"Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi rizqimu tahu di mana
engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya
menujumu.
Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi
mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.
Tugas kita bukan mengkhawatiri rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan
menyiapkan jawaban "Dari Mana" & "Untuk Apa" atas tiap
karunia.
Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi
bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.
Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi
angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.
Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan
kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.
Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat & berbagi manfaat. Tapi rizqi
tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.
Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru
terbit di kaki Ismail, bayinya? Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan.
Ia kejutan tuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugasnya
cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.
Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi
karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, "Buat
apa?"
Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya
"hak pakai" yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di'adzab.
Dengan itu kita mohon "Ihdinash Shirathal
Mustaqim"; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia &
nikmat ridhaNya di akhirat. Bukan jalannya orang yg terkutuk apalagi jalan
orang yg tersesat.
Maka segala puji bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah maka kesempurnaan
menjadi paripurna"
by: Khotib
Rabu, 08 Oktober 2014
Jumat, 30 Mei 2014
Yudistira & Dewa Dharma
Pada
suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang
kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar.
Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun
menyuruh Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali, Nakula disuruh
menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Yudistira semakin
cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.
Yudistira
kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai mereka telah tewas di tepi
sebuah telaga. Ada seekor bangau (Baka) yang mengaku sebagai pemilik telaga
itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas keracunan air telaganya karena
mereka menolak menjawab pertanyaan darinya. Sambil menahan haus, Yudistira
mempersilakan Sang bangau untuk bertanya. Sang bangau lalu berubah wujud
menjadi Yaksa. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab.
Inilah sebagian pertanyaan yang diajukan Yaksa pada Yudistira:
Yaksa:
Apa yang lebih berat daripada Bumi, lebih luhur daripada langit, lebih cepat
daripada angin dan lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami?
Yudhishthira:
Sang Ibu lebih berat daripada Bumi, Sang Ayah lebih luhur daripada langit,
Pikiran lebih cepat daripada angin dan kekhawatiran kita lebih berjumlah banyak
daripada gundukan jerami.
Yaksa:
Siapakah kawan dari seorang musafir? Siapakah kawan dari seorang pesakitan dan
seorang sekarat?
Yudhishthira:
Kawan dari seorang musafir adalah pendampingnya. Tabib adalah kawan seorang
yang sakit dan kawan seorang sekarat adalah amal.
Yaksa:
Hal apakah yang jika ditinggalkan membuat seseorang dicintai, bahagia dan kaya?
Yudhishthira:
Keangkuhan, bila ditinggalkan membuat seseorang dicintai. Hasrat, bila
ditinggalkan membuat seseorang kaya dan keserakahan, bila ditinggalkan membuat
seseorang bahagia.
Yaksa:
Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan?
Manusia macam apa yang mulia dan hina?
Yudhishthira:
Kemarahan adalah musuh yang tidak terlihat. Ketidakpuasan adalah penyakit yang
tidak bisa disembuhkan. Manusia mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk
semua makhluk dan Manusia hina adalah yang tidak mengenal pengampunan.
Yaksa:
Siapakah yang benar-benar berbahagia? Apakah keajaiban terbesar? Apa jalannya?
Dan apa beritanya?
Yudhishthira:
Seorang yang tidak punya hutang adalah benar-benar berbahagia. Hari demi hari
tak terhitung orang meninggal. Namun yang masih hidup berharap untuk hidup
selamanya. Ya Tuhan, keajaiban apa yang lebih besar? Perbedaan pendapat membawa
pada kesimpulan yang tidak pasti, Antara Śruti saling berbeda satu sama lain,
bahkan tidak ada seorang Resi yang pemikirannya bisa diterima oleh semua.
Kebenaran Dharma dan tugas, tersembunyi dalam gua-gua hati kita. Karena itu
kesendirian adalah jalan dimana terdapat yang besar dan kecil. Dunia yang
dipenuhi kebodohan ini layaknya sebuah wajan. Matahari adalah apinya, hari dan
malam adalah bahan bakarnya. Bulan-bulan dan musim-musim merupakan sendok
kayunya. Waktu adalah Koki yang memasak semua makhluk dalam wajan itu (dengan
berbagai bantuan seperti itu). Inilah beritanya.
Akhirnya,
Yaksa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja.
Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Yaksa heran
karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa
dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena
Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus
putera yang lahir dari Madri, yaitu Nakula.
Yaksa
terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa
Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan yaksa adalah untuk
memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira,
maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna,
dan Sadewa.
Senin, 17 Maret 2014
NEGERI TANPA AYAH
by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)
1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku
jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi
pemain bola
2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan
pandai mengasuh anak bukan sekedar
'membuat' anak
3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama
ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi
4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan
dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja
5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari
AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi
basah
6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal
ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?
7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH
durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk
jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah
namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya
9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh
anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya
10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi
tak mau memuliakan anaknya
11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar
anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless
country
12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan
harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?
13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni
koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi
14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum
waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya
15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru
mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya'qub, Imron.
Mereka adalah contoh AYAH yg peduli
16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata:
Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH
17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya
bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta
pertanggungjawaban kelak
18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal
mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari
sosok kakek dan pamannya
19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang
pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya
menjadi nabi
20| Generasi sahabat menjadi generasi
gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka
digelari umat terbaik.
21| Di dalam quran ternyata terdapat 17
dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH
lebih banyak disebut
22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan
baik di rumah, sekolah dan masjid
23| Harus ada sosok AYAH yg mau jadi guru TK dan
TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan
ibu yg berkisah tapi AYAH
24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar
anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa
terancam dengan hardikan
25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia
menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid
26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak.
Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya
27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi
pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman
suasana sekolah yakni ibunya
28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran
hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH 'kepala sekolah' tapi AYAH
'penjaga sekolah'
29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan
kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan
ibunya
30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna
terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak
31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta.
Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika
32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg
tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap
utama
33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap.
AYAH terlibat, ibu apalagi
34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan
AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH
35| Silahkan share jika berkenan agar makin banyak
AYAH yang peduli dengan urusan
pengasuhan. Salam
bahagia (bendri jaisyurrahman)
Senin, 02 September 2013
SURAT CINTA ORANG PROYEK
Beginilah kalo orang proyek jatuh cinta pada mandornya. Menulis surat cinta untuk sang idola. Tak ada kertas dan amplop. Tak ada punya nomer HP dan pin BB. Dinding tembok jadi sasaranya. Cekidot.
Puisi Gila
Tipe standar jilid II
Tidak bisa nulis. ya udah digambar saja
Ngrayu.....
Ngrayu jilid II
Ini penggemarnya DEWA 19
Kalo yang ini punya be be...
Ini baru awal... selanjutnya, tunggu edisi berikutnya.... he he he he...
Jumat, 30 Agustus 2013
Mari Merenung.. Mari Menghitung Diri...
Dalam sebuah obrolan aku diberi pertanyan pilihan.
Mending "Bodo nglakoni, utawa pinter
ora nglakoni". Jadi orang bodoh tapi mengamalkan, atau menjadi pinter tapi tidak mengamalkan.
Ditempat lain, pertanyaan yang laen muncul "Pilih kere mule, apa sugih
medit", Pilih miskin pemurah atau kaya tapi pelit.
Besar sekali kemurkaan Alloh dengan orang yang tahu tapi
tak mau mengamalkan. Habis sudah sempurna kita di hadapan-Nya. Kemudian disejajarkan
kita dengan makhluk yang lebih hina. Berilmu
kemudian beramal soleh. Pengetahuan tanpa
amal sholeh sangatlah berbahaya. Tak hanya menyesatkan diri sendiri namun bisa
dipergunakan untuk menyesatkan orang lain. Menggunakan kemampuannya untuk
keuntungan diri sendiri. "pinter, keblinger". Mengapa setelah diberi ilmu dan petunjuk, malahan memilih jalan hina?
Yang beribadah tanpa ilmu dianggap sebagai orang yang
merugi. Lelah badan dan hatinya, namun tak juga memperoleh apa-apa. Sangat
banyak ayat-ayat maupun dalil-dalil tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Tak
ada perbedaan antara ilmu-ilmu ibadah dengan ilmu-ilmu alam. Tak boleh kita
menganggapnya salah satu lebih utama. Karena Alloh SWT meletakkan pula
–tantangan- tentang pengetahuan alam untuk menunjang hal-hal yang terkait
ibadah maupun terkait kehidupan manusia. Bukankah mereka yang diberi petunjuk
adalah mereka yang senantiasa "berdzikir", merenung baik dalam segala
keadaan, berdiri, duduk, maupun berbaring. Tuhanku, sungguh Engkau menciptakan
segala sesuatu tak ada yang sia-sia.
Kemudian, menjadi kaya dengan banyak harta, juga bukan
tanpa konsekwensi. Harta yang kita punya ada pertanggung jawabannya. Ada audit
dan perhitungannya. Dapat dari mana? Untuk apa dibelanjakan? Kekayaan yang
dipergunakan secara bijak, akan membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi si
empunya. Kekayaan yang dipakai dengan sembrono,
foya-foya, hura-hura akan membawa kesengsaraan pada akhirnya. Alloh mengancam kita. Jikalau kita bersyukur,
ditambahlah nikmat kita. Jikalau kufur, tunggu saja kecelakaan bagi kita.
Lihatlah nasib Firáun, Qorun dan tsa'labah.
Kemiskinan membuat orang merasa aman. Kesalehan dalam
keterbatasan. Tak ada harta yang perlu dipertanggung jawabkan. Namun, apakah
kita akan menjadi soleh sendirian. Tak peduli pada keadaan sekitarnya. Bukankah
setelah sholat ada amal sholeh? Setelah amal sholeh ada saling menasehati dan
mengajak pada kebaikan dan kesabaran. Bohong
sholat kita, bohong puasa kita, jika kita hanya peduli pada diri sendiri. Mengabaikan
fakir miskin dan anak yatim. Kenikmatan
dunia memang melenakan, namun ketidakpedulian bertentangan dengan maksud
penciptaan. Bukankah Ia, Yang menciptakan alam semesta dan segala isinya, tak
pernah sedikitpun mengabaikan ciptaan-Nya. Yang taat ataupun ingkar di
perhatikan-Nya. Semua disayangi-Nya.
Sejatinya, bukankah hidup ini sebuah pilihan. Kita diberi
modal. Panca indra dan kecerdasan. Umur dan kesempatan. Dalam hidup kita yang
sekali-kalinya ini, Apakah akan digunakan
untuk duduk diam, ataukah bekerja? Sungguh waktu akan terus berjalan. Jatah kita di dunia
akan terus berkurang. Maka kita diminta,
Agar mencari sebanyak-banyak nya keduniaan, seakan-akan kita hidup selamanya. Kita
diminta agar beribadah sekuat tenaga, seakan-akan kita mati esok hari. Banyak
secara kuantitas, banyak secara kualitas.
Pada akhirnya nanti
kita semua akan menyesal, menyesal kenapa di dunia kita tidak berbuat baik.
Menyesal karena hanya sedikit berbuat baik. Menyesal karena kebaikan -yang kita rasa- banyak ini, masih tetap
kurang banyak. Yang senantiasa berbuat baik saja akan menyesal, bagaimanakah
dengan yang tidak berbuat baik?
"Bodo
nglakoni, utawa pinter ora nglakoni"
atau "Pilih kere mule, apa sugih medit" adalah pertanyaan
bagi kita semua. Berhentilah terlena. Merasa nyaman. Merasa cukup berbuat baik. Merasa sudah cukup beramal
ibadah. Nyaman kita dengan kebaikan yang sedikit. Nyaman kita memilih-milih
dosa. Nyaman memilih-milih pahala. Mengapa tak kita borong saja banyak-banyak.
Gapai sebanyak-banyaknya kebaikan, tinggalkan sebanyak-banyaknya keburukan.
Padahal nabi saja tak pernah melewatkan istighfarnya sebelum tidur.
Maka semestinya kita memilih, "yo pinter, yo nglakoni, yo duwe yo
mule" Ya pinter, ya mengerjakan, ya kaya, ya pemurah.
Pilihlah itu saja. Sekuat tenaga kita.
Selagi berkesempatan
Selagi berkesehatan
Selagi berkemampuan
Selagi berkekuatan
Selagi berkehidupan
Minggu, 18 Agustus 2013
Sore Di Pasar Rebo
Akhir-akhir ini
hujan turun tiada berhenti. Bukankah ini bulan desember? Orang jawa bilang bulan desember adalah kependekan
dari “Gede-gedene Sumber”,
sebesar-besarnya sumbe r –penghidupan- .
Bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia. Sepanjang tahun Alloh
menganugerahkan hujan. Menurunkan berkah dari langit. Ijo royo-royo. Al hasil bumi kita ini seperti surga saja.
Tempat segala macam tetumbuhan dan hewan hidup. Berkah untuk disyukuri dengan
tidak menyia-nyiakannnya, berkah untuk memanfaatkannya dengan bijaksana.
Minggu-minggu
ini aku memang sibuk sekali. Bolak-balik karawang-jakarta. Untuk benyak
keperluan, entah koordinasi, entah mengurus dokumen dan lain sebagainya. Butuh waktu sekitaran 4 jaman sekali jalan.
Berarti 8 jam Pulang pergi. Jadi kalau aku berangkat dari karawang pukul tujuh,
potong segala urusan dan lain sebagainya. Maka aku paling cepat nyampai lagi di
karawang abis maghrib. Waktunya abis di jalan. Tua di jalan pokoknya.
Melelahkan bukan?
Langit nampak
menghitam sejak aku naik mayasari di simpang point square. Biasanya aku naik
busway nyampai point square kemudian lanjut mayasari atau koantas bima. Yang
mana saja, yang penting bisa segera sampai di kp Rambutan untuk kemudian lanjut
ke Karawang. Kali ini mayasari yang duluan lewat, aku langsung naik. Hawa
dingin dan aroma pewangi murahan menghembus sejak aku membuka mayasari. Kontras
dengan aroma koantas bima, bau keringat
dan “umpel-umpelan”. Ongkosnya pun beda. Tiga kali lipat lebih mahal.
Kali ini
pilihanku tepat. Alkhamdulillah, hujan mengguyur deras sejak keluar pintu tol
fatmawati. Tak kebayang seandainya naik koantas bima. Biasanya bocor di sana
sini. Ya dari pinggiran jendela –karena udah rusak, atau memang kacanya ndak
ada-. Ya bisa juga dari atap angkot yang bocor. Masing-masing pilihan ada
konsekwensinya. “Rego nggawa rupo”. Sementara di mayasari, berasa semakin
“adem”. Mal’lum ac nya ndak pake inverter, jadi yo dinginnya ngucur terus.
Brrrrrrr......
Setelah setengah
jam perjalanan bus sampai di pasar rebo. Aku lebih mengenal pasar rebo,
sebagai sebuah persimpangan rame di
ujung selatan-timur jakarta. Tempat bis, Ojek, pedagang, angkot ngetem.
Terminal bayangan istilah gampangnya. Diakui atau tidak, pasar rebo jauh lebih
rame dari pada kp rambutan, terminal
yang sebenarnya. Kami tak berarti terbebas dari keramaian pasar rebo.
Bis berjalan tersendat di underpass. Ndak kehitung jumlah kendaraan yang
berlalu lalang. Saling nglakson satu sama lain. Sudah macam pesta tahun baru
saja.
Aku turun dari
bis, beberapa saat setelah hujan reda. Belum bener-bener berhenti, masih cukup
untuk membuat pakaian ini lepek. Jalanan basah, becek, genangan air nampak di
sana-sini. Beberapa anak kecil “pengojek payung” nampak berkumpul. Menghitung
rejeki selama hujan tadi. Lumayan untuk uang jajan. Para pedagang kaki lima
mulai bersih-bersih, menunggu pastinya hujan turun. Bersiap membuka dagangan
mereka kembali. Aku melintas saja,
berlalu menuju ke mushola kecil di pingir jalan. Sudah adzan maghrib.
Selesai shalat,
aku bergegas keluar mushola. Waktunya menuju karawang. Tujuan terakhir. Gerimis-gerimis
begini, enaknya makan gorengan. Ada
tukang gorengan dekat poho cherry. Alamak, ada “mendoan”.
Sudah lumayan lama ndak pulang. Kangen
sama mendoan.
Uap panas mengepul saat kulepaskan gigitan pertama. Aku
mengap-mengap. Terasa Panas di rongga mulut, ngilu di gigi, gurih di lidah.
Paduan sensasi rasa yang luar biasa. Gigi dan lidahku berjingkit bergantian
menahan panas gorengan. Nikmat dirasakan, sayang untuk dimuntahkan.
Aku megap-megap..
“Huft... Haaaft.... Enyak...
nyanyas...” gumamku.
Hujan masih turun rintik-rintik.
Kendaraan berjalan pelan. Pak polisi sibuk mengatur angkutan dan bis yang
-selalu- bandel. Bandel ngetem di
puteran. Peluitnya sudah lama tak bersuara. Nafasnya sudah habis sedari siang
tadi.
Aku beringsut ke dipan dekat warung
sate. Ada tempat kosong. Tidak enak makan sambil berdiri. Malu sama sahabat
nabi. Lagian masih sore ini. Tak perlu terburu-buru pulang ke karawang. Toh bis
terakhir masih berangkat sampai tiga jam lagi. Jadi tidak perlu kawatir
terdampar di sini.
Di dekat dipan, seseorang sedang sibuk mengupas sisir pisang. Agak layu berwarna kuning emas bergaris kecoklatan, sedikit layu. Tersenyum kepadaku. Kubalas dengan senyum bakbao. Gembung di pipi. Ada yang terasa panas di dalam sana. Ternyata beliau si empunya gerobak gorengan itu. Senang melihatku melahap gorengan. Senang melihat daganganya laris.
Di dekat dipan, seseorang sedang sibuk mengupas sisir pisang. Agak layu berwarna kuning emas bergaris kecoklatan, sedikit layu. Tersenyum kepadaku. Kubalas dengan senyum bakbao. Gembung di pipi. Ada yang terasa panas di dalam sana. Ternyata beliau si empunya gerobak gorengan itu. Senang melihatku melahap gorengan. Senang melihat daganganya laris.
“Mau pulang atau berangkat mas?” si
bapak berbasa basi.
“Ke karawang pak, mau pulang”
“Bagaimana dagangan hari ini pak?
Laris?” aku iseng bertanya.
“Ya Alkhamdulillah, beberapa hari
ini lumayan..”
“Sering pulang cepat, dagangan
cepet habis, ya ndak Bu’e?”
Yang di panggil menengok. Tersenyum. Kemudian kembali
menggoreng.
Lagi banyak pesanan. Lagi banyak
yang mengantri.
“Yah.. beginilah saya mas.. “
“ Usaha apa saja, yang paling
penting halal.Berkah. Penginnya punya
rejeki banyak, kaya sampean ini. Tapi sedikitpun ndak papa.Rejeki halal itu
pasti berkah. Kalo di makan ke badan jadi daging, ke otak jadi pinter. Ke
akhlak jadi bener. Kalo rejeki harom mas. Biar kata banyak. Kalo ke badan jadi
kangker. Kalo ke akhlak jadi bandel, kalo pinter, jadinya keblinger”
si bapak mulai ber cerita. Mengupas
pisang terakhir. Tapi pembicaraan ini jelas ditujukan kepadaku.
Aku manggut-manggut. Si bapak ini,
pantesan gorengannya seenak ini.Empat jempol untuk si bapak.
“Terus.. terus...?” aku semakin
antusias.
Si bapak meletakan pisau dan pisang
ke nampan. Membuang kulit pisang ke tempat sampah. Aku memperbaiki posisi
duduk.
Aku sedikit mengangkat bahu. Rada
GR.
"Mangkanya, bapak pengin
anak-anak bapak jadi orang pinter. Sekolah setinggi –tingginya"
"Pinter yang ndak Cuma pinter,
tapi sekaligus baik akhlaknya"
"Biar pinternya ndak buat minteri,
ndak buat ngakali hukum, ndak buat korupsi"
Kami terdiam. Bergelut dengan
pikiran masing-masing.
Makin malam, jalanan tambah ramai.
Gerimis mulai reda. Sepertinya orang-orang yang menepi mulai melanjutkan
perjalanan kembali.
Ÿowis pak… "
aku pamit dulu..
sudah malam pak…
"Oke.. sukses yo mas!" Si
bapak membalas, menepuk bahuku. Aku mengangguk.
Aku bergegas menyangklong tas, pergi
meninggalkan mereka berdua. Bis merah sudah merapat.
Semoga
Alloh membalas kesungguhan bapak ibu berdua. Makin laris dagangannya yo pak. Makin
pinter dan soleh solehah anak-anaknya. Makin sukses usahanya.

Tukang
Gorengan. (Ilustrasi aja)
Minggu, 18 November 2012
Dilema Imam : Bekam ke-4
Kamis pagi yang dingin. Entah sudah berapa lama alarm jam di berdering.
Alunan murottal di masjid sebelah sudah
berakhir. Berganti adzan subuh. Gontai aku bangun. Meregangkan otot sebentar.
Kemudian mengambil air wudlu. Sholat subuh.
Sudah cukup lama aku tinggal di karawang. Konsekwensi
pekerjaan, mengharuskan kerelaan untuk berpindah-pindah tempat tinggal. Ada
susahnya, tentu juga ada senangnya kawan. Warna warni. Selalu begitu. Puncaknya, beberapa
minggu ini. Benar-benar minggu-minggu yang sangat
melelahkan. Jakarta-karawang-Semarang-gombong-jakarta-Semarang-Jogjakarta-Karawang-jakarta.
Super melelahkan.
Semoga Alloh selalu menjagaku dalam kebaikan dan
kesehatan, menjauhkanku dari segala mara bahaya.
Selepas sholat aku melirik kalender di dinding.
Ah.. sudah bertambah satu tahun lagi.” Gumamku.
Yah... hari ini bertambah satu tahun. Satu tahun bertambah lagi
sejak ribuan tahun lalu. Sejak
rosululloh berhijrah. Berpindah dari mekah ke madinah. Berpindah dari
mekkah yang penuh kenangan ke madinah yang penuh harapan. Harapan tentang
kemungkinan da’wah yang lebih baik.
Disadari atau tidak, sebenarnya tiap-tiap dari kita juga sedang berhijrah.
Berhijarah dalam ruang dan waktu yang berbeda.
Dari detik ke detik berikutnya. Dari tempat yang satu ke tempat
berikutnya. Bayi, kecil, dewasa, kemudian menjadi tua. Dari Jakarta-karawang-Semarang-gombong-jakarta-Semarang-Jogjakarta-Karawang-jakarta. Hijrahku beberapa hari ini.
Tahun baru ditandai dengan tanggal satu. Ditandai dengan tanggal
merah. Berarti kerjaan juga libur.
Waktunya rehat. Istirahat. Waktunya bekam.
*******************************************************************************
Rahmat sudah sejak tadi nongkrong di depan pintu. Lama dia menunggu
pintu dibuka.
Bukankah ini masih jam 8 pagi. Semangat sekali dia.
Aku buru-buru mandi. Sebel sekali mendengarnya ngomel-ngomel.
Selepas sarapan kami pun berangkat. Meluncur ke cibitung tempat imam
tinggal. Kira-kira butuh sekitar tiga perempat jaman berkendara dengan motor.
Kalo jalanan lancar bisa cepat sampai, namun kalau macet dapat bonus setengah
jam.
Akhirnya kami sampai ke rumah
imam. Imam
sedang menangani seorang pasien. Sibuk sekali. Mondar-mandir sana-sini. Imam menemui kami –masih-dengan
dahi berkeringat. Ia menyalamiku. Menyalami adikku.
Mempersilahkan kami duduk. Kemudian masuk kembali ke dalam. Ke ruangan praktek.
Selesai mengobati, imam menemui –lagi- kami berdua. Kemudian mengambil sebatang
rokok dan menyulutnya. “Dalam” dia menghisap rokok. Mungkin bagi –mereka- para “ahli hisab” (perokok –red). Rokok adalah obat mujarab selepas berlelah-lelah. Makan takkan kenyang sebelum ditutup dengan merokok.
“Buku baru mana boz?” imam memulai pembicaraan. Nampak menikmati
filternya.
“Belum ada om, baru sabtu ini ada pameran”
“InsyAlloh aku carikan deh...”
Imam memang jebolan pesantren. Tapi semangat belajarnya ndak pernah
kendur. Ia selalu ingin tau. Selalu haus akan info terbaru tentang dunia
herbal. Coba saja dia mau belajar internet. Mungkin akan lebih tau banyak lagi.
Paling tidak pamornya akan naik. Lebih mentereng gitu.
Asyik kami mengobrol, mb Nur
–istri imam- datang. Biasa, namanya ibu-ibu kan hobinya ngumpul. Share
informasi. Update kabar terbaru. Ia nampak sumringah, riang seperti biasanya.
Menyapa kami berdua. Sibuk bercerita dengan imam, melaporkan kejadian barusan. Update status
bersama ibu-ibu tetangga perumahan.
Sembari bercerita, mb Nur menggoyang-goyangkan badannya ke kanan dan
ke kiri. Seorang bayi lucu terlelap di gendongan. Nyaman dipelukan mb Nur.
Ternyata bukan fahri. Jagoan imam.
Memang betul kawan, fahri telah meninggalkan kami semua. Beberapa waktu yang lalu, selepas kunjungan kami di hari
sabtu, Fahri
mendadak menolak makan dan minum. Semua dimuntahkan. Badannya panas tinggi. Kejang sepanjang
sore hari.
Inginnya imam bisa bersama fahri lebih lama. Namun kehendak Alloh
berbeda. Rupanya, Alloh menyayangi fahri.
Ia memanggil fahri lebih dulu.
Mengambil kembali titipan yang telah dijaga dengan amat baik oleh imam sekeluarga. Dan amanah itu dijaga
imam dan mb Nur dengan sempurna. Tanpa penyesalan, tanpa keluhan, tanpa
kemarahan. Yang ada hanya kelegaan. Hanya keikhlasan.
Dari cerita Imam, beberapa
saat setelah dibawa kerumah sakit, fahri menghembuskan nafas terakhir. Cairan
dari otak fahri mengalir deras. Tak cukup ditampung dilambung. Meluap. Kemudian mengisi
rongga paru-paru. Kemudian menghambat pernafasannya. Setelah hampir tiga tahun
perjuangan yang berat, Fahri akhirnya berpulang ke haribaan-Nya. Jika itu yang
terbaik untuknya, maka sudah seharusnya diikhlaskan saja.
*********************************************************************************
“Bos, sepertinya memang lagi
banyak kerjaan ya?” imam asik memompa alat bekam.
“Iya ini, muter-muter terus... “
“Wis koyo gangsing lah om” aku menyeringai. Sedotan di leher terasa
amat sakit. Ngilu.
“Itu tadi anake masku,” Imam menyelesaikan sedotan terakhir. Tinggal
ditusuk jarum.
Aku menyeringai. Pegal di seluruh punggung.
“Saya bawa ke sini saja. Mesaaken,
anake masku banyak.”
“Saya bawa ke sini saja, ngge
konco bojoku”
“Nggo anget-anget umah
kene..”
Imam diam. Ada kelegaan di
sana. Semua berjalan apa adanya. Sederhana.
Sesederhana hati imam.
Aku diam. Eh nyengir ding... Sakit.
Hanya suara “cekrik-cekrik” yang terdengar.
“Mahasuci Alloh yang menciptakan makhluk sekehendak-Nya.”
“Mahasuci Alloh yang mengambil kembali amanat sesuka-Nya.”
“Kita ini ndak pernah minta dilahirkan dari orang tua yang mana pun
om..”
“Keponakanmu pun begitu om, ia tak pernah tau dari rahim manakah ia
akan dilahirkan, dan siapakah yang akan merawat dan membesarkan”
“Sekarang ia menjadi amanat
untuk panjenengan om, harus dijaga baik-baik.”
“Harus diperlakukan sama seperti dahulu om sekeluarga merawat fahri”
Aku tak bisa melihat imam mengangguk. Aku yakin
imam jauh lebih paham dalam urusan seperti ini.
Sunyi lagi....
Kawan...
Urusan kehidupan memang –seharusnya- sederhana. Kitalah yang membuatnya rumit. Kitalah
yang membuatnya bagai benang kusut. Ruwet
tak karuan. Tidak ada yang benar-benar begitu sulit. Jika kita menggunakan
pikiran yang jernih dan senantiasa berhati tulus dan bersih, maka segala akan
terlihat terang benderang.
Bukankah Alloh, Tuhan Yang Maha Kuasa takkan
pernah membebankan sesuatu apapun melebihi kemampuan kita? Jikalau sesuatu
terasa lebih sulit, Itu semata-mata karena Alloh menyayangi kita. Karena Alloh
ingin menguji kita, untuk kemudian menjadikan kita manusia yang lebih baik
lagi.
Bagi yang Alloh karuniai anak dari rahimnya
sendiri, maka berbahagialah. Kemudian teruslah bersyukur, dan jangan sekalipun
terlena. Didik dan besarkan dengan segenap jiwa. Sebagai ujian atas besarnya
keimanan kita sekaligus Sebagai amanah dari Yang Maha Kuasa, yang harus selalu
dijaga, yang suatu saat harus dipertanggung jawabkan di hadapan pemilik-Nya,
Alloh Subhanahu wata’ala.
Untuk yang belum dikaruniahi Alloh, tak perlulah bersedih hati.
Teruslah berikhtiar. Teruslah bersabar. Segala sesuatu ada waktunya
masing-masing. Karena Alloh hanya memberikan amanah kepada orang-orang yang
dipercayai-Nya. Kalau meminjam istilah anak muda, biarkan segalanya terasa indah pada waktunya. Maka selama menunggu, teruslah berprasangka baik, teruslah berbuat baik.
Sejatinya, Semua makhluk
di dunia ini adalah kepunyaan Alloh. Ciptaan Alloh. Memiliki anak ataukah tidak. Anak angkat ataukah
anak kandung. Semestinya sama. Bersikaplah seperlunya saja, tak perlulah
berlebihan. Tak perlulah terlalu dipermasalahkan. Apalagi saling menyalahkan. Sedikitpun,
kita tidak pernah tahu apa yang Alloh skenariokan tentang hidup kita.
Maka, Anak-anak yang –sudah- dalam penjagaan kita, baik yang dilahirkan oleh
istri kita, ataukah orang lain, adalah amanah dari Alloh Subhanahu wata’ala.
Haruslah dijaga sebaik-baiknya. Tak boleh dibeda-bedakan.
Bukankah, niatan hidup kita adalah berbahagia? Dan
kebahagiaan itu, bukankah kita sendiri yang paling tau rasanya? Maka mengapakah
kita masih membutuhkan persetujuan oranglain untuk berbahagia?
Jika niat kita baik, cara-cara yang kita pergunakan benar,
insyAlloh, Alloh akan memberikan kebaikan kepada kita. Mengaruniakan kebahagiaan hidup.
Menganugerahkan kesejahteraan kehidupan di dunia dan di akhirat.
Saat Alloh
mengabulkan doamu, Ia sedang menguji imanmu....
Saat
Alloh tidak belum mengabulkan doamu, Ia meminta kesabaranmu...
Saat
Alloh mengabulkan yang bukan doamu, (yakinlah) Ia telah menganugerahkan yang
terbaik untukmu..
Langganan:
Postingan (Atom)

