Minggu, 25 Maret 2012

Pak Kasam

“BAPAK MAUNYA APA?”
“Kalau bapak tidak suka dengan saya, pecat saya sekarang juga!!”
“kalau bapak penginnya kita berantem, ayo kita berantem di sini”
“KITA DUEL..!!!”
“Tak perlu ada yang memisahkan kita… sampai mati..”
Wajah  Pak Kasam merah padam. Matanya melotot, menantang.  Tubuhnya gemetar hebat. Tangannya menggenggam erat. Ia menjejeri pak Nur. Mengikuti arah tubuh pak Nur yang selalu emmbuang muka.
Sepertinya kini giliran pak Nur yang ketakutan. Tubuh setengah baya pak Nur  tidak mungkin mengalahkan karmin yang gempal.  Masa muda pak Nur sudah lewat.  Sia-sia saja melawan Pak Kasam yang marah. Pak Nur memilih diam dan menghindar. Lebih tepatnya ketakutan.
Demi melihat wajah ciut pak Nur, Pak Kasam urung melayangkan tinju yang sudah sedari tadi ia tahan. Kemarahan Pak Kasam kali ini sudah memuncak. Kecewa, sedih, marah, campur aduk menjadi satu. Sudah sebulan ini dua orang itu tidak akur. Pak Nur selalu marah-marah kepada Pak Kasam. Marah karena pak Nur merasa selalu dilangkahi. Marah karena Pak Kasam sering tidak ada di meja kerja.
Pak Nur memang –menurutku- bukan pemimpin yang baik. Ia menjadi pimpinan di proyek itu, lebih karena ia putra daerah. Lebih karena ia memang paling senior diantara kami semua. Setidaknya itu pendapatku.
Kadang, aku berfikir dan berharap teori ini salah. -Beberapa waktu lalu-, saat aku ngobrol ngalor ngidul dengan seorang teman berkaitan dengan masalah sebagian orang tua. Kami sepakat menamainya “Sindrom setengah baya”. Bahwa saat seseorang semakin tua –terutama pria- akan merasa rendah diri. Karena bagaimanapun, dalam benak setiap pria, ia adalah kepala rumah tangga, pemimpin yang dominan. Harus senantiasa dijunjung tinggi, diutamakan dari yang lain. Dan ketika usianya mencapai setengah baya. Kala secara ekonomi –cenderung-  tidak produktif, baik karena alasan fisik yang menurun ataupun karena sudah mulai menjelang pensiun. Ia –dalam hati kecil mereka- mungkin merasa ketakutan. Akan merasa tidak berguna. Dan pada akhirnya ditinggalkan oleh orang-orang sekitarnya.
Orang-orang dengan sindrom ini menggunakan sesuatu yang ia miliki, ya tuanya, ya seniornya, ya jabatannya, untuk didengarkan. Untuk mendominasi orang lain. Sehingga, apapun yang diinginkan harus dituruti, meskipun hal itu bukanlah hal yang lebih masuk akal, lebih efisien, atau berguna. Akhirnya lebih banyak keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan emosional, bukan pada yang paling masuk akal. Setidaknya menurut  kita, orang-orang muda.
(Kepada teman-teman Psikologi, mohon maaf melangkahi, komentar teman-teman akan sangat membantu guna meluruskan saya yang sangat sok tahu ini, sekali lagi tolong ya….)
 Anggota-anggota DPR kita yang –sangat terhormat- mungkin banyak yang kena sindrom ini. Coba cek deh, agaknya kebijakan-kebijakan yang dibuat lebih pada dasar Aku, ataw Gue. Lupa dengan kemanfaatan bagi orang banyak.  Pada rebutan, berantem, habis itu ngorok, kecapean. Urusan tidak selesai. Lha rakyat kecil yang sudah memilih dengan ikhlas,- sebagian memilih karena duit yang seberapa- (Ngaku?), plus janji-janji mulia tetap saja susah. Tetap gigit jari, menyaksikan wakil-wakilnya sibuk mementingkan diri sendiri. Sibuk dengan perut dan “Wudele dewe-dewe”.
Maafkan, aku juga termasuk korban berita di tivi. Jadi kalau sudah membicarakan wakil rakyat ikut-ikutan gemes. Ikut-ikutan geregetan. Maklum, pernah jadi mahasiswa. Katanya mahasiswa kudu peduli sama nasib rakyat. Nyombongdikit.com.
Kembali ke urusan Pak Kasam saja ya…
Siang hari, aku menjumpai Pak Kasam di selasar masjid. Pak Kasam sedang duduk tertidur, bersandar di dinding masjid. Entah karena lelah, entah memang suasana masjid ini  sangat nyaman. Sejuk seperti di bawah pepohonan. Harus kami syukuri. Selama perjalanan kami bekerja di proyek. Lokasi kami tidak pernah jauh-jauh dari masjid. Baik lokasi tampat kerja, maupun lokasi mes tempat kami tinggal, tempat kami beristirahat. Biar perusahaan kami tambah sukses. Didoakan orang banyak.
Selain Pak Kasam, aku lihat yang lain juga ada di situ, tertidur pulas. Posisi tidur mereka lucu-lucu. Ada yang mangap, ngorok, ada yang nungging tidak karuan. Yang parah Riko, selain ngorok, liurnya tak juga berhenti mengalir. Ngiler. Maafkan kami pak ta’mir masjid, sudah mengotori masjid ini. Bukannya mbantu bersih-besir malah ngileri.
Masjid memang selalu jadi tampat primadona. Ya buat istirahat ya buat sholat. Dan bagi orang-orang sepertiku, masjid tetap menjadi tempat tak tergantikan. Selalu ada tempat di hati. Selain memoriku dengan kawan-kawan di Al Muttaqin. Masjid juga menjadi tempat favourit saat bulan puasa tiba. Aku termasuk yang paling setia menjadi jamaah buka bersama. Bahkan hingga kini. Menurutku pasal 33 UUD 45 lima harus di revisi. Jadi begini, “Fakir miskin, anak-anak terlantar, dan anak-anak kost di pelihara oleh panti asuhan dan atau ta’mir masjid”. Yang agamanya lain boleh menyesuaikan. Jangan kenceng-kenceng ngomongnya nanti bisa kena pasal subversive. Masuk pencara. Mau?
Nglantur lagi kan…..
Sekarang ndak wis…
Kembali lagi ke urusan Pak Kasam.
Aku ikut duduk, menyampingi Pak Kasam. Sebenarnya ingin ikut tidur-tiduran, apa boleh buat, sudah tidak kebagian tempat. Mas Eko tidak bisa diam, muter-muter saat tidur. Ndak tega juga ngeliat si riko ngiler. Demi melihatku datang. Pak Kasam terbangun. Sebentar mengerjap-ngerjapkan mata. Sempurna terbangun kemudian.
“Maaf yang tadi pagi mas..” Pak Kasam memulai pembicaraan.
Aku menggeleng.
“Ndak popo pak…”
“Ndak usah dimasalahkan, kami maklum..”
 Aku sedikit beringsut. Memperbaiki posisi duduk.
Karpet masjid sudah lusuh. Tambah licin. Jadi harus sering-sering geser.
“Saya bingung mas, pengin keluar saja…”
Aku menatap Pak Kasam. Melongo.
“Kenapa pak?” aku bertanya tak mengerti.
“Aku ndak enak sama yang lain”
“sering mbolos kerja, selalu telat, apa lagi harus ribut kaya tadi pagi..”
Pak Kasam menatap lurus ke depan. Menerawang jauh ke jalanan. Ke lapangan luas di depan masjid.
“Ya tapi kenapa pak?”
“Ko tiba-tiba begitu..?” aku makin tidak mengerti.
“Istri saya mau bunuh diri mas…”
“Stress berat..”
“Setiap saya berangkat kerja, Istri saya mengancam bunuh diri…”
“Dia ndak mau ditinggal sendirian di rumah..”
“Harus terus ditemani”
“Ndak ngerti…”
Pak Kasam menggeleng lagi. Aku masih melongo. Serasa darah berhenti mengalir. Serasa dingin di bagian wajah. Wajahku pias. Pucat.
Sudah hampir genap lima bulan aku bekerja dengan Pak Pak Kasam. Nama yang sangat sederhana. Sesederhana orangnya. Pak Pak Kasam adalah tipikal pekerja keras. Rajin di kantor, rajin juga di mes. Jagoannya bersih-bersih. Sebelas-dua belas dengan pak DJ alias Pak Tukul, yang terobsesi dengan bersih-bersih. Wajan teflon kesayanganku mengelupas semua, disikat sampai habis lapisannya. Jangan tanya urusan rumput di halaman. Semua disikat habis, bahkan merembet sampai halaman rumah tetangga. Aku geleng-geleng demi melihat wajan baru itu. Yang berbuat hanya tertawa ngakak. Puas banget.
Tak seorangpun di mes Puri Kendedes yang menyaingi rajin dan disiplin pak Pak Kasam. Bangun pukul lima pagi.  Keluar rumah sebelum genap pukul setengah 6. Terus bekerja. Asyik tanpa gangguan hingga malam. Pak Pak Kasam belum akan beringsut dari meja kerja selain untuk makan dan pulang kerja. Pak  Kasam tak pernah pulang di bawah jam sepuluh malam. Pantas saja, beberapa waktu lalu Pak Pak Kasam mendapat predikat karyawan teladan. Ditandai dengan gelas mug merah besar –ukuran seliter-  yang selalu ia bawa kemana pindah bekerja.  
Menurut cerita yang aku dengar. –aku tak pernah sampai hati bertanya langsung. Memang bukan tipeku- istri pak Pak Kasam stres. Depresi berat. –Lain kali aku akan menanyakan sebutannya pada  teman-teman psikologiku, Tya, Rista, Nunung pada kemana sekarang ya?,-  Istri Pak Pak Kasam ditipu seorang oknum tak bertanggung jawab bermodus pananaman modal. Ia dijanjikan keuntungan yang besar jika menanamkan sejumlah uang. Entah dihipnotis, entah dicekoki macem-macem, tanpa berpikir panjang, istri Pak Kasam meminjam sejumlah uang –cukup besar, hampir lima puluhan juta- kepada koperasi. Setelah uang itu diserahkan, oknum itu kabur, tanpa pesan, tanpa kabar. Betapapun istri Pak Kasam seorang pegawai negeri. Butuh waktu setidaknya lima tahun gajinya untuk menutup semua hutang-hutang itu.
“saya pasrah saja mas..”
“yang terjadi biarlah terjadi”
“Anggap saja ini pengingat untuk saya mas…”
“Biar saya mau sholat, mau eling sama gusti Alloh..”
Pak Kasam mendesah panjang.
Belakangan ini Pak Kasam rajin pergi ke masjid. Sholat tepat waktu. Berjama’ah. Lengkap sudah, ya rajin beribadah, ya rajin bekerja. Mestinya kita begitu juga. Biar Indonesia ini cepat lebih baik. Sebelumnya memang Pak Kasam tidak sholat. Hanya KTP saja yang bertulisan Islam. Untuk urusan sholat. Ia mangkir. Puspa –admin proyek- pernah bilang begitu. Bahkan untuk Shalat jum’at. Ia tetap tak beringsut dari meja komputer. Gila kerja. Bukankah semua pilihan ada alasannya. Termasuk pilihan Pak Kasam meninggalkan sholat.
“Dulu, memang saya ndak sholat mas..”
“Yang penting sudah eling, itu sudah cukup”
“Bukankah sholat tak membuat kita kenyang?”
“Bukankah kalo kita sholat, kita tidak akan kurugan duit sekarung?”
“Buang-buang waktu”
“Lha itu.. orang-orang kaya yang pada ndak sholat malah diberi kekayaan. Mobilnya banyak. Anak-anaknya bisa sekolah tinggi. Setelah lulus bisa sekolah di kantoran. Gajinya gede.”
“Ndak miskin kaya saya ini”
“Lha sampean lihat di tivi itu, yang pada pergi haji sampai lima kali, tetap saja korupsi. Semena-mena perbuatannya.”
Pak Kasam tersenyum getir. Aku diam mendengarkan. Masuk akal.
“Dan…”
“Setelah saya sholat”
“Saya juga tidak merasa kenyang”
“Hutang-hutang istri saya juga tidak terbayar. Penipu-penipu itu tetap bisa melenggang kangkung
“Tidak ada duit sekarung.”
“Tidak ada emas batangan turun dari langit.”
Pak Kasam terdiam. Aku hanya mengangguk.
“Memang bukan itu mas”
“Sholat memang tidak mengubah apa-apa”
“Kecuali cara berfikir saya mas…”
“Setidaknya itu yang saya rasakan sekarang mas..”
“Saya sekarang merasa sedikit lebih tenang, tidak panik..”
“Bagaimanapun.. saya harus merelakan semuanya, menyesal juga tak ada manfaatnya.”
“Tak boleh dibiarkan berlarut-larut”
“Utung saya masih sehat, masih bisa bekerja”
“Ada anak-anak yang harus tetap sehat, harus makan, harus dibiayai sekolahnya”
“syukurnya istri saya belum terlalu parah, masih bisa diajak bicara”
“Setidaknya istri saya belum jadi bunuh diri…,”
Pak Kasam –kembali- tersenyum  getir. Merenungi nasib. Menyiapkan diri, Untuk lima tahun ke depan yang berat.
 Bukankah sudah kukatakan kepadamu kawan...
 saat sesuatu terlepas dari kita. Seringkali kita malah lebih terfokus padanya, bukan pada apa-apa yang masih kita genggam. Bukan mensyukuri apa yang masih kita miliki. Bukankah saat sesuatu hilang dari diri kita, akan ada ruang kosong, yang siap dimuati dengan sesuatu yang lebih baik, yang lebih indah dari sebelumnya.
“sing sabar pak Kasam…”
“Gusti Alloh mboten sare …”
“Gusti Alloh Ndak tidur Pak Kasam…”
Pak Kasam mengangguk. Aku ikut mengangguk.
Kukatakan lagi padamu kawan…
Saat orang lain mengutarakan keluh kesahnya padamu. Maka dengarkanlah. Sebagian  karena memang ia merasa jalan sudah buntu. Sebagianya lagi karena memang ia benar-benar ingin didengarkan. Ia tak benar-benar butuh bantuanmu. Ia hanya perlu tepukan di bahu. Ia hanya perlu tatapan bening meyakinkan. Sungguh, bukan masalah kita yang berat, tapi sudut pandang kita yang kan membuat persoalan yang memang tidak mudah menjadi lebih sederhana. Lebih mudah menghadapinya.
 Jam dinding masjid berdentang keras. Jam menunjukan pukul 13.00. Waktu istirahat sudah habis. Saatnya kembali bekerja. Aku membangunkan mas Eko. Pak kasam membangunkan Rico. Yang dibangunkan malah menggeliat. Enggan beralih
“Terima kasih mas..”
“sama-sama pak, maafkan tidak bisa membantu”
“Ndak papa mas, ini lebih dari cukup”
Pak Kasam tersenyum –Lagi-. Kali ini terlihat lega. Marahnya sudah hilang. Terbang bersama angin Kota Malang yang menyegarkan.
Dari kiri ke kanan;
Berdiri : Pak Kasam, Pak DJ/Tukul, Pak Nyoman, Pak Dib, Aa Kurniawan, Pak Eric
Jongkok: Rico, Pak Din, Saiya, Pak Thole

Minggu, 18 Maret 2012

Dilema Imam, Bag II


Sudah genap seminggu aku full tinggal di karawang. Kontrakan di cakung harus segera ditinggalkan. Ditinggalkan karena sewanya sudah habis,  ditinggalkan karena memang urusan di kantor pusat sudah mulai berkurang, sementara karawang sudah tidak bisa menunggu. Teman-teman sudah tidak boleh disambi lagi. Harus lebih focus di proyek.
Hari ini, sabtu pertama menghabiskan seminggu di karawang. Biasanya, aku berpetualang ke Jakarta tiap beberapa hari. Namun tidak untuk minggu ini. Target pekerjaan memang mulai banyak. Karawang memang panas. Tapi lebih tenang, jauh dari keramaian dan keruwetan kota Jakarta. Aku bisa berlama-lama nongkrong di bawah pohon belimbing depan rumah kontrakan. Menikmati semilir angin sepoy-sepoy.
Hpku bordering. Ada pesan singkat. Rahmat mengabari.
“Ke tempat Imam agak siangan ya?, soale aku mampir ke tempat temanku, nagih jatah bulanan.”
Aku menjawab singkat.
“Woke”
“Abis dzuhur ya”. Di balas kembali.
“Siip”
Adikku datang tepat aku sedang berkemas. Yang lain juga sedang berkemas. Hari sabtu kerja setengah hari. Masing-masing bersiap pulang. Kembali ke keluarga yang menunggu di rumah. Kami ber lima belas di kantor ini. Sebenarnya kami berdua puluh orang, sebagian memiliki urusan lebih banyak di Jakarta. Jadilah kami berlima belas, lebih dari cukup untuk jadi tim futsal yang kompak. Eh tim proyek yang solid. Semoga sampai selesai, kami tetap utuh. Pekerjaan kali ini bisa selesai sempurna.
Aku bersiap dengan tas kecil di cangklong. Jaket biru kesayanganku. Dan helm merah yang selalu kubawa-bawa kemana saja. Tak lupa mampir sebentar ke Alfamart depan jalan. Membeli air mineral kemasan. Ini perjalanan jauh. Air putih tidak boleh ketinggalan. Air putih itu pesan banyak orang. Ndak boleh dilawan.
Motor Jupiter melaju kencang. Beberapa kali harus memegangi helmku. Takut lepas. Ukuran dalam helm beberapa mili lebih besar dari kepalaku yang selalu kupotong cepak, hampir gundul. Urusan branding. Biar gampang dihafal. Rahmat juga jago ngebut. Saat kulirik, speedometer tak pernah menunjuk dibawah angka 60 km/jam. Saat jalanan lurus dan sepi,jarum speedometer cepat bergeser ke kanan, mendekati angka 90 km/jam. Was wis wus.. kuenceng. Sama seperti iklannya. Untung saja baju kami tidak perlu robek-robek. Ha ha ha ha… lebay.
Kami tiba di rumah Imam, ba’da asar, sekitar pukul setengah lima. Fikri –anak imam- sedang digendong mba Nur –istri imam-. Fikri tampak lemah digendongan, kepalanya terlalu berat. Syukurlah sudah tidak tumbuh membesar lagi. Fikri memang istimewa, nafsu makannya besar, badannya sehat. Bersih terawat. Mba Nur, tampak biasa saja. Seperti tidak ada yang bermasalah dengan fikri. Hanya Mb Nur yang tau bahasa tubuh fikri. Kapant Fikri lapar, haus, buang kotoran, atau juga merasa tidak nyaman. Aku tetap tak mengerti arti cinta ibu kepada anak-anaknya. Maha suci Alloh yang menganugerahkan kasih sayang ibu kepada anak-anaknya. Mba Nur juga begitu, tak perlu ada yang ditangisi, tak perlu ada yang disesali. Ini pemberian, anugerah dari Alloh. Seandainya pun Fikri tak sama dengan anak-anak pada umunya, Ia amanah yang harus tetap di jaga. Tetap banyak hal-hal yang bisa disyukuri.
Imam menyalami aku sebentar. Mempersilahkan. Kemudian meminta Mba nur menyiapkan minum untuk kami berdua. Ada pasien datang. Harus didahulukan.  Aku seharusnya datang setelah maghrib. Menunggu sampai Imam selesai melayani pasien.  Biarkan saja, sembari menunggu, aku bisa melihat-lihat sekitar. Melihat-lihat taman obat di depan rumah imam. Sebagian aku mengenali tumbuhan-tumbuhan itu, banyak tumbuh dipekarangan belakang rumah. Sebagian yang lain baru aku temui sama sekali.  Imam tau semua. Hafal diluar kepala, nama berikut kasiat dan takarannya.
Selepas isya giliranku baru tiba. Aku merasa nyeri luar biasa saat imam menekan salah satu titik akupuntur di punggungku.  Aku berteriak. Eh beristighfar. Sakit luar biasa. Ngilu.
“sering bergadang ya?” imam bertanya singkat.
  “Iya..” masih terasa ngilu.
Bagaimana dia tau?
Biarkan saja, bukankah untuk ini kedatanganku ke sini.
Ini kunjungan keduaku ke rumah imam, setelah bertahun-tahun tak bersua. Ia mewanti-wantiku untuk datang setiap bulan.
“Tak usah bayar’” katanya datar.
“kirim pulsa saja”
“Oke bos….” Jawabku singkat. Melet-melet. Lidahku masih terasa pahit, sisa minum jamu.
Sudah sepakat, sebulan sekali aku harus berkunjung ke tempat imam. Ngambil jamu, ngambil madu. Kalo perlu di bekam. Seperti sekarang ini. Terserah sajalah. Semoga badanku terasa lebih baik sesudahnya. Dan penyakit-penyakit di badan ini lekas hilang. 
Sempurna 16 kop bekam menempel di seluruh punggungku. Aku menolak saat ditawarkan bekam di jidatku. Tak usah saja. Trauma bulan kemarin. Di ledek semingguan.
“Habis berantem di mana mas?”
Yang lain bilang,
“KDPP”
Alias
“Kekerasan Dalam Pekerjaan Proyek”
Wah macem-macemlah ejekannya. Bikin tengsin saja. Prioritasin penyakit yang di punggung deh om. Jangan yang “Mbleber-mbleber” sampe jidat. Rempong mbanget.
Ritual bekam hamper usai. Imam  membersihkan darah kotor di kop bekam. Ditampung saat keluar dari sesetan punggungku setelah di vakum. Sudah seperti jeli. Merah tua, kehitaman.
“Menurutmu aku harus bagaimana yok?” imam memulai percakapan.
Aku masih meringis kesakitan. Entahlah jarum seset imam kali ini terasa lebih tajam. Nyeri sekali sekujur badanku.
“Maksudnya?” sekenanya aku menjawab. Nyeri oy.
“Aku ini Cuma lulusan pesantren, selain ngaji, aku Cuma diajari pengobatan alternative.”
“Pengobatan herbal seperti ini.”
“Ini juga masih belajar..”
“Kamu tau sendiri kan yox, saat maghrib dan isya tadi?”
Aku tak menjawab. Mendongakkan kepala. Melihat kearah imam.
“Sekarang ini orang Islam semakin bermacam-macam saja.”
“Pada beda-beda, mulai nyalah-nyalahke siji liane”
“sebagian nganggap bid’ah, sebagian nganggep syiar”
“aku mesa’ake lihat jama’ah, bingung mereka”
“Aku yo piye…”
“Begini diomong.. begitu dirasani..”
“Wis-wis.. namanya warga itu..”
“Pikirku mbok yao jangan aneh-aneh..”
Imam berhenti bicara tepat saat kop yang terakhir usai dibersihkan. Darah kotor langsung ditampung di plastic keresek. Segera dibuang. Tak ada bau amis darah. Tanda darah penyakit. Imam mengatakan itu tempo hari.
Aku bangkit dari kamar bekam. Mengenakan kembali kaos yang sedari tadi kutanggalkan. Sembari merapikan baju. Aku berjalan ke ruang depan rumah imam. Tempat ia menggelar bermacam-macam obat-obatan herbal. Dari biji-bijian, dedaunan, akar-akaran aneka parem kocok dan lain sebagainya.
Rupanya imam sudah duduk di sana.  Nikmat menghisap rokok kretek. Sejak tadi sore belum sebatangpun disulut. Aku hanya menyeringai. Duduk menyampingi. Tak berkomentar. Bagaimanapun imam tumbuh dalam tradisi pesantren tradisional. Rokok tidak dilarang di sana. Tempo hari saat dia menanyakan hukumnya padaku. Kujawab sekenanya.
“Bos.. setahuku rokok itu ndak ada contohnya di jaman nabi.”
“Ndak ada hadisnya pula rosul membolehkan ato melarang.”
(kalo yang ini sok tau banget, blum ngecek kitab hadist, sok-sokan)
“Aku ndak mau berdebat sama ustadz kaya sampean ini.”
“Semua orang sudah tau manfaat dan bahayanya. Jadi monggo silakan saja.”
“Tapi, kalo nanti ada yang sakit gara-gara rokok.”
“Ojo sambat. Jangan mengeluh. Rasakan sendiri.”
“ha ha ha ha ha….” Kami semua tertawa. Imam tertawa nakal.
Dari dalam ruangan. Mba Nur membawa nampan berisi dua gelas kecil. Meletakannya di atas meja.
“silakan mas..”
Aku mengangguk. Masih ada uap panas menyembul di sana.
Masih panas.
“Sampai dimana kita tadi?”
aku memulai pembicaraan. Imam masih menikmati kreteknya. Masih separo batang. Menengok ke arahku. Memainkan asap rokok yang keluar dari mulut.
“ya begitu tadi,”
“Tau kan rasanya jadi panutan?”
“Diperhatikan banyak orang”
“susah juga harus ngikuti kata-kata banyak orang..”
“Njuk kepiye?”
Aku menyeringai lagi. Menjawab –sekenanya lagi- pertanyaan Imam.
“Ya begitu nasibnya jadi selebritis”
“Banyak yang memonitor”
“Ndak bisa kita nuruti semua permintaan orang”
“Kita ya ndak bisa hidup dengan persetujuan orang lain”
“Jadi diri sendiri saja, lebih nyaman”
“Nabi saja, yang jelas-jelas orang paling baik seluruh dunia”
“Banyak yang ndak suka, banyak yang ndak setuju sama pendirian bliau sewaktu hidupnya..”
“La apalagi kita, yang jelas-jelas semblotongan ?”
“Hobine kaya kita ini, ahli ngakali hukum”
“Hobi mbenar-mbenarke aturan biar sesuai sama kepenginan kita?”
“jauh om.. jauh….”
Imam manggut-manggut. Rokoknya tinggal seperempat.
Aku meraba gelas jamu. Sudah mulai dingin. Aku minum saja. Pahit campur getir.  padahal sudah dicampur dua sendok madu. Aku melet-melet lagi. Lebih pahit dari yang kemarin-kemarin. Mungkin tadi lupa mengangkat jamu. Jadi lebih kental dari biasa. Dan lebih pahit tentunya.
“Lha terus menurutmu aku mesti bagaimana?”
Aku tahu betul. Ini pertanyaan menjebak. Nge-tes.
“Mam, Kamu ini punya kemampuan luar biasa”
Aku harus memujinya dahulu. Jurus buaya nomer 61. Inspirasi dari buku Men are from mars, women are from venus karya Jhon gray. Tak satupun manusia yang tak suka dipuji.
“Coba bayangkan berapa banyak orang Islam yang hebat kaya sampean ini”
“Masih muda, pinter ngaji, pinter ngobati, Dipercaya banyak orang…,”
Dan jurus pujian ini memang ampuh. Imam hanya nyengir, tak mengerti bagaimana bersikap saat dipuji. Melepaskan hembusan asap terakhir. Hembusan terdalam. Paling nikmat para perokok. 
“Sudahlah… “
“Masing-masing dari kita punya cara tersendiri untuk berarti bagi orang banyak…”
“Bukankah yang sebaik-baik dari kita adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain?”
“Mau jadi guru, dokter, pegawai, tukang sampah… apa saja..”
“Semua punya peluang yang sama untuk berkarya..”
“Dan orang-orang kaya sampean ini punya peluang lebih banyak dari ku, dari jutaan orang  sekalipun”
“Sampean ini bisa menolong banyak orang, menjadi perantara bagi yang sakit menjadi sehat, membantu yang ndak ngerti jadi paham…”
“Kalau nanti sampean menularkan ilmu ini kepada orang lain, maka jadi amal jariah”
“Setiap orang yang disembuhkan murid-muridmu nanti, sampean akan kecipratan pahalanya juga”
Imam nyengir lagi. Tambah sulit menerima pujian. Sangat wajar.
“Berhentilah saling menyalahkan, gunakan peran kita masing-masing.”
“Sekuat tenaga, sebaik kita bisa”
“Sudah terlalu lama kita semua bertengkar, meributkan yang paling benar”
“Tidakkah lebih baik,  jika kita gunakan energy yang luar biasa banyak untuk sesuatu yang bermanfaat, berguna bagi diri dan umat”
“Mungkin kita tidak akan merubah terlalu banyak keadaan umat, tapi  setidaknya lebih produktif, ada hasilnya”
“yakinlah sesederhana apapun yang kita lakukan, tetap ada nilainya,”
“Tetap ada manfaatnya,”
“Tetap ada pahalanya”
Aku menghabiskan setengah botol aquaku, setengah yang lain sudah aku minum untuk mengobati pahit jamu. Haus juga bicara sedari tadi. Rasa pahit di lidah belum juga hilang. Sepahit menyaksikan saudara-saudara sendiri saling membenci. Saling menyalahkan satu sama lain. Merasa paling benar sendiri. Menyisakan orang-orang baik seperti Imam. Yang dengan kesederhanaan dan ketulusan luar biasa, ingin memberi, ingin berbagi. Agar kehidupan umat bisa lebih baik, lebih sejahtera. Dengan keterbatasan yang ia mampu, dengan kemampuan yang dia bisa.  
 










Jumat, 16 Maret 2012

"Children Learn What They Live With “



Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan 
Jika anak banyak dimusuhi, ia akan terbiasa menantang 
Jika anak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas 
Jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasibnya 
Jika anak dikelilingi olok-olok, ia akan terbiasa menjadi pemalu 
Jika anak dikitari rasa iri, ia akan merasa bersalah 
Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar 
Jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percaya diri 
Jika anak banyak dipuji, ia akan terbiasa menghargai 
Jika anak diterima oleh linkungannya, ia akan terbiasa menyayangi 
Jika anak diperlakukan dengan jujur, dia akan terbiasa melihat kebenaran 
Jika anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan terbiasa melihat keadilan 
Jika anak dikerumuni, ia akan terbiasa berpendirian

( Dorothy Low Nolte)

Kamis, 15 Maret 2012

The Spirit Carries On

Where did we come from, 
Why all we here? 
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say, "Life is too short,"
"The here and the now"
And "You're only given one shot"
But could there be more,
Have I lived before,
Or could this be all that we've got?

If I die tomorrow
I'd be all right
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I'm not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I'd be all right
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on


"Move on, be brave
Don't weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear"


Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again
Victoria's real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that I'm here
It's perfectly clear
I found out what all of this means

If I die tomorrow
I'd be all right
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

Minggu, 11 Maret 2012

No Need to say Goodbye

It started out as a feeling 
Which then grew into a hope 
Which then turned into a quiet thought 
Which then turned into a quiet word 

And then that word grew louder and louder 
'Til it was a battle cry 

I'll come back 
When you call me 
No need to say goodbye 

Just because everything's changing 
Doesn't mean it's never 
Been this way before 

All you can do is try to know 
Who your friends are 
As you head off to the war 

Pick a star on the dark horizon 
And follow the light 

You'll come back 
When it's over 
No need to say good bye 

Now we're back to the beginning 
It's just a feeling and now one knows yet 
But just because they can't feel it too 
Doesn't mean that you have to forget 

Let your memories grow stronger ans stronger 
'Til they're before your eyes 

You'll come back 
When it's over 
No need to say good bye


(Regina Spektor)

Minggu, 19 Februari 2012

Janji Mulia, di Hari Kedua

Pertengahan September 2002
Aku belum genap dua bulan menginjakkan kaki di Jogjakarta. Kota gudek, kata orang. Yang lain lebih suka menyebut kota pelajar. Yang lain lagi menyebut kota budaya. Aku memilih Jogjakarta kota impian. Tempat mengadu nasib, menjemput cita-cita. Tak pernah terpikir bisa belajar di kampus  ini. Kampus rakyat yang besar prestasinya, besar tempatnya dan besar pula biayanya.
Hari ini hari ke dua kuliah. Jam dinding belum tepat pukul delapan. Kami Masih semangat, layaknya api yang baru disulut. Masih menyala besar. Euphoria anak muda.  Ruang kuliah ramai. Sebagian berebut mencari tempat duduk. Rebutan di belakang. Sebagian memilih duduk-duduk di koridor. Menunggu dosen. Siapa tau ada mahasiswi jurusan lain lewat. Itikiwiirrr…..
Di barisan belakang, terdengar yang paling riuh. Dua barisan terbelakang. Berisi anak-anak aneh. Berisik.  Ada yang usil saling mengerjai. Aku tetap tidak paham –bahkan hingga sekarang- bagaimana mungkin? Entah mereka sangking pinternya, sampai kekuarangn usaha untuk menghabiskan energy, entah karena beruntung bisa diterima di kampus ini. Tebakanku tetap yang pertama. Saat engkau sangking cepatnya bergerak, maka engkau akan kehabisan hal yang harus diselesaikan. Sehingga akan mencari cara untuk menghabiskan energy. Mencari-cari masalah.
Dibarisan tengah lebih tenang. Barisan ini berisi orang-orang unik. Tampang culun. Berpakaian kota-kotak, dimasukkan ke celana. Bersepatu hitam bertali merk “warior”, dengan garis putih yang mulai berwarna kecoklatan. Jarang dicuci. Sedikit kebesaran. Rambut cepak. Nampak bingung. Menengok sana sini. Sebagian memberanikan  mengobrol dengan teman di samping kanan-kiri. Bertanya asal dan  alamat. Sekedar formalitas. Sebagian lain memilih diam. Ngantuk.  Mungkin kebanyakan sarapan. Mungkin juga tak bisa tidur semalaman, tak terbiasa tidur di kosan. Jauh dari rumah dan orang tua.
Dua barisan paling pertama selalu duduk orang-orang  pinter. Awalnya itu hanya dugaanku. Dan pada akhirnya terbukti begitu. Tipe kamus berjalan. Segala tau. Gengsi kalo sampe ada informasi pengetahuan terbaru tidak tahu. Ngalah-ngalahi simbah. “Simbah google”.  Bermata empat, alias berkacamata super tebal. Macam pantat botol.  Berambut klimis. Berbaju rapi, -atas putih, bawahan hitam-  dengan bekas garis sertikaan yang masih tercetak jelas di baju dan celana. Sepatu pantovel super mengkilap. Sibuk membaca, buku-buku super tebal. Entah kamus entah ensiklopedia. Mengacuhkan keadaan sekitar. Terlihat asocial. Belakangan kata mereka, ini tentang efektivitas. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Update status, bahwa ilmu yang harus diketahui jauh lebih banyak dari waktu yang dimiliki.
Aku memilih bangku paling depan, tentu dengan beberapa alasan. Pertama karena aku kepengin seperti orang-orang dibarisan terdepan, ketularan pinter-pinter. Kedua, Karena alasan fisik –tak kelihatan kalau duduk dibelakang-. Kebiasaan ini kubawa dari SMA. Karena hampir selalu datang paling akhir. Mau tak mau aku duduk di satu kursi tersisa. Di depan guru. Dan tentu alasan terkuat adalah alasan kedua. Semoga saja alasan pertama ikut nyamber, ketularan pinter.
Kami berseratus dua puluh tiga –pada awalnya- satu angkatan. Entah tinggal berapa saat kami –satu-persatu- lulus, meninggalkan kampus. Hanya ada satu perempuan diangkatanku. Satu mahasiswi diantara seratus dua puluh dua mahasiswa. Kelihatan janggal, tapi memang begitulah kenyataannya. Seperti bidadari di sarang penyamun.
 Perempuan memang makhluk langka di jurusan ini. Dosen perempuan pun nyaris tak ada,  bisa dihitung dengan jari. Kalau saya perhatikan, hanya ada tiga dosen perempun. Itupun hanya satu yang mengajar kami, dua yang lainnya tidak sempat, tepatnya tidak akan pernah. Jadi jangan coba-coba bertampang aneh-aneh, terutama bagi perempuan. Agar nasibnya tak seperti dosen tamu beberapa waktu lalu. Dosen muda itu dikerjain habis-habisan. Siapa suruh berpakaian aneh, berpenampilan “pink” sepanjang badan. Dari ujung rambut sampai sepatu. Kalau ingat peristiwa siang itu, aku masih sering tertawa sendiri.
Tapi ya sudah, di terima saja. Belakangan Ratna –satu-satunya perempuan di angkatan kami- jatuh cinta pada jogja. Dibela-belain pindah rumah sekeluarga dari riau. Keterusan. Enggan meninggalkan tempat itu.  Semoga saja beliau sudah lulus. Terus sukses karir dan usahanya.  Tak putus ditengah jalan. Seperti beberapa sahabat-sahabat yang lain.
Sekarang pukul delapan lewat sepuluh menit. Pintu terbuka tepat jarum terpanjang “detikan” melewati melewati angka dua belas. Seorang lelaki paruh baya masuk ke ruangan. Spontan menghentikan semua keriuhan di dalam kelas. Mengunci semua mulut anak-anak di barisan kursi belakang.  Menghentikan si mata empat membaca. Menambah grogi anak-anak di bagian tengah. Dan tentu saja, menghentikan lamunanku.
Ia seorang lelaki paruh baya. Menggunakan setelan jas berwarna abu-abu. Dengan dasi garis-garis berwarna biru. Rambut disisir klimis, dengan hiasan putih-putih yang nampak dominan di kepala. Rambut uban. Pertanda usia. Tak seperti bayangan dosen umumnya, beliau tak terlihat menyeramkan. Tidak killer seperti dosen hari kemarin.
Setelah meletakkan tas jinjing warna pekat. Pak dosen mengambil kapur, dan menuliskan sebuah nama di sana. Diikuti kuliah yang akan bliau ajarkan kepada kami semester ini. Tidak banyak. Tak disangka, yang akan diajarkan biasa saja. Seperti mengulang pelajaran di SMA.  Aku pikir akan seperti apa. Ternyata sama saja. Pelajaran itu-itu juga.
Pak dosen kemudian duduk di kursi. Kedua tangannya bersedekap di dada. Tersenyum kemudian.
“Selamat pagi”
“Pagi”
Dijawab sekenanya.
“Pertama kali, saya ingin mengucapkan selamat kepada kalian semua.”
“kalian adalah orang-orang pinter.”
“Orang-orang yang dipilih, diseleksi dari ribuan orang seantero Indonesia”
Bangga kami di puji, sebagian menyeringai, tak mengerti bagaimana harus berekspresi.
“Kalian,  para –calon- sarjana adalah orang-orang hebat di Negara ini”
“Kalian bertanggung jawab pada perubahan dan perbaikan Negara kita di masa mendatang”

“Kalian..”
“Para –calon- sarjana…”
“Orang-orang pinter”
Berhenti sejenak.
“semestinya lebih bisa memahami orang lain”
“Orang-orang yang, baik secara pendidikan formal atau yang pengetahuannya lebih rendah dari pada kalian semua.!!”
“Pengetahuan kalian bukan untuk gagah-gagahan.”
“karena yang diketahui lebih banyak dari pada orang lain, sering kali orang-orang pinter itu tertipu”
“tak sabaran, kemudian menjadi arogan”
Kami terdiam. Masing-masing terbang ke angan-angan. Bahwa menjadi mahasiswa  adalah amanah. Setiap amanah ada konsekwensinya. Ada pertanggungan jawabnya.
“saya tidak tahu..,”
“Diantara kalian tentu ada yang memiliki orang tua sarjana, ada pula yang tidak, mungkin malah tidak sekolah”
“Ada pula yang berasal dari kota, tentu ada yang berasal dari pelosok”
“Ada yang orang tuanya kaya raya, ada pula yang pas-pasan”
“Maka saya ingatkan kepada kalian”
“Sehebat apapun kalian nanti?”
“sampai di mana kalian akan pergi?”
“Ingat-ingatlah”
“Ingatlah siapa kalian sebenarnya”
“Dan dari mana kalian berasal !!!”
Kami diam lagi. Ruangan semakin sepi. Berkebalikan dengan saat kami masuk tadi.
“yang membedakan kalian dengan orang lain adalah..”
“kalian semestinya memiliki cara berfikir yang berbeda”
“Kehadiran kalian adalah sebagai pencerah, sebagai solusi bagi masarakat di mana kalian nanti tinggal.”
“Bukan sebagai sampah, ngakali aturan yang ada”
“Kemampuan besar selalu diikuti tanggung jawab yang besar pula”
“Berlakulah mulia, jadilah penyebab bagi orang banyak”
“berbuatlah sebanyak-banyaknya untuk kesejahteraan masarakat.”
“Karena di masa depan, kalian yang akan meneruskan Negara ini, menggantikan kami-kami yang sudah tua.”
“sekali lagi saya ucapkan selamat belajar !!”
“selamat berjuang !!”
Tersenyum kemudian.
“Kuliah hari ini sampai di sini saja.”
“Kuliah dilanjutkan minggu depan.”
“Siapkan bab pertama. Siap-siap ada kuis”
Kami yang sedari tadi diam mendadak ribut. Dan serempak ber- “Huuuuuu… “ bersama.
 Tanda perjuangan segera di mulai. Perjuangan menggapai asa. Menjemput cita-cita. Janji tetang kehidupan di masa depan yang lebih baik.
Kuliah bubar. Pak dosen meninggalkan ruangan. Diikuti sebagian besar dari kami. Sebagian yang lain tetap di kelas. Melanjutkan keributan yang terhenti tadi. Aku masih duduk di kursi kuliah. Tak beranjak. Merenungi kuliah tadi. Mencoba memahami.
“Semoga saja aku bisa.”



Minggu, 12 Februari 2012

Dilema Imam

Hari masih pagi. Kampungku sudah sejak tadi terbangun. Sejak mbah Saidi mengumandangkan adzan subuh dengan suara amat cempreng. Dari simbahku yang masih dijaga baik oleh orang-orang tua. Memaksa semua orang terbangun. Memaksa semua jangkrik berhenti menderik. Memaksa semua ayam berhenti berkokok. Kalah saing.
Kampungku memang sangat indah. Hamparan sawah nampak berwarna hijau zamrud. Dilatar belakangi pegunungan biru. Memanjang dari utara ke selatan. Puncak-puncak pegunungan nampak berebut sebagai yang paling tinggi. Menyembul diantara kabut pagi yang mulai menipis. Pemandangan akan semakin indah saat matahari semakin meninggi.  Kabut putih akan tergantikan cahaya emas matahari. Menampilkan pemadangan sempurna, hijau zamrud persawahan, biru berlian pegunungan.
 Aku menghirup nafas dalam-dalam. Menikmati kesegaran udara pagi pedesaan. Basah, segar, mengisi penuh paru-paruku. Kemudian menghembuskannya kembali. Bersama semua kepenatan yang aku rasakan. Sampai umurku yang sudah dua puluhan. Hanya sedikit yang berubah. Aku memang kehilangan lapangan bola di belakang rumah. Namun, sawah dan pegunungan di utara sana tidak berubah. Selalu indah saat di pandang. Insah dinikmati. Menghilangkan semua persoalan dan masalah. Meski barang sejenak saja.
Seperti hari biasa, pagi seperti ini selalu ramai. Banyak orang berjalan pagi. Ada yang sendiri-sendiri, ada yang berombongan. Katanya biar tetap sehat. Sekelompok anak-anak tanggung nampak  ramai berjalan bersama. Menyapa saat bertatap denganku. Nampak dua adikku juga ada di rombongan itu. Ini hari minggu. Semua sekolah libur. Waktunya main bola.
Di ujung jalan, nampak dua orang sedang berjalan beriringan. Berjalan ke arahku. Ritual jalan pagi selalu sama. Berjalan ke gedung sekolah SD di ujung desa, kemudian berbalik. Kembali ke rumah masing-masing. Sepertinya sepasang suami istri. Yang putri nampak menggendong seorang bayi. Sesekali terlihat saling bicara. Membicarakan sesuatu. Aku mempercepat langkahku. Sepertinya aku mengenal salah satu dari mereka. Memang benar, dia teman lamaku.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam warokhmatulloh”
Kami bersalaman.  bepelukan agak lama. Betapapun ini bukan pertemuan pertama setelah berpisah lama.  Kami memang sahabat karib. Setiap kali kami bertemu. Semua kenangan masa lalu akan selalu terbayang. Melintas begitu saja, seperti burung-burung pipit yang sedang berterbangan di persawahan.  
“Ini istriku..” sobatku menunjuk
Yang ditunjuk tersenyum. Mengatupkan kedua tangan. Aku mengikuti. Mengatupkan kedua tangan di dada. Bukan muhrim. Tak perlulah bersalaman.
Aku melirik perempuan di samping sahabat lamaku ini. Seorang perempuan cantik. Penampilanya  sangat sederhana. Mengenakan baju kurung panjang berwarna hijau. Kerudung putih sempurna menutupi aurotnya. Khas pakaian santri. Yang dilihat menunduk, Nampak sibuk memperbaiki posisi kain penggendong bayi. Sedari tadi sudah mulai melorot. Gesekan sepanjang jalan-jalan. Di gendongannya nampak seorang bayi sedang tertidur pulas. Sesekali terlihat menggeliat. Menggerakkan bibir mungilnya. Enggan membuka mata. Silau sama matahari.
 “Dia ini wanita solehah, asli pondok pesantren” ia mengangkat jempol.
“Insya Alloh bahagia dunia akhirat”
Aku mengamini. Tak mau banyak bertanya. Enggan membahas. Urusan istri masalah sensitive. Dan percuma berdebat. Ujung-ujungnya Cuma di “cengi”. Diledek tiada henti.  Kalau sudah waktunya juga nanti dapat. InsyaAlloh. Kalau istilah abg-abg labil jaman sekarang. “akan indah pada waktunya”
 “Kamu kapan boz?”  aduh pertanyaan ini muncul lagi. Males aku menjawabnya.
“Kerja terus, mang duitnya buat apa?”
“Ndak dibawa mati juga? Ya kan?”
“Buruan, keburu kiamat!!”
“Ini ni sunah rosul, setengah agama,”
“nanti kalo diakhirat sana kebagian separuh tok surganya”. Aku menepok jidatku. Repot. Kalo ngomong sama ustad. Kebanyakan ceramah. 
Sahabat lamaku ini bernama imam. Kami sudah berteman lama. Sudah jadi hukum alam. Kami bersahabat karena banyak alasan. Karena banyak kesamaan. Sama-sama pecicilan, sama-sama bersekolah di tempat yang sama. Sama-sama punya kekurangan, -lebih tepatnya keistimewaan- sama-sama punya masalah tinggi badan. Kami saling mengenal sejak masih sekolah taman kanak-kanak. Setelah lulus Sekolah dasar kami berpisah. Imam melanjutkan pendidikan di madrasah tsanawiah. Sekalian nyantri di sebuah pesantren terkenal di daerah cilacap. Lumayan jauh dari kampong kami. Sementara aku melanjutkan sekolah SMP di gombong, Sampai SMA. Kemudian melanjutkan kuliah di jogja. Sempurna sudah perpisahan kami. Makin ke sini makin jarang bertemu.
Imam anak yang lincah dan sangat berbakat. Hari-hari kami selepas pulang sekolah diisi dengan banyak urusan. Nyari belut di sawah. Ngejar layangan putus, -selalu tak dapat layangan, kalah sama yang lebih tinggi-. Ciblon di kali saat banjir. Mancing joran di pinggir kuburan yang super seram di ujung kampong.
 Aku lebih suka menghampiri ke rumah Imam untuk mengajak main. Ia berbeda RW dengku. Lumayan jauh. Tentu bukan tanpa alasan, di depan rumah imam ada pohon “basbul” yang sangat enak. Basbul ini model buah langka. Rasanya seperti kesemek. Pohon basbul menjulang tinggi bak pohon cemara. Nyaris tak bisa dipanjat.  Daun basbul lebar-lebar. Kulit luar basbul ditumbuhi bulu-bulu halus yang gatal. Kami harus merontokan bulu-bulu halus itu sebelum memakannya. Terakhir menikmati basbul saat kelas 6 SD, menjelang libur panjang. Menjelang akhirnya di tebang. Punah dari kampung kami. Mungkin punah dari  Indonesia. Lebay.com
Selepas Madrasah aliyah –Setingkat SMA- imam merantau ke Jakarta. Berbekal kemampuan agama dan pengobatan tradisional, imam didaulat untuk menjadi marbot sebuah masjid baru atas inisiatif saudaranya yang lebih dahulu tinggal di sana.  Aku sempat mengunjungi imam beberapa waktu yang lalu. Diantar masku, aku akhirnya mengunjungi imam. Tempatnya lumayan jauh, di ujung timur laut Jakarta.
Imam baru saja keluar dari masjid saat aku datang ke sana. Boleh dibilang kunjunganku adalah pertemuan pertama sejak lama kami berpisah. Aku baru saja lulus kuliah. Sedang sibuk mencari-cari kerja di Jakarta. Aku agak pangling dengan penampilan imam. Imam mengenakan setelan jas warna hijau. Nampak kedodoran, berpeci hitam, dengan sarung kotak-kotak dengan buntelan besar di perut. Nampak sangat berwibawa. Ia tinggal di depan masjid. Di beri sepetak tanah untuk dibangun sendiri sebagai tempat tinggal.
 Tak mau menggantungkan kehidupan sebagai marbot masjid, imam memulai usaha kecil-kecilan. Toko sembako. Untungnya tentu tak banyak, setidaknya ia tak kekurangan. Tak jarang imam rugi. Dagangan imam amblas, banyak konsumen sering menunggak bayaran. Untungnya, Sesekali ada saja orang yang minta pertolongan kepada imam. Semasa di pesantren, imam memang dibekali keahlian pengobatan tradisional dan pijat memijat. Agar setelah lulus, santri bisa mandiri. Tak perlu bergantung pada orang lain. Apalagi meminta-minta. Pantangan bagi imam. Dalam mengobati pasien, Imam tak pernah mematok harga, seikhlasnya saja. Entah sudah berapa orang imam bantu. Ia tidak kaya, masih muda, namun sangat dihormati.
Lambat tapi pasti, usaha imam meningkat pesat. Saat kerja keras imam mulai membuahkan hasil. Imam terpaksa menutup semua dagangannya. Ada saja orang iri yang merasa tersaingi. Ada saja orang iri yang menginginkan imam bangkrut. Tak ingin berseteru, imam memutuskan pindah. Sebenarnya banyak yang keberatan, namun keputusan imam sudah bulat. Menikah menjadi alasan imam untuk pindah. Ia butuh tempat yang lebih luas untuk keluarganya kelak. Bukankah sudah aku katakan kepadamu kawan. Rasa dengki itu sangat berbahaya. Ia menghancurkan diri dari dalam. Merusak kebaikan, seperti api membakar dedaunan.
Imam langsung dinikahkan pak kyai. Tak lama setelah mengajukan keinginan menikah beberapa bulan sebelumnya saat sowan ke pesantren. Langsung dipilihkan santri putri  yang baik oleh pak kyai. Wanita yang sekarang ada di samping imam. Enak juga jadi santri. Tinggal matur langsung dapat. Sayang aku tak dapat hadir dipernikahan imam. Sedang ada urusan di luar kota. Maafkan ya.
“Aih.. aih..  sudah bangun.. ya?”
imam menegok bayi yang digendong istrinya. Manggut-manggut. Pun wanita itu, menengok ke arah gendongan. Keduanya tersenyum. Memanggil-manggil bayinya. Sungguh aku iri melihat pemandangan ini. Semoga kelak bisa berbahagi seperti mereka.  Amin.
Istri imam kembali memperbaiki gendongan si jabang bayi. Bersamaan dengan itu, topi bayi imam tersingkap. Pandanganku tepat mengarah ke bayi imam. Tertahan sebentar. Sesak menahan nafas. Tercekat menahan kata. Aku tidak bisa berkata-kata.
Aku memandangi imam datar. Bertanya-tanya? Kenapa bayimu mam?
“Alloh memang maha adil”
“tak bosan Ia member cobaan kepada kita yo..”
Aku tertunduk. Imam menatap jauh ke depan. Sejauh angan dan cita-cita imam. Sejauh ia telah menahan diri. Bersabar atas segala cobaan. Istri imam juga tertunduk, sibuk memperbaiki gendongan bayi, sibuk memperbaiki topi si bayi. Sibuk menguatkan hati. Si bayi nampak lelah di gendongan, berat menahan beban.  Matanya nanar menatap kami. Menatap percaya pada kedua orang tuanya.  Bahwa suatu saat ia akan tumbuh besar. Sempurna seperti kami semua.
Anak imam didiagnosis menderita  Hidrosefalus. Kepala bayi imam membesar, tumbuh lebih cepat dari bagian tubuh yang lain. Dari buku-buku yang ku baca Hidrosefalus  adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak (cairan serebro spinal). Gangguan itu menyebabkan cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.
“Sejak kapan mam?” ragu-ragu aku bertanya.
“sudah sejak lahir”
“Alloh memang menakdirkannya begitu”
“Aku hanya berusaha dan berdoa”
“Sudah dicoba diobatkan ke sana-kemari, namun belum sembuh juga.”
“Mungkin akunya yang masih kurang ikhlas”
“Masih terlalu banyak berbuat dosa”
“Masih terlalu banyak mengeluh”
Aku memegang pundak imam. Memberi semangat. Ikut menatap jauh ke depan. Ke biru pegunungan.
Alloh memang selalu memberi cobaan kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya.
“Aku hanya bisa pasrah, yo.”
“sekarang ini, aku ingin berbuat yang terbaik, berbuat baik sebanyak-banyaknya.”
“sambil mencari cara untuk menyembuhkannya.”

“Tak peduli sampai kapan? Aku akan tetap berusaha.”
Diam kemudian. Suara angin semilir pelan. Menggoyang ujung padi  menghijau. Burung-burung pipit berterbangan. Terusik oleh gerakan dedaunan. Menghindar dari ancaman.
Bukankah sudah kukatakan kepadamu kawan, saat melakukan hal yang mulia, maka kita harus tabah. Karena hidup akan terasa tidak adil. Seringkali kita harus merelakan apa yang paling kita inginkan. Namun sungguh besar  penghargaan Tuhan di hari kemudian.

Tangisan bayi imam memutuskan obrolan kami. Mulai siang. Mulai panas. Tentu bayi imam mulai tidak tahan. Istri imam, kembali memperbaiki gendongan. Membenamkan bayi imam lebih dalam, agar tak kepanasan. Kemudian memandang ke arah imam. Waktunya pulang.
Kami pun berpisah. Aku menyalami imam, berpelukan lama.
“sing sabar boz.”
“Pasti ada jalan, InsyaAlloh”
Imam mengangguk mantab. Wajahnya lebih terang. Merasa lebih baik. Kami pun berpisah kemudian.
“Assalamu’alaikum” aku memberi salam.
“Wa’alaikumussalam warokhmatulloh” dijawab mantab keduanya. 
Sementara imam pulang, Aku melanjutkan jalan-jalan. Mencari sarapan pagi, nasi rames buatan mak Atun. Menyusuri jalanan kampung, di pinggir persawahan. Menandangi hamparan persawahan hijau jamrud, memandangi pegunungan membiru. Yang seindah cita-cita imam. yang setegar kesabaran imam.