Selasa, 29 Mei 2012

Dilema Imam bag III: Bekam ke-3


Hari Sabtu beberapa waktu yang lalu...
“Boz... pelan-pelan dong..!!”
“MasyaAlloh sakit banget..!”
Aku mengeluh. Eh melenguh. Menahan sakit dan ngilu. Imam asyik memencet salah satu jari kakiku. Kelihatan biasa saja. Tapi kalau engkau ikut merasakannya. Sungguh ngilu luar biasa. Sakitnya sampe ke ubun-ubun. Sekujur tubuhku sampai mengeluarkan keringat dingin. Tak tahan aku menahan sakit.
“Brisik...” Imam membentak.
“Kalo mau sehat ya nurut !!!”,
“sakit dipelihara...”
 ia nampak puas. Cengar cengir. Bahagia sekali melihat penderitaanku ini.
“Wadow!!!” aku menjerit lagi.
Imam tak juga mengendurkan pencetan  tangan di kakiku. Genap sudah sepuluh jari kakiku dipencet-pencet imam. Genap sudah penderitaanku sore itu. Eh belum ding, kan belum dibekam. Tusukan jarum bekam benar-benar maknyus. Sakit clegit-clegit. Namanya, orang ndak sehat, disenggol sedikit saja, sakit rasanya.
Selain bekam dan jualan jamu herbal,  Imam punya keahlian memijit. Pijat refleksi istilahnya. Jadi apapun sakitnya, imam tak menyentuh langsung bagian yang sakit. Namun memijat seputaran tangan dan kaki.  Imam biasanya mendeteksi penyakit pasien dengan melihat mata, kuku, lidah dan gerak badan pasien. Kemudian, untuk memastikan perkiraan ato bahasa kerennya hipotesis, imam memencet jari-jari  kaki atau tangan pasien. Setelah itu baru melakukan bekam atau pun memberikan racikan jamu herbal. Kalo tak pikir-pikir imam sudah seperti tokoh Jang Geum di sinetron favouritku. Jewel in the Palace. Itu-tu dokter korea yang super cantik, pekerja keras, dan paling hebat mengobati para pasien. Baik permaisuri maupun sang raja. Tenang bro, aku tak begitu maniak dengan sinetron korea.  Selain sinetron itu aku males nonton, takut kecanduan. He he he he. Lha wong baru satu sinetron  saja sudah tak koleksi itu sampe 22 gigabyte di hardisk. Ngebak-ngebaki to? Apalagi kalo nonton yang lain juga. Bisa-bisa felm yang lain ndak kebagian.  Padahal sebenarnya tetep saja karena alasan yang pertama.
Oke kembali ke laptop.
Puas memijat kakiku, imam menyiapkan alat bekam. Ini kali ketiga aku dibekam. Waktu pertama kali dibekam, tubuhku serasa lemas semua. Seperti tak lagi tersisa darah dibadan ini. Lebay.com.  Kedua kali, sedikit segar. Tapi jangan tanya di urusan makan. Tambah rakus saja setiap hari. Mudah-mudahan yang ketiga kalinya akan terasa baikan. Kembali segar berenergi. Wes hwes hwes... bablas angine... (Alm. Basuki Mode:On).
“Enak ya kerja di Proyek yo?” imam mengelap punggungku dengan sesuatu.
Aromanya tak asing. Minyak klentik.
Aku menjawab dengan Aww lagi. Imam memijit titik akupuntur di punggung sana.
“Urip yo sawang-siwangan om..”
“Yo ndak bisa kerjaan kita dibanding-bandingkanlah...”
“profesi kita kan beda”
“Saya mah ndak neko-neko om”
“Saya digaji dari yang saya kerjakan saja”
“Gajiku ya rejekiku tiap bulan, cukup ndak cukup ya harus dicukup-cukupin..”
“Sebesar apapun gaji kita, sebenarnya ya cukup”
“Kitanya saja yang neko-neko, pengin ini pengin itu, macem-macem pokoke”
“Lha mau ngorupsi ya buat apa om, kalo dimakan yo ndak jadi daging, kalo jadi daging ya pol-pole Cuma jadi daging penyakit, ya kolesterol, ya tumor, ya sebangsanya itulah ...”
Imam mengelap sisa darah di punggungku. Memasukan ke dalam kantong keresek, bersama tisu kotor dan jarum sisa bekam. Alat bekam diletakan di sebelah washtafel, segera dibersihkan. Agar darah tak lekas mengering, mengurangi higienitas peralatan. Rasa perih terasa saat cairan dibalurkan. Tak asing juga. Ini aroma alkohol kadar rendah. Revanol. Aku masih tidak mengerti urusan alkohol ini. Alkohol memang dihukumi harom apa bila di konsumsi (dimakan atau diminum). Tapi bukankah Alkohol tidak najis? waAllohu ‘alam.
“Wah kowe iki iso bae gole njawab yo”
(Wah kamu ini bisa saja njawabny yo)
Imam meratakan basuhan revanol. Aku meringis, perih sekali.
“Lha terus mau gimana?”
“Namany orang hidup itu yo sepaket”
“Kita mewarisi rasa ingin memiliki, ingin menguasai, ya to?”
“Itu yo fitroh, bawaan lahir”
“kalo kita punya rasa iri, pengin punya yang orang lain miliki yo sudah sewajarnya om...”
“Tapi sering kali kita ini lupa, setiap keinginan ada konsekwensinya,”
“Setiap yang kita miliki itu amanah, dan tiap-tiap amanah ada pertanggungjawabannya”
“Ya tanggung jawab di dunia, ya tanggung jawab di akherat”
“misalnya?” Imam menyela. Aku lihat lebih mirip ngetes.
“kalo kita punya montor, enak bisa dinaiki kemana-mana”
“Ndak perlu jalan kaki, ndak perlu bercapek-capek”
“Tapi yaitu, harus diisi bensin, ban diisi angin, kalo rusak harus dibeneri.”
“Ada biaya, ada pengorbanannya”
“Contoh lain lagi....”
“Punya anak, punya istri, sama juga begitu... “
“Ndak bisa Cuma dibangga-banggakan tok, ada konsekwensinya itu?”
“Harus dijaga sebaik-baiknya..”
“Harus dididik yang benar, yang baik, ya pengajaran agama ya pengajaran ilmu pengetahuan”
“Ndak Cuma dikasih makan, makanan yang (harus) halal, sumber nafkahnya (harus) benar”
 Imam manggut-manggut. Mengiyakan.  Kedua tangan imam asik menari di pundakku. Aku nyerocos terus sedari tadi. Kapan lagi terus dipijit begini. Semua orang juga tau. Aku ini ibarat menggarami lautan. Imam tetap jauh lebih paham urusan agama dari padaku. Beliau ini lulusan pesantren ternama, lha aku ini yo mung pinter ngomong saja. 
Kullukum ro'in, wa kullukum mas-ulun 'an ro'iyatihi...
Spontan Imam membacakan sesuatu. Aku agak sedikit familiar. Ingat-ingat jaman sekolah dulu. Pas pelajaran pengajian. Lha bagaimana mau paham, kalo diterangkan tauziah kan hobinya ngantuk. Jadi yo dengarnya separo-separo. Sriwing-sriwing gitu.
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap peminpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” Imam melanjutkan.
Terbukti kan, dihadapan imam aku ini sangat kecil. Imam hapal di luar kepala. Imam jauh lebih paham maknanya daripadaku. Imam rajin mengamalkanya. Dengan caranya.
“Ya kira-kira begitulah maksudku om.” Aku ngeles. Sok tahu.
“Ha ha ha ha ha.” Kami berdua tertawa. Menertawakan diri sendiri. Aku menertawakan sok tahuan ku. Imam tertawa karena bliau sukses mengajariku urusan ini. Tak dipungkiri, aku dan imam memang punya banyak kesamaan.  Selain ukuran tubuh kami, kami sama-sama model pria “mercon renteng” meletup-letup.  Berekspresi spontan. Bereaksi sedikit berlebihan.
Ups salah. Aku buru-buru menutup mulut. Kami tertawa terlalu keras barusan. Aku lihat fikri bergerak-gerak. Terbangun dari tidur. Tak  bersuara. Hanya kedua mata dan bibir si kecil yang bereaksi. Terganggu oleh kelakuan kami.
Kata mba Nur –istri Imam- sudah dua hari ini fikri demam. Panas tinggi, sampe 39 derajat celcius. Ia Lebih banyak istirahat,  tergolek di dipan dari pada dibawa jalan-jalan. Seandainya, fikri sehat sepertia nak-anak yang lain, mungkin sudah mengatakan sakitnya. Dimana yang sakit. Umur fikri sudah hampir tiga tahun sekarang. Semestinya sudah bisa berjalan. Berlarian ke sana-kemari seperti anak-anak kebanyakan.
Terapi hari ini selesai sudah. Aku harus segera pamit. Urusanku masih banyak. Biasa, sok sibuk gitu. Tadi imam juga bilang, ia mau kondangan. Fikri sakit, jadi tak bisa diwakilkan mba Nur. Ia harus datang. Tak enak aku berlama-lama di sini. Biar sama-sama nyaman. Toh bulan depan masih bisa main ke tempat imam lagi. Masih bisa ketemu lagi. InsyaAlloh. 
Saat pulang, imam membawakanku sebungkus “jamu godog” dan sebotol kecil madu setengah kilogram. Saat berpamitan, sekilas aku melihat ke arah fikri. Agak lama. Sesuatu sedang terjadi. Entahlah.  Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Mudah-mudahan fikri sehat kembali seperti sedia kala.


Rabu, 16 Mei 2012

Kisah Mamak bag III : Uri


Aku bisa mengatakan malem ini sangat cerah. Bulan bersinar lebih terang dari biasanya. Ya karena langit sedang cerah, ya karena –katanya para ahli astronomi- malam ini ada “super moon”. Tak aku mengerti maksud yang pas dari istilah supermoon. Yang jelas, sore ini langit Jakarta cerah. Hujan terbukti sangat ampuh membersihkan Jakarta. Tak hanya debu-debu di dinding gedung tinggi nan megah, namun di seluruh langit Jakarta. Yang jadi korban selalu saja got. Mampet di sana-sini. Bau busuk mengunggun, menusuk hidung. Anggep saja, ini kompensasi dari cerahnya angkasa. Sedikit lebih baik. Lebih baik dari pada bau dan langit berdebu.
Aku duduk di “Lincak” tempat biasa warga gang buntu ngobrol. Tempat paling istimewa di kontrakan mas ku. Besok ada acara di Jakarta. Urusan kerjaan. Jadi ngalahi datang sejak sore ke Jakarta. Biar paginya ndak terburu-buru. Tidak seperti biasa, lincak masih sepi. Mungkin, masih pada sibuk ngurusi urusan rumah. Ato belum pada pulang dari tempat bekerja.
Bukankah sudah pernah kukatakan kepadamu, jakarta memang kejam untuk orang-orang yang tak membekali diri dengan kemampuan maksimal. Ya kemampuan ilmu ya kemampuan dalam pengalaman. Apalagi yang tidak punya tujuan, saya nasehatkan jangang coba-coba. Jakarta akan jadi tempat yang sangat kejam. Istilah lama, “Ibu Kota lebih kejam dari pada ibu tiri”. Ibu tiri sekarang kejam kaya di felm “Ari anggara” ndak ya?. Semoga saj tidak, cukup ibu kota saja yang kejam, ibu tiri ndak usah ikut-ikut. Jadi perfikirlah sebelum bertindak. Berfikirlah masak-masak sebelum mengadu nasib di ibu kota. Sokbijak.com
Tiba-tiba mamak sama bapak datang. Wajah mamak serius. Sesuatu mungkin sedang dipikirkan. Ah, bukankah setiap hari juga begitu. Selalu direpotkan dengan masalah-masalah -yang menurutku- ndak perlu diributkan. Si bapak Daud jangan ditanya. Bliau ini tetap santai seperti biasa. Cengar-cengir. Seperti tidak terjadi apa-apa. Aku tetap sulit memahami cara berfikir bapak Daud. Hidup ya mengalir saja. Seperti kopi ditenggorokan. Seperti asap kretek dji sam soe di kerongkongan.
Aku tak juga beringsut dari tempat dudukku. Seperti sudah dikomando, mamak sama bapak Daud duduk berjejer. Tepat di depanku. Hanya dipisahkan gang buntu. Ada tiga kursi kecil di sana. Tempat biasa kami ngumpul.  Kali ini mamak terlihat lebih serius. Sementara bapak Daud terlihat makin santai. Nikmat sekali melihatnya menyedot keretek. Mesti tak lengkap. Kopi sepenuh hati mamak belum jadi. Airnya belum mateng. Takkan ada yang lebih mengganggu pikiran mamak selain sulungnya Uri. Sekarang Uri kelas tiga SMA. Mamak tentu bingung bagaimana nanti si Uri. Keluarga mamak memang tak punya banyak referensi. Mas bro sekalian juga tau, tak banyak perempuan betawi bersekolah tinggi. (Untuk statemen ini saya mohon maaf sebesar-besarnya, semoga hanya terjadi di gang buntu). Begitu lulus sekolah –kadang SMP atau SMEA- langsung dinikahkan. Budaya seperti ini sebagian masih jadi kebiasaan. Perempuan yo Dapur, Sumur, Kasur. Sebuah Ironi.
“Bagaimana ini om?” tanpa ba bi bu mamak langsung memulai pembicaraan.
“Bagaimana apanya mak?” aku jawab sekenanya. Si bapak Daud menyedot keretek semakin dalam. Sedotan terakhir.
“Si Uri lah om?, kan udah selesai ujian. Trus mau gimana om?
Mamak bertanya semakin serius. Penginnya nongkrong di sini biar santai, eh malah diajakin ngobrol serius. Seserius raut muka mamak seperti sekarang. Seserius sedotan bapak Daud di sisa puntung rokok.
(Maafkan bukan bermaksud mengeksplor iklan rokok. Tapi memang tidak ada yang lebih serius bagi bapak daud selain saat merokok, terutama di detik-detik terakhirnya.)
“Maksudnya bagaimana mak?” aku menyelidik.
“Yaitu om, nyari tau cabangan kek.”
“Ato nyariin lowongan buat Uri”
“Minta saran dong om?”
“saran apa gitu?”
Aku manggut-manggut. Diam beberapa saat. Tak juga menjawab.
Wajah serius mamak berubah, lebih kelihatan cemas. Kerutan di wajahnya tidak bisa bohong.
Lha ini siapa yang punya anak, siapa yang suruh ngurusi masa depannya. Lha yang njalani hidupnya yo Uri-uri juga.
“Kalo mamak minta pendapat saya, yo Uri harus sekolah lagi.”
 “Lagian jarang-jarang ada orang jakarta yang merantau jauh”
“Perempuan lagi.”
“Apa ndak hebat itu, sekolahnya tinggi.”
“Apa ndak keren itu mak?”
Mata mamak berbinar. Ada perasaan bangga di sana. Sebentar kemudian ditekuk lagi. Apa mungkin bisa?
“Tapi bagaimana biayanya nanti om?”
“Om tau sendiri sekolah SMA saja sudah mahal begitu”
“Bagaimana kuliah nanti?” mamak semakin kawatir.
Melihat Uri menjadi sarjana sepertinya cuma mimpi. Terlalu jauh dari kenyataan. Utophia bahasa kerennya. Bukankah kita sering kali begitu. Berhenti berharap dengan yang belum terjadi. Menggunakan akal kita yang sangat sederhana ini untuk mendahului takdir. Takdir yang Maha Kuasa. Dzat Yang membelah laut merah menjadi jalanan yang luas. Yang menjadikan bulan terbelah menjadi dua. Yang menjadikan matahari berdiam di peredaraannya. Sedangkan ini hanya urusan kecil saja. Pasti mungkin. Bergantung pada kita yang memperjuangkannya. Niatkan sepenuh hati. Kerjakan dengan sekuat tenaga. Kemudian serahkan hasilnya kepada yang punya Kuasa. Yang punya manusia.
“Mamak benar-benar pengin Uri sekolah lagi?”
Dijawab dengan anggukan. Mamak telihat lebih antusias.
“Sebenarnya kuliah itu ndak harus mahal-mahal mak..”
“Bahkan, kalo uri bisa diterima di tempat yang tepat, insyAlloh tidak akan lebih mahal dari biaya sekolah uri selama ini ma...”
“Lha gimana caranya itu om? Masak kuliah lebih murah dari SMA. Bukannya tingaktannya kan lebih tinggi?”
Mamak penasaran. Ingin tau. Mencoba berlogika.
“Lha ya harus nyari tempat kuliah yang jauhan dikit. Biar biayanya lebih murah.”
“ Jangan lupa.”
“ Semahal-mahalnya Kuliah di negri tetap saja masih lebih murah dari pada kuliah di swasta ma.”
“Lha kata tetangga kemarin nyekolahin anaknya di UNJ, mahal banget om?”
“Katanya, uang pangkalnya saja sembilan juta.
“Lha dia bisa mbayarnya, lha kita?”
“Uangnya dari mana om?”
Masuk akal juga alasan mamak. Bukankah bapak Daud seorang buruh pabrik. Tidak sedang merendahkan, namun susah dihitung dengan matematika. Pendapatan bapak Daud tidaklah besar. Mamak membantu apa saja untuk menopang kebutuhan keluarga. Ya mencuci baju orang, ya momong anak orang, ya macem-macemlah. Untuk kebutuhan sehari-hari berikut menyekolahkan anak-anak. Apalagi harus menyekolahkan sampai dengan tingkat perguruan tinggi. Bagamana mengaturnya, bagaimana mencukupkannya. Betapun kuliah itu murah. Tetap saja butuh biaya yang tidak sedikit. Tak semua orang tau bagaimana cara  ngakalinya.
“Kan ada beasiswa mak?”
“Trus mbayar uang bangunananya kan bisa dicicil mak”
“Tapi kan kalo segitu tadi kan banyak mbanget om”
“Kalo dicicil juga kapan lunasnya...” mamak memotong buru-buru.
Aku tersenyum. Masuk diakal juga.
“Trus buat makan sehari-hari di sana gimana om?”
“Buat buku, photo kopi, dan lain-lain,  tetek mbengek, dan segala macemnya gimana om?”
“Lha kemarin pas di SMA saja ribet mbanget, apalagi kalo ntar kuliah?”
“Pusing om, waduh... duh..  duh..” mamak kembali berargumen.
Tak lupa bumbu lebai, nepok-nepok jidat.
Aku kembali tersenyum. Sedikit berbeda. Aku memasang gaya bijaksana. Macam Pak Bina di serial Mbangun Desa dulu. Masih ingat kan, itu lho gerombolannya Den Baguse Ngarso, Sronto, sama juragan antagonis si Kuriman yang selalu mbikin onar. Berikut argumen-argumen masuk akal, yang justru menambah runyam suasana. Kalo yang jaman kecilnya suka nonton TVRI pasti lah tau sinetron ini. Intinya si Pak Bina ini tokoh paling bijaksana. Yang memberi solusi untuk semua permasalahan. Masalah bagi Den Mbagus yang kemaki plus sok tau. Trus menjembatani Sronto sama istrinya yang lugu dan selalu dikerjai dan dimanafaatkan. Ya sama den bagus, ya sama kuriman. Lha kalo aku ini jelas bukan Pak Bina. Tapi gayanya tok yang mirip. Padahal sok tau. Namanya juga lagi memberikan semangat buat orang lain. Kudu optimis. Harus bisa meyakinkan orang yang diajak bicara. Tidak lupa ditambah bumbu-bumbu pengalaman pribadi. Wis mantap pokoke lah.
 “Begini mak, mamak mau melakukan apa saja biar uri bisa sekolah?”
Mamak mengangguk.
“Kalo mamak pengin Uri sekolah, Pertama mamak harus ikhlas pisah dengan uri”
“Biarkan ia merantau jauh, biar biayanya lebih murah”
“Kalo sekolah di daerah, apalagi yang negri kan biayanya murah”
“Mungkin di Semarang, solo, ato jogja mak”
“Nah, asalkan mamak mau menyisihkan uang sedikit lagi dari biasanya, insyaAlloh akan cukup”
“Pas SMA uri mbayar brapa mak?”
“Tiga ratus mapuluh om?”
“Sebulan?”
“iya Om, namanya jakarta, apa-apa mahal, sayuran aja mahal, apalagi sekolahan”
“Nah, klo Uri bisa sekolah di daerah, Mamak perlu nambahin sedikit lagi.”
“Ya sekitar tiga ato empat ratus ribu lagi”
“Itu cukup untuk SPP, sama biaya hidup Uri di sana nanti”
“InsyAlloh mak..”
“Itu beneran om?”
Aku mengangguk. Kali ini anggukanku lebih mantap. Menyemangati mamak.
“Lha terus nyari tambahanya itu om yang susah?” Ada saja argumen mamak.
Aku tidak menjawab. Aku mengarahkan pandanganku ke bapak daud. Masih sibuk dengan batang kreteknya. Pandangannya meleng. Tapi telinganya tajam mendengarkan.
“Beh, babeh kalo ngrokok sehari paling ndak habis sebungkus kan?”
Yang ditanya tidak menjawab. Hanya menyeringai. Ya begitulah.
“Nah mak, Rokok sebungkus kan harganya sepuluh ribu”
“Kalo sehari sepuluh ribu, kalo sebulan kan berarti tiga ratus ribu mak”
“Suruh saja si babeh berhenti merokok?”
“Mana mau Om, orang udah kebiasaan gitu”
Suara mamak meninggi. Sebel lihat suaminya tiap hari mbakar duit.
“Lha itu kan baru salah satu contoh, yang lain kan masih banyak lagi”
“Kalo masalah ini, silakan bapak Daud yang milih”
“Apa milih merokok, atau mbiarin anaknya yang lagi sekolah dirantau sana kelaparan?”
Mamak terlihat optimis. Mata kanan mamak melirik ke arah bapak Daud. Dengerin tuh.
“Pokoke dicoba dulu mak”
“Ikutan ndaftar perguruan tinggi, apa itu namanya SNMPTN”
“Berusaha dulu, nanti hasilnya seperti apa, serahkan saja kepada Yang Punya Kuasa.”
“Kudu tetep optimis, ndak boleh putus asa”
“Dan Jangan lupa itu mak, urusan rokoknya bapak Daud,”
“Kan lumayan bisa ditabung. Buat sekolah anak-anak”
Suara motor kencang berbunyi. Lewat di depan kami. Tetangga sebelah pulang kerja. Sempurna memotong sebentar perbincangan kami. Gang buntu memang sempit. Tapi hati-hati kami para penghuni gang buntu senantiasa lapang. Ada masalah kita biacarakan bersama. Ada makanan, ya kita habiskan bersama. Seperti apapun masalah yang ada selalu ada penyelesaian sesudahnya.
Uri muncul dari balik pintu. Membawa nampan berisi minuman. Teh manis untukku, dan kopi sepenuh hati untuk bapa Daud. Sedari tadi ia mendengarkan perbincangan kami dari dalam. Wajahnya berbinar. Ramai seperti gang buntu. Bersiap menjemput masa depanya yang cemerlang. Tetap semangat Ri. Semoga Alloh menunjukan jalan yang baik. Menganugerahkan takdir kehidupan yang luar biasa untukmu. Menjadi pembeda untuk orang-orang disekelilingmu. Semoga Alloh mengabulkan.  InsyaAlloh.

Rabu, 09 Mei 2012

Hymne



Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua,
Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku,
Di dalam Pancasilamu jiwa seluruh nusaku,
Kujunjung kebudayaanmu kejayaan Indonesia,

Bagi kami almamater kuberjanji setia,
Kupenuhi dharma bakti untuk ibu pertiwi,
Di dalam persatuanmu jiwa seluruh bangsaku,
Kujunjung kebudayaanmu kejayaan nusantara,

Senin, 30 April 2012

Ini Mimpi


Ini mimpi
Mimpi bocah di pagi hari
Lupa berdoa selepas mengaji
Dikejar orang gila ke sana kemari
Tersedak napas lelah berlari

Ini mimpi
Mimpi si buyung  bersama sapi
Berharap sapi punya kemudi
Dikebut berlari ke sana kemari
Sedari tadi tak juga sapi berdiri

Ini mimpi
Mimpi bujang di tengah hari
Gembira ia bersama bidadari
Besenda gurau lupa diri
Tak sadar itu hanya mimpi

Ini mimpi
Mimpi gelandangan di siang hari
Terlelap lelah di gerobak pedati
Menjadi raja di istana tinggi
Berasa kenyang walau perut tak terisi

Ini mimpi
Mimpi pak tua di pinggir kali
Menunggu perahu tak juga menepi
Menjemput nahkoda nan disegani
Mengantar  penumpang kelilingi bumi

Ini mimpi
Mimpi hamba di penghujung hari
Berharap jika terbangun nanti
Badan sehat kembali berseri
Mejemput berkah memeluk rejeki

Ini mimpi
Mimpi kami di akhir nanti
Berharap nyata  seribu janji
Setelah lelah dikeramaian duniawi
Menjadi indah kenikmatan surgawi

Sabtu, 21 April 2012

Mamah Dedeh

Irungku…  eh hidungku sendlrap sendlru.Meler terus epanjang minggu ini. Tenggorokanku serasa gatal-gatal. Terutama menjelang pagi, maghrib dan malam hari. Komplit kaya minum obat. Berasa ada kecoa lagi jalan-jalan di tenggorokan.  Ingus sih sedikit, tapi ndak tahan batuk-batuknya. Cuaca memang sedang tidak karu-karuan. Pagi sampai siang panas menyengat, setelah duhur awan langsung dating. Menutupi karawang yang super panas, membawa hujan lebat. Dan lebih sering disertai gemuruh petir , tak jarang juga angin rebut yang menakutkan. Lha dasar bandel, sudah tau cuaca sedang tidak bersahabat malah hujan-hujanan.  Ya jadinya beginilah. Gawean yo banyak, ndak ada yang bias ditinggal. Sendlrap-sendlrup, Ahak-uhuk, dan Ekhrem, ekhrem.
Hari ini aku harus ke Jakarta. Banyak urusan. Syukurlah pilek suda mereda. Hari ini bakal ribet sekali. Mesti nemplok ke sana kemari. Ke kantor pusat, di tomang. Ke kebon jeruk, kebayoran lama. Kemudian, mbalik lagi ke karwang sore harinya, eh malam harinya dhing. Aku diantar Didik, rekan kerjaku yang pendiem plus mbandel, ke halte bis di depan komplek perumahan. Setiap sepuluh menit sekali biasanya bus jurusan Kampung Rambutan lewat.
Senandainya engkau tahu arti hidup pas-pasan, tentu akan lebih memilih hidup seperti itu. Tak selalu perlu uang banyak, tak selalu dengan fasilitas yang mewah. Ataupun dengan peralatan terbaru. Istilahnya apa itu? Gadget, Iya Gadget. Hidup pas-pasan itu, pas butuh segala sesuatu, pas dia hadir di depan kita. Pas malem-malem pulang kerja, kelaperan, ndak ada duit, eh tiba-tiba ada tetangga yang ngirimi makanan, sudah terhidang di meja, tinggal sikat. Pas tanggalan sudah menua seperti ini, eh ada saja yang minjami duit, buat bertahan sampe tanggal muda. Mau?
Semestinya aku lebih banyak bersyukur, atas segala pas-pasan yang selama ini aku alami. Seperti hari ini, pas siang-siang panas-panasan di halte. Tiba-tiba si bus merah lewat. Awak sebuah Perusahaan Otobus terkenal. Pas naik, pas penumpangnya sedikit, untung di saya tapi –mungkin- tidak bagi pak kondektur dan pak sopir. Berarti setoran kali ini akan berbeda. Maklum tengah hari, mungkin sore nanti akan berjubel penumpang. Ndak muat seperti tempo hari.
Aku memilih duduk di deretan kursi ketiga di belakang pak supir. Kursi sebelah kanan, kursi isi tiga. Ada tempat sangat longgar di sana. Selain pandangan ke depan tak terlalu terhalang. Kalo nanti mau turun juga tidak akan terlalu repot. Tidak usah melewati koridor dalam bis yang sempit. Plus melewati pundak atau kaki penumpang lain.
Melewati jembatan badami, para penumpang mulai naik. Jembatan badami adalah tempat “ngetem” terakhir, sebelum bis masuk tol. Kemudian meneruskan perjalanan sampai Kampung Rambutan, lalu lanjut ke Bogor.  Prediksiku salah, ternyata banyak penumpang naik dari jembatan badami. Jadilah bis ini penuh, penuh oleh penumpang, penuh oleh para pedagang asongan dan pengamen. Entahlah mana yang lebih banyak, para penumpang atau para pengasong dan pengamen. Masih belum  ada yang memilih duduk di sampingku. Aku mengarahkan pandanganku ke kaca, melihat pemandangan indah di samping sana. Kawan, sekali-kali engkau harus naik ke jembatan badami. Dari sini pemandangannya sangat indah. Keindahan karawang terwakili dari jembatan badami. Landskap sawah yang indah sepanjang mata memandang. Menghijau hingga cakrawala.
Seorang ibu tampak tergopoh berjalan. Tangan kanan memegangi tas cangklong kas ibu-ibu. Tangan kiri sibuk memegangi ujung kebaya. Membantu memberi ruang biar mudah melangkah. Tangga bis memang agak tinggi. penumpang harus mengangkat kaki lebih tinggi  saat naik. Mengenakan setelan kebaya warna coklat. Disesuaikan dengan warna tas kulit dan sandal kayu. serba coklat. Si Ibu memilih duduk di ruang kosong di sampingku. Sedikit tidak sesuai perkiraan. Ngarepnya ada cewek cantik, yang duduk di situ, eh malah ibu-ibu. Tapi yowis lah, semoga jadi rejeki. Semoga rumus hidup pas-pasan itu benar-benar ada. Dan hari itu –untuk kesekian kali- terbukti sempurna.
“Ade.. boleh saya duduk di sini?” si Ibu mendahului menyapa.
Aku mengangguk. Mengiyakan.
“Silakan, kosong kok bu.” Jawabku datar.
Kalau boleh mentaksir, usia ibu itu sekitar lima puluhan lebih. Keriput di wajahnya tidak bisa bohong. Selain baju kebaya panjang, aksesories yang serba coklat, si ibu mengenakan kerudung selendang yang melingkar di kepala berwarna putih. Khas ibu-ibu pesantren jaman dahulu. Macam   ibu sinta nuriah, istri Alm. Gus Dur. –Mungkin- Pada jaman itu, kerudung itu sudah sangat spesial. Pertanda perempuan itu sangat alim. Lulusan pesantren. Atau orang yang paham agama. Istilahnya, cewek idaman. Idaman bagi pria-pria. Idaman bagi para mertua. 
“Ade mau kemana?” si Ibu bertanya lagi.
“Saya mau ke jakarta bu”
“Di karawang tinggal di mana?”
“Saya tinggal di karaba bu, perumahan karaba indah blok BB 45”
“Belakang alfa mart”
“Lha Ibu sendiri mau kemana?” saya iseng bertanya balik.
“saya mau ke Priok, tadi habis nengok anak saya”
“Baru seminggu kerja disini”
“Jangan panggil saya ibu, panggil saya mamah, mamah Dedeh”
“Tidak nyaman di panggil begitu”
Aku nyengir. Mengangguk, terserah mamah sajalah. Ibu atau mamah sama saja. Artinya sama.
"Saya Naryo bu, eh maksud saya mah" aku kikuk.
“Ade sudah menikah?” mamah To the point banget. 
Pertanyaan itu lagi. Opo memang wajahku sudah kelihatan tua. Bukankah selalu tampak imut-imut. Hampir setiap orang yang baru kutemui menanyakan hal yang sama. Jawabannya pun selalu sama.
 “gelengan”.
Belum.
Bukankah setiap orang memiliki alasan sendiri saat memutuskan sesuatu. Termasuk menikah.  Bukankah semestinya urusan ini pilihan masing-masing. Tidak ikut-ikutan “UMUMNYA”. Seseorang pernah berkata kepadaku. Selagi bersabar menunggu hari itu datang. Lakukan apa yang ingin engkau lakukan. Karena ada beberapa hal yang tidak mungkin atau akan sangat sulit engkau kerjakan saat telah menikah nanti. Karena menikah berarti terlahir kembali. Seperti bayi dari kandungan menuju alam dunia. Terlahir kembali dari sendiri menjadi berdua. Berbagi satu sama lain. Tentu Kita tidak boleh berfikir atau bersikap seperti orang yang masih lajang, sementara kita sudah berkeluarga. Dan sebaliknya. Jadi, selagi bersabar, kerjakan sebanyak-banyak hal special yang anda bisa.
Bagus itu, mamah suka si mamah kelihatan sangat bersemangat.
“Lha ko?” 
“Memang kenapa mah?”
“Mamah dulu nikah muda, sangat muda, bahkan belum genap 12 tahun, waktu itu mamah baru lulus SD
“Adek tau sendiri, jaman dahulu orang nikahnya cepat-cepat, pake jodoh-jodohan pula”
“Mamah dulu dijodohkan, dijodohkan dengan seorang kapten, pelaut
“Mamah tidak tahu menikah itu hal macam apa?”
“Kemudian mamah hamil.”
“Waktu itu mamah ndak tahu apa yang yang ada di perut mamah, kenapa semakin hari semakin bertambah besar.”
“Mamah tidak tahu cara mengeluarkannya, akhirnya mamah dioperasi. Kalo istilah sekarang artinya apa itu? Sar.... sar...”
“Caesar mah?”
“Ah iya, betul-betul”
“Untungnya  mamah anak orang kaya.”
“Orang tua mamah punya banyak usaha, ya dagang, ya hotel, macam-macam pokoknya”
“Mamah punya banyak pembantu, jadi ndak perlu ngurusi macem-macem.”
“Termasuk anak mamah yang baru lahir, mamah tetap sekolah seperti biasa 40 hari setelah mamah melahirkan”
“Mamah tetap bermain seperti biasa, karena anak mamah diurusi pembantu”.
“Sampai sekarang mamah masih tidak bisa masak”
Aku lebih banyak diam. Lebih banyak ber- “O”. Mendengarkan. Dasar orang kaya.
“Asal ade tahu, sampe sekarang, anak mamah yang paling gede manggil mamah tante
“Lha memang dari kecil mamah ndak pernah ngurusi”
Aku mengangguk. Pura-pura heran.
“Menikah muda itu tidak enak de” (sekali lagi ini pendapat mamah, bukan pendapat saya)
“Umur dua puluh dua mamah sudah jadi janda”
“Suami pertama mamah, meninggal kena serangan jantung.”
“Kemudian mamah menikah lagi dengan prajurit, tentara”
“Sekarang, sudah meninggal juga...”
Mamah menggeleng. Aku diam. Menelan ludah.
“Ya sudah, memang takdirnya begitu bagaimana lagi”
“yang paling penting sekarang anak-anak mamah”
“Yang satu lagi sekolah di jepang, yang satu lagi dikarawang, sudah mulai bekerja”
“Mamah harus protektif,anak-anak jaman sekarang itu pada susah diatur. Pada ndak punya tata krama.”
“Apalagi yang perempuan”
“Tadi mamah abis marah-marah di kos anak mamah”
“Masak, di kos-kosan laki-laki ada anak perempuan”
“Mana masuk ke kamar, tidak punya sopan santun”
“Pakaiannya itu lho, ndak karu-karuan, kaya orang tuanya ndak bisa mbelikan baju yang pantas saja”
“Perempuan itu mestinya terhormat, tidak pecicilan, Jewawakan,  pakainnya sopan”
“Perempuan ya dicari, bukan malah Nyah-nyoh begitu”
Mamah masih bersungut-sungut. Sisa marah saat di kosan. Membetulkan kerudung selempang yang sedari tadi melorot.  Sepertinya harga dirinya sebagai wanita tempo dulu disinggung. Aku –sekali lagi- diam saja. Nyengir sedikit.
“Semoga saja anak mamah nanti dapat yang baik, yang sopan, yang mandiri kaya mamah”
Aku mencoba menghibur mamah. Bosan juga mendengarkan terus. Aku kan biasanya yang ngomong nyerocos. Eh, malah sekarang gantian  –dicerocosi-
“Biar saya perempuan, saya tidak boleh sepenuhnya mengantungkan hidup saya pada suami”
“Agar saat seperti sekarang ini saya tidak kaget, tidak panic menghadapi hidup.”
“Saya memang keturunan orang kaya, tapi bukan berarti saya beleha-leha”
“Bisa saja saya duduk santai menikmati warisan orang tua, tapi pantang bagi mamah bersantai-santai menengadahkan tangan pada suami, meskipun itu sebenarnya juga tidak salah”
“Suami mamah yang ke-dua hanya pegawai biasa, prajurit. Pangakatnya biasa-biasa saja.”
“Ya tahulah gajinya berapa”
“Betapun kecil pendapatan suami, mamah tetap harus menghormatinya, ia imam untuk keluarga. Sebagai istri, tetap harus taat. Sebagai istri kita harus pandai-pandai mengolahnya, agar cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga."
 “Mamah berusaha apa saja untuk membantu suami. Berjualan apa saja untuk membantu menyukupi kebutuhan rumah tangga.”
“Memang sudah mengalir di darah mamah darah wira usaha.”
Mamah tersenyum tipis. Menyeringai. Puas dengan jerih payahnya selama ini.
Sekarang mamah sudah tua, tinggal sante-sante. Tinggal menikmati hidup. Alkhamdulillah bisnis mamah lancar terus. Jadi tak pernah kurang suatu apa.”
“Penginya, kalo mamah mati nanti, anak-anak sudah mandiri, sudah bisa menopang hidup masing-masing.”
Aku mantuk-mantuk. Salut dengan perjuangan hidup mamah. Untuk ukuran orang yang baru aku kenal, cerita mamah begitu lengkap. Sangat menginspirasi.
Bis merah berjalan melambat. Berhenti kemudian. Ternyata sudah keluar pintu tol. Sudah hamper sampai ke tujuan akhir. Kampong Rambutan.
“Sepertinya kita sudah sampai mah, maafkan saya turun duluan”                                             
Mamh mengangguk. Tersenyum lebar. Senyum tulus seorang ibu.
“Mamah, senang berkenalan dengan mamah, terima kasih atas ceritanya.”
“Semoga saya nanti punya istri yang hebat seperti mamah, yang selalu semangat dan pantang menyerah”
“sama-sama de, sukses selalu ya…”
“Assala’mualaikum”
“Wa’alaikumussalam warokhmatulloh”
Aku turun sebelum pemberhentian akhir bis. Lebih dekat ke halte busway. melanjutkan  petualangan berikutnya.   







Rabu, 11 April 2012

Dunia Pasti Berputar


Dunia pasti berputar
Ada saatnya semua harus berubah
Ingat pasti bertukar
Kita harus siap hadapi semua
Ikhlaskan segalanya
Jalani semua yang ada di dunia

Dunia pasti berputar
Ada saatnya semua harus berubah
Ikhlaskan segalanya
Jalani semua yang ada

Dunia pasti berputar
Ada saatnya semua harus berubah
Ingat pasti bertukar
Kita harus siap hadapi semua
Ikhlaskan segalanya
Jalani semua yang ada

Tuhan pasti berikan kita
Segala yang indah
Dengan segala anugerah ‘tuk kita
Yakinkan kita pasti bisa jalani semua
Jagalah semua yang telah ada
‘tuk hidup kita

Dunia pasti berputar
Ada saatnya semua harus berubah
Ingat pasti bertukar
Kita harus siap hadapi semua
Ikhlaskan segalanya
Jalani semua yang ada di dunia


Selasa, 10 April 2012

Cinta Yang Tulus

telah bersemi karenaMu
hati yang suram kini tiada lagi
tlah bersinar karenaMu

ohh...

biarkan hujan membasahi bumi
atau bulan yang tiada berseri
namun jangan kau biarkan cintaku
yang tulus suci hanya padaMu

semua yang ada padaMu ohh...
membuat diriku tiada berdaya
hanyalah bagimu untukMu Tuhanku
seluruh hidupku

semua yang ada padaMu ohh...
membuat diriku tiada berdaya
hanyalah bagimu untukMu Tuhanku
seluruh hidup dan cintaku

ohh...

cinta yang tulus di dalam hatiku
telah bersemi karenaMu
hati yang suram kini tiada lagi
tlah bersinar karenaMu

semua yang ada padaMu ohh...
membuat diriku tiada berdaya
hanyalah bagimu untukMu Tuhanku
seluruh hidupku

semua yang ada padaMu ohh...
membuat diriku tiada berdaya
hanyalah bagimu untukMu Tuhanku
seluruh hidup dan cintaku

ohh...