baik dari kita. Lha mereka lebih taat dari pada kita di tanah air.
8.       Terus terang. Secara umum orang arab lebih terus terang. Mereka tidak akan segan mengingatkan orang lain. Apalagi saat di masjid. Mereka tidak akan menyerah jika merasa di jalan yang benar. Dengan keyakinan bahwa di tanah haram hal baik selalu menang. Dan kedzliman selalu kalah. Jadi ndak usah sungkan-sungkan ngeyel di sana kalau memang anda berada di posisi yang benar.
9.       Kalau anda kesasar, orang arab akan mengantar anda sampai ke tempat tujuan. Atau setidaknya sampai ke tempat yang anda mengerti. Hal ini masih berkaitan dengan doktrin kemuliaan-kebaikan yang sudah mengakar di sana.
10.   Perempuan yang baik adalah perempuan yang “gendut”. Seperti kita ketahui, setiap bangsa punya mitos kecantikan sendiri-sendiri. Di jawa cantik itu berarti langsing singset, berkulit kuning langsat. Di amerika yang kudu –maaf- semok begitu. Sementara di gurun pasir, arab, dan sebagian afrika. Cantik itu berarti gendut. Sekali lagi bukan “Gembrot” ya. Saya beruntung bertemu dengan seorang santri yang belajar di salah satu pesantren di mekkah. Namanya M. Mujibuti  asal Madura. Ia nyantri di sana lantaran ibunya marah besar karena mujibuti membawa pulang batu Harom sisa melempar jumroh. Sebagai hukuman, Ia dipaksa pergi lagi ke Mekkah dan tidak boleh pulang sampai menjadi ahli agama.   Mujibuti bilang kepada saya, menurut syair-syair kuno, orang arab lebih banyak memberikan sanjungan kepada perempuan-perempuan gendut. Hal itu berhubungan dengan mitos kesuburan. Bahwa perempuan yang gemuk berarti perempuan yang sehat. Perempuan yang sehat berarti punya kemungkinan untuk bisa melahirkan banyak anak-anak. Mengingat gersangnya tanah arab menjadi sebab tingginya angka kematian akibat, sakit atau kekurangan makanan dan minuman.
Sementara segini dulu ya mas bro. Masih ada banyak point lagi yang saya temukan tentang orang arab. Biar tidak bosen bacanya. Saya terbitkan sedikit demi sedikit. Pokmen cekidot terus blok saya.




  

Selasa, 26 Juni 2012

TOKO ISTRI


Sebuah toko yg menjual istri baru dibuka, dimana pria dapat memilih wanita untuk dijadikan sebagai seorang istri. Di antara instruksi2 yg ada di pintu masuk, terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut :
“Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI!”
Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan kelompok calon istri.
Semkin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai wanita tersebut. Kamu dapat memilih wanita di lantai tertentu / lebih memilih ke lantai berikutnya, tapi dengan syarat tidak bisa turun lagi ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko.
Lalu, seorang pria pun pergi ke ” TOKO ISTRI ” tersebut untuk mencari istri. Di setiap lantai terdapat tulisan seperti ini:
Lt 1: “Wanita di lantai ini taat pada Tuhan & pandai memasak.”
Pria itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.
Lt 2: “Wanita di lantai ini taat pada Tuhan, pandai memasak & lemah lembut.”
Kembali pria itu naik ke lantai selanjutnya.
Lt 3: “Wanita di lantai ini taat pada Tuhan, pandai memasak, lemah lembut & cantik.”
”Wow!”, ujar sang pria, tetapi pikirannya masih penasaran & terus naik. 
Lalu sampailah pria itu di lantai. 4 dan terdapat tulisan:
“Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget & sayang anak.”
”Ya ampun!” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya!”
Dan dia tetap mlanjutkan ke lantai 5:
“Wanita di lantai ini taat pada Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget, sayang anak & sexy.”
Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah ke lantai. 6 & terdapat tulisan:
“Anda adalah pengunjung yg ke 4.363.012.000. Tdk ada wanita di lantai ini. Lantai ini hny semata2 pembuktian untuk pria yg tidak pernah puas.”
Terima kasih telah berblanja di ” TOKO ISTRI “. Mohon hati2 ketika keluar dari sini.

Selasa, 29 Mei 2012

Dilema Imam bag III: Bekam ke-3


Hari Sabtu beberapa waktu yang lalu...
“Boz... pelan-pelan dong..!!”
“MasyaAlloh sakit banget..!”
Aku mengeluh. Eh melenguh. Menahan sakit dan ngilu. Imam asyik memencet salah satu jari kakiku. Kelihatan biasa saja. Tapi kalau engkau ikut merasakannya. Sungguh ngilu luar biasa. Sakitnya sampe ke ubun-ubun. Sekujur tubuhku sampai mengeluarkan keringat dingin. Tak tahan aku menahan sakit.
“Brisik...” Imam membentak.
“Kalo mau sehat ya nurut !!!”,
“sakit dipelihara...”
 ia nampak puas. Cengar cengir. Bahagia sekali melihat penderitaanku ini.
“Wadow!!!” aku menjerit lagi.
Imam tak juga mengendurkan pencetan  tangan di kakiku. Genap sudah sepuluh jari kakiku dipencet-pencet imam. Genap sudah penderitaanku sore itu. Eh belum ding, kan belum dibekam. Tusukan jarum bekam benar-benar maknyus. Sakit clegit-clegit. Namanya, orang ndak sehat, disenggol sedikit saja, sakit rasanya.
Selain bekam dan jualan jamu herbal,  Imam punya keahlian memijit. Pijat refleksi istilahnya. Jadi apapun sakitnya, imam tak menyentuh langsung bagian yang sakit. Namun memijat seputaran tangan dan kaki.  Imam biasanya mendeteksi penyakit pasien dengan melihat mata, kuku, lidah dan gerak badan pasien. Kemudian, untuk memastikan perkiraan ato bahasa kerennya hipotesis, imam memencet jari-jari  kaki atau tangan pasien. Setelah itu baru melakukan bekam atau pun memberikan racikan jamu herbal. Kalo tak pikir-pikir imam sudah seperti tokoh Jang Geum di sinetron favouritku. Jewel in the Palace. Itu-tu dokter korea yang super cantik, pekerja keras, dan paling hebat mengobati para pasien. Baik permaisuri maupun sang raja. Tenang bro, aku tak begitu maniak dengan sinetron korea.  Selain sinetron itu aku males nonton, takut kecanduan. He he he he. Lha wong baru satu sinetron  saja sudah tak koleksi itu sampe 22 gigabyte di hardisk. Ngebak-ngebaki to? Apalagi kalo nonton yang lain juga. Bisa-bisa felm yang lain ndak kebagian.  Padahal sebenarnya tetep saja karena alasan yang pertama.
Oke kembali ke laptop.
Puas memijat kakiku, imam menyiapkan alat bekam. Ini kali ketiga aku dibekam. Waktu pertama kali dibekam, tubuhku serasa lemas semua. Seperti tak lagi tersisa darah dibadan ini. Lebay.com.  Kedua kali, sedikit segar. Tapi jangan tanya di urusan makan. Tambah rakus saja setiap hari. Mudah-mudahan yang ketiga kalinya akan terasa baikan. Kembali segar berenergi. Wes hwes hwes... bablas angine... (Alm. Basuki Mode:On).
“Enak ya kerja di Proyek yo?” imam mengelap punggungku dengan sesuatu.
Aromanya tak asing. Minyak klentik.
Aku menjawab dengan Aww lagi. Imam memijit titik akupuntur di punggung sana.
“Urip yo sawang-siwangan om..”
“Yo ndak bisa kerjaan kita dibanding-bandingkanlah...”
“profesi kita kan beda”
“Saya mah ndak neko-neko om”
“Saya digaji dari yang saya kerjakan saja”
“Gajiku ya rejekiku tiap bulan, cukup ndak cukup ya harus dicukup-cukupin..”
“Sebesar apapun gaji kita, sebenarnya ya cukup”
“Kitanya saja yang neko-neko, pengin ini pengin itu, macem-macem pokoke”
“Lha mau ngorupsi ya buat apa om, kalo dimakan yo ndak jadi daging, kalo jadi daging ya pol-pole Cuma jadi daging penyakit, ya kolesterol, ya tumor, ya sebangsanya itulah ...”
Imam mengelap sisa darah di punggungku. Memasukan ke dalam kantong keresek, bersama tisu kotor dan jarum sisa bekam. Alat bekam diletakan di sebelah washtafel, segera dibersihkan. Agar darah tak lekas mengering, mengurangi higienitas peralatan. Rasa perih terasa saat cairan dibalurkan. Tak asing juga. Ini aroma alkohol kadar rendah. Revanol. Aku masih tidak mengerti urusan alkohol ini. Alkohol memang dihukumi harom apa bila di konsumsi (dimakan atau diminum). Tapi bukankah Alkohol tidak najis? waAllohu ‘alam.
“Wah kowe iki iso bae gole njawab yo”
(Wah kamu ini bisa saja njawabny yo)
Imam meratakan basuhan revanol. Aku meringis, perih sekali.
“Lha terus mau gimana?”
“Namany orang hidup itu yo sepaket”
“Kita mewarisi rasa ingin memiliki, ingin menguasai, ya to?”
“Itu yo fitroh, bawaan lahir”
“kalo kita punya rasa iri, pengin punya yang orang lain miliki yo sudah sewajarnya om...”
“Tapi sering kali kita ini lupa, setiap keinginan ada konsekwensinya,”
“Setiap yang kita miliki itu amanah, dan tiap-tiap amanah ada pertanggungjawabannya”
“Ya tanggung jawab di dunia, ya tanggung jawab di akherat”
“misalnya?” Imam menyela. Aku lihat lebih mirip ngetes.
“kalo kita punya montor, enak bisa dinaiki kemana-mana”
“Ndak perlu jalan kaki, ndak perlu bercapek-capek”
“Tapi yaitu, harus diisi bensin, ban diisi angin, kalo rusak harus dibeneri.”
“Ada biaya, ada pengorbanannya”
“Contoh lain lagi....”
“Punya anak, punya istri, sama juga begitu... “
“Ndak bisa Cuma dibangga-banggakan tok, ada konsekwensinya itu?”
“Harus dijaga sebaik-baiknya..”
“Harus dididik yang benar, yang baik, ya pengajaran agama ya pengajaran ilmu pengetahuan”
“Ndak Cuma dikasih makan, makanan yang (harus) halal, sumber nafkahnya (harus) benar”
 Imam manggut-manggut. Mengiyakan.  Kedua tangan imam asik menari di pundakku. Aku nyerocos terus sedari tadi. Kapan lagi terus dipijit begini. Semua orang juga tau. Aku ini ibarat menggarami lautan. Imam tetap jauh lebih paham urusan agama dari padaku. Beliau ini lulusan pesantren ternama, lha aku ini yo mung pinter ngomong saja. 
Kullukum ro'in, wa kullukum mas-ulun 'an ro'iyatihi...
Spontan Imam membacakan sesuatu. Aku agak sedikit familiar. Ingat-ingat jaman sekolah dulu. Pas pelajaran pengajian. Lha bagaimana mau paham, kalo diterangkan tauziah kan hobinya ngantuk. Jadi yo dengarnya separo-separo. Sriwing-sriwing gitu.
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap peminpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” Imam melanjutkan.
Terbukti kan, dihadapan imam aku ini sangat kecil. Imam hapal di luar kepala. Imam jauh lebih paham maknanya daripadaku. Imam rajin mengamalkanya. Dengan caranya.
“Ya kira-kira begitulah maksudku om.” Aku ngeles. Sok tahu.
“Ha ha ha ha ha.” Kami berdua tertawa. Menertawakan diri sendiri. Aku menertawakan sok tahuan ku. Imam tertawa karena bliau sukses mengajariku urusan ini. Tak dipungkiri, aku dan imam memang punya banyak kesamaan.  Selain ukuran tubuh kami, kami sama-sama model pria “mercon renteng” meletup-letup.  Berekspresi spontan. Bereaksi sedikit berlebihan.
Ups salah. Aku buru-buru menutup mulut. Kami tertawa terlalu keras barusan. Aku lihat fikri bergerak-gerak. Terbangun dari tidur. Tak  bersuara. Hanya kedua mata dan bibir si kecil yang bereaksi. Terganggu oleh kelakuan kami.
Kata mba Nur –istri Imam- sudah dua hari ini fikri demam. Panas tinggi, sampe 39 derajat celcius. Ia Lebih banyak istirahat,  tergolek di dipan dari pada dibawa jalan-jalan. Seandainya, fikri sehat sepertia nak-anak yang lain, mungkin sudah mengatakan sakitnya. Dimana yang sakit. Umur fikri sudah hampir tiga tahun sekarang. Semestinya sudah bisa berjalan. Berlarian ke sana-kemari seperti anak-anak kebanyakan.
Terapi hari ini selesai sudah. Aku harus segera pamit. Urusanku masih banyak. Biasa, sok sibuk gitu. Tadi imam juga bilang, ia mau kondangan. Fikri sakit, jadi tak bisa diwakilkan mba Nur. Ia harus datang. Tak enak aku berlama-lama di sini. Biar sama-sama nyaman. Toh bulan depan masih bisa main ke tempat imam lagi. Masih bisa ketemu lagi. InsyaAlloh. 
Saat pulang, imam membawakanku sebungkus “jamu godog” dan sebotol kecil madu setengah kilogram. Saat berpamitan, sekilas aku melihat ke arah fikri. Agak lama. Sesuatu sedang terjadi. Entahlah.  Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Mudah-mudahan fikri sehat kembali seperti sedia kala.


Rabu, 16 Mei 2012

Kisah Mamak bag III : Uri


Aku bisa mengatakan malem ini sangat cerah. Bulan bersinar lebih terang dari biasanya. Ya karena langit sedang cerah, ya karena –katanya para ahli astronomi- malam ini ada “super moon”. Tak aku mengerti maksud yang pas dari istilah supermoon. Yang jelas, sore ini langit Jakarta cerah. Hujan terbukti sangat ampuh membersihkan Jakarta. Tak hanya debu-debu di dinding gedung tinggi nan megah, namun di seluruh langit Jakarta. Yang jadi korban selalu saja got. Mampet di sana-sini. Bau busuk mengunggun, menusuk hidung. Anggep saja, ini kompensasi dari cerahnya angkasa. Sedikit lebih baik. Lebih baik dari pada bau dan langit berdebu.
Aku duduk di “Lincak” tempat biasa warga gang buntu ngobrol. Tempat paling istimewa di kontrakan mas ku. Besok ada acara di Jakarta. Urusan kerjaan. Jadi ngalahi datang sejak sore ke Jakarta. Biar paginya ndak terburu-buru. Tidak seperti biasa, lincak masih sepi. Mungkin, masih pada sibuk ngurusi urusan rumah. Ato belum pada pulang dari tempat bekerja.
Bukankah sudah pernah kukatakan kepadamu, jakarta memang kejam untuk orang-orang yang tak membekali diri dengan kemampuan maksimal. Ya kemampuan ilmu ya kemampuan dalam pengalaman. Apalagi yang tidak punya tujuan, saya nasehatkan jangang coba-coba. Jakarta akan jadi tempat yang sangat kejam. Istilah lama, “Ibu Kota lebih kejam dari pada ibu tiri”. Ibu tiri sekarang kejam kaya di felm “Ari anggara” ndak ya?. Semoga saj tidak, cukup ibu kota saja yang kejam, ibu tiri ndak usah ikut-ikut. Jadi perfikirlah sebelum bertindak. Berfikirlah masak-masak sebelum mengadu nasib di ibu kota. Sokbijak.com
Tiba-tiba mamak sama bapak datang. Wajah mamak serius. Sesuatu mungkin sedang dipikirkan. Ah, bukankah setiap hari juga begitu. Selalu direpotkan dengan masalah-masalah -yang menurutku- ndak perlu diributkan. Si bapak Daud jangan ditanya. Bliau ini tetap santai seperti biasa. Cengar-cengir. Seperti tidak terjadi apa-apa. Aku tetap sulit memahami cara berfikir bapak Daud. Hidup ya mengalir saja. Seperti kopi ditenggorokan. Seperti asap kretek dji sam soe di kerongkongan.
Aku tak juga beringsut dari tempat dudukku. Seperti sudah dikomando, mamak sama bapak Daud duduk berjejer. Tepat di depanku. Hanya dipisahkan gang buntu. Ada tiga kursi kecil di sana. Tempat biasa kami ngumpul.  Kali ini mamak terlihat lebih serius. Sementara bapak Daud terlihat makin santai. Nikmat sekali melihatnya menyedot keretek. Mesti tak lengkap. Kopi sepenuh hati mamak belum jadi. Airnya belum mateng. Takkan ada yang lebih mengganggu pikiran mamak selain sulungnya Uri. Sekarang Uri kelas tiga SMA. Mamak tentu bingung bagaimana nanti si Uri. Keluarga mamak memang tak punya banyak referensi. Mas bro sekalian juga tau, tak banyak perempuan betawi bersekolah tinggi. (Untuk statemen ini saya mohon maaf sebesar-besarnya, semoga hanya terjadi di gang buntu). Begitu lulus sekolah –kadang SMP atau SMEA- langsung dinikahkan. Budaya seperti ini sebagian masih jadi kebiasaan. Perempuan yo Dapur, Sumur, Kasur. Sebuah Ironi.
“Bagaimana ini om?” tanpa ba bi bu mamak langsung memulai pembicaraan.
“Bagaimana apanya mak?” aku jawab sekenanya. Si bapak Daud menyedot keretek semakin dalam. Sedotan terakhir.
“Si Uri lah om?, kan udah selesai ujian. Trus mau gimana om?
Mamak bertanya semakin serius. Penginnya nongkrong di sini biar santai, eh malah diajakin ngobrol serius. Seserius raut muka mamak seperti sekarang. Seserius sedotan bapak Daud di sisa puntung rokok.
(Maafkan bukan bermaksud mengeksplor iklan rokok. Tapi memang tidak ada yang lebih serius bagi bapak daud selain saat merokok, terutama di detik-detik terakhirnya.)
“Maksudnya bagaimana mak?” aku menyelidik.
“Yaitu om, nyari tau cabangan kek.”
“Ato nyariin lowongan buat Uri”
“Minta saran dong om?”
“saran apa gitu?”
Aku manggut-manggut. Diam beberapa saat. Tak juga menjawab.
Wajah serius mamak berubah, lebih kelihatan cemas. Kerutan di wajahnya tidak bisa bohong.
Lha ini siapa yang punya anak, siapa yang suruh ngurusi masa depannya. Lha yang njalani hidupnya yo Uri-uri juga.
“Kalo mamak minta pendapat saya, yo Uri harus sekolah lagi.”
 “Lagian jarang-jarang ada orang jakarta yang merantau jauh”
“Perempuan lagi.”
“Apa ndak hebat itu, sekolahnya tinggi.”
“Apa ndak keren itu mak?”
Mata mamak berbinar. Ada perasaan bangga di sana. Sebentar kemudian ditekuk lagi. Apa mungkin bisa?
“Tapi bagaimana biayanya nanti om?”
“Om tau sendiri sekolah SMA saja sudah mahal begitu”
“Bagaimana kuliah nanti?” mamak semakin kawatir.
Melihat Uri menjadi sarjana sepertinya cuma mimpi. Terlalu jauh dari kenyataan. Utophia bahasa kerennya. Bukankah kita sering kali begitu. Berhenti berharap dengan yang belum terjadi. Menggunakan akal kita yang sangat sederhana ini untuk mendahului takdir. Takdir yang Maha Kuasa. Dzat Yang membelah laut merah menjadi jalanan yang luas. Yang menjadikan bulan terbelah menjadi dua. Yang menjadikan matahari berdiam di peredaraannya. Sedangkan ini hanya urusan kecil saja. Pasti mungkin. Bergantung pada kita yang memperjuangkannya. Niatkan sepenuh hati. Kerjakan dengan sekuat tenaga. Kemudian serahkan hasilnya kepada yang punya Kuasa. Yang punya manusia.
“Mamak benar-benar pengin Uri sekolah lagi?”
Dijawab dengan anggukan. Mamak telihat lebih antusias.
“Sebenarnya kuliah itu ndak harus mahal-mahal mak..”
“Bahkan, kalo uri bisa diterima di tempat yang tepat, insyAlloh tidak akan lebih mahal dari biaya sekolah uri selama ini ma...”
“Lha gimana caranya itu om? Masak kuliah lebih murah dari SMA. Bukannya tingaktannya kan lebih tinggi?”
Mamak penasaran. Ingin tau. Mencoba berlogika.
“Lha ya harus nyari tempat kuliah yang jauhan dikit. Biar biayanya lebih murah.”
“ Jangan lupa.”
“ Semahal-mahalnya Kuliah di negri tetap saja masih lebih murah dari pada kuliah di swasta ma.”
“Lha kata tetangga kemarin nyekolahin anaknya di UNJ, mahal banget om?”
“Katanya, uang pangkalnya saja sembilan juta.
“Lha dia bisa mbayarnya, lha kita?”
“Uangnya dari mana om?”
Masuk akal juga alasan mamak. Bukankah bapak Daud seorang buruh pabrik. Tidak sedang merendahkan, namun susah dihitung dengan matematika. Pendapatan bapak Daud tidaklah besar. Mamak membantu apa saja untuk menopang kebutuhan keluarga. Ya mencuci baju orang, ya momong anak orang, ya macem-macemlah. Untuk kebutuhan sehari-hari berikut menyekolahkan anak-anak. Apalagi harus menyekolahkan sampai dengan tingkat perguruan tinggi. Bagamana mengaturnya, bagaimana mencukupkannya. Betapun kuliah itu murah. Tetap saja butuh biaya yang tidak sedikit. Tak semua orang tau bagaimana cara  ngakalinya.
“Kan ada beasiswa mak?”
“Trus mbayar uang bangunananya kan bisa dicicil mak”
“Tapi kan kalo segitu tadi kan banyak mbanget om”
“Kalo dicicil juga kapan lunasnya...” mamak memotong buru-buru.
Aku tersenyum. Masuk diakal juga.
“Trus buat makan sehari-hari di sana gimana om?”
“Buat buku, photo kopi, dan lain-lain,  tetek mbengek, dan segala macemnya gimana om?”
“Lha kemarin pas di SMA saja ribet mbanget, apalagi kalo ntar kuliah?”
“Pusing om, waduh... duh..  duh..” mamak kembali berargumen.
Tak lupa bumbu lebai, nepok-nepok jidat.
Aku kembali tersenyum. Sedikit berbeda. Aku memasang gaya bijaksana. Macam Pak Bina di serial Mbangun Desa dulu. Masih ingat kan, itu lho gerombolannya Den Baguse Ngarso, Sronto, sama juragan antagonis si Kuriman yang selalu mbikin onar. Berikut argumen-argumen masuk akal, yang justru menambah runyam suasana. Kalo yang jaman kecilnya suka nonton TVRI pasti lah tau sinetron ini. Intinya si Pak Bina ini tokoh paling bijaksana. Yang memberi solusi untuk semua permasalahan. Masalah bagi Den Mbagus yang kemaki plus sok tau. Trus menjembatani Sronto sama istrinya yang lugu dan selalu dikerjai dan dimanafaatkan. Ya sama den bagus, ya sama kuriman. Lha kalo aku ini jelas bukan Pak Bina. Tapi gayanya tok yang mirip. Padahal sok tau. Namanya juga lagi memberikan semangat buat orang lain. Kudu optimis. Harus bisa meyakinkan orang yang diajak bicara. Tidak lupa ditambah bumbu-bumbu pengalaman pribadi. Wis mantap pokoke lah.
 “Begini mak, mamak mau melakukan apa saja biar uri bisa sekolah?”
Mamak mengangguk.
“Kalo mamak pengin Uri sekolah, Pertama mamak harus ikhlas pisah dengan uri”
“Biarkan ia merantau jauh, biar biayanya lebih murah”
“Kalo sekolah di daerah, apalagi yang negri kan biayanya murah”
“Mungkin di Semarang, solo, ato jogja mak”
“Nah, asalkan mamak mau menyisihkan uang sedikit lagi dari biasanya, insyaAlloh akan cukup”
“Pas SMA uri mbayar brapa mak?”
“Tiga ratus mapuluh om?”
“Sebulan?”
“iya Om, namanya jakarta, apa-apa mahal, sayuran aja mahal, apalagi sekolahan”
“Nah, klo Uri bisa sekolah di daerah, Mamak perlu nambahin sedikit lagi.”
“Ya sekitar tiga ato empat ratus ribu lagi”
“Itu cukup untuk SPP, sama biaya hidup Uri di sana nanti”
“InsyAlloh mak..”
“Itu beneran om?”
Aku mengangguk. Kali ini anggukanku lebih mantap. Menyemangati mamak.
“Lha terus nyari tambahanya itu om yang susah?” Ada saja argumen mamak.
Aku tidak menjawab. Aku mengarahkan pandanganku ke bapak daud. Masih sibuk dengan batang kreteknya. Pandangannya meleng. Tapi telinganya tajam mendengarkan.
“Beh, babeh kalo ngrokok sehari paling ndak habis sebungkus kan?”
Yang ditanya tidak menjawab. Hanya menyeringai. Ya begitulah.
“Nah mak, Rokok sebungkus kan harganya sepuluh ribu”
“Kalo sehari sepuluh ribu, kalo sebulan kan berarti tiga ratus ribu mak”
“Suruh saja si babeh berhenti merokok?”
“Mana mau Om, orang udah kebiasaan gitu”
Suara mamak meninggi. Sebel lihat suaminya tiap hari mbakar duit.
“Lha itu kan baru salah satu contoh, yang lain kan masih banyak lagi”
“Kalo masalah ini, silakan bapak Daud yang milih”
“Apa milih merokok, atau mbiarin anaknya yang lagi sekolah dirantau sana kelaparan?”
Mamak terlihat optimis. Mata kanan mamak melirik ke arah bapak Daud. Dengerin tuh.
“Pokoke dicoba dulu mak”
“Ikutan ndaftar perguruan tinggi, apa itu namanya SNMPTN”
“Berusaha dulu, nanti hasilnya seperti apa, serahkan saja kepada Yang Punya Kuasa.”
“Kudu tetep optimis, ndak boleh putus asa”
“Dan Jangan lupa itu mak, urusan rokoknya bapak Daud,”
“Kan lumayan bisa ditabung. Buat sekolah anak-anak”
Suara motor kencang berbunyi. Lewat di depan kami. Tetangga sebelah pulang kerja. Sempurna memotong sebentar perbincangan kami. Gang buntu memang sempit. Tapi hati-hati kami para penghuni gang buntu senantiasa lapang. Ada masalah kita biacarakan bersama. Ada makanan, ya kita habiskan bersama. Seperti apapun masalah yang ada selalu ada penyelesaian sesudahnya.
Uri muncul dari balik pintu. Membawa nampan berisi minuman. Teh manis untukku, dan kopi sepenuh hati untuk bapa Daud. Sedari tadi ia mendengarkan perbincangan kami dari dalam. Wajahnya berbinar. Ramai seperti gang buntu. Bersiap menjemput masa depanya yang cemerlang. Tetap semangat Ri. Semoga Alloh menunjukan jalan yang baik. Menganugerahkan takdir kehidupan yang luar biasa untukmu. Menjadi pembeda untuk orang-orang disekelilingmu. Semoga Alloh mengabulkan.  InsyaAlloh.

Rabu, 09 Mei 2012

Hymne



Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua,
Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku,
Di dalam Pancasilamu jiwa seluruh nusaku,
Kujunjung kebudayaanmu kejayaan Indonesia,

Bagi kami almamater kuberjanji setia,
Kupenuhi dharma bakti untuk ibu pertiwi,
Di dalam persatuanmu jiwa seluruh bangsaku,
Kujunjung kebudayaanmu kejayaan nusantara,