Jumat, 10 Oktober 2014

TIPS DAN TRIK NAIK KRL


Kita tentu ndak asing lagi dengan yang namanya KRL atawa Kereta Rel listrik, atau KRL Commuter Line. Yang tinggal di sekitaran JABODETABEK tentunya udah pernah ngerasain alat transportasi masal ini. Udah pernah ngalamin suka dukanya waktu naik KRL. So, buat tambah-tambah rasa, aye kasih tips dan trik naik KRL. Tips dan trik ini tidak bisa dikatakan benar dan efektif 100%, (Hla iklan sampo aja 99,9% menghilangkan ketombe.. Husss), karena didasarkan pada pengalaman penulis selama naik KRL. Okelah, Cekidot ajah…

1.     Pastiin Kamu membeli tiket di loket yang ada. Kalau ndak,  dijamin ndak bisa masuk stasiun lewat pintu elektronik yang sudah disediakan. Kalau tetep nekad berarti siap berantem dengan security atau bapak tentara berbaret pink. Jadi  Jangan coba-coba main-main atraksi macam film-film jet li atau Jacky Chan. Kagak ada untungnya, penginnya naik kereta listrik, bukannya masuk gerbong malah masuk pos polisi stasiun. Kalau mau lewat jalur damai, berarti kamu siap didenda Rp. 50.000,- . Ngapain juga, orang tinggal nurut jalur yang benar. Lagian kalau ke jurusan terjauh, paling mahal ndak sampai Rp. 10.000,-

2.    Ongkos perjalanan naik kereta sekarang adalah Rp. 2000,- untuk 5 stasiun pertama, tiap-tiap tiga stasiun berikutnya kena Rp. 500,- jadi kalo kamu lagi suntuk, stress, banyak tugas, ngabur gara-bara abis diomelin mak atawa babeh, atau pengin jalan-jalan ngak jeles tapi murah meriah, naik aja KRL, keliling-keliling Jakarta lalu mbalik lagi dan turun distasiun terdekat. Murah kali bayarnya. Trus kalo turun distasiun yang sama bayar berapa ya? Rp. 50.000,- kok Bisa?

3.    Meskipun frekwensi kedatangan KRL itu relative banyak, bukan berarti kamu harus nyantai-nyantai brow, umumnya di jam-jam sibuk kereta yang lewat banyak, ngepasi orang berangkat kerja dan pulang kantor, antara jam 05.00 s.d 08.00 atau jam 16.00 s.d 21.00. antara 3 sampai 5 menit sekali. Diluar jam itu, kedatangan kereta bisa setengah jam sekali. Ingat Bro! KRL tidak beroperasi 24 jam. Jadi kalo ngeluyur jangan kemaleman yax…


4.   KRL umumnya terdiri dari 8 ataw 10 gerbong (CMIIW). Gerbong paling depan dan paling belakang khusus buat "WANITA" . Saya kasih cetak tebal. Soalnya meskipun udah ditulis segede gaban di gerbong, para pria-pria kadang masih nyelonong aja ke gerbong wanita. So akibatnya kereta tidak jalan juga. Atw ditarik sama security, diajakin ke posko dicek lagi kesehatannya, yang jelas belum ada yang sampai cek "nganunya" buat mastiin jenis kelaminnya.

5.   Naiklah kereta dengan tertib, tunggu penumpang turun dengan berdiri di kanan-kiri pintu. Ndak usah grubak-grubuk, teorinya sih begitu. Karena urusan tertib naik turun penumpang selalu jadi masalah. Orang Indonesia memang susah banget kalo disuruh tertib alias disiplin. Saat naik turun kereta di jam sibuk bisa jadi pertaruhan nyawa. Dorong-dorongan sampe sikut-sikutan. Kalo ndak mau kesruduk mending kalem saja coy.

6.   Kalo udah di dalem kereta ngak usah nyari-nyari kesempatan dalam kesempitan. Hla mang kan ëmpet-empetan?. Jangan mikir jorok, ngomong jorok, berbuat jorok. Jangan berbuat asusila, mepet-mepet, nyenggol-nyenggol, ngintip-ngintip, pegang-pegang, apalagi nyopet. Bahaya gan…

7.  Pastikan kamu udah wangi, ya bajumu ya badanmu. Pokoknya sebelum naik kereta pastiin udah mandi. Kalo air di rumah atawa di kostan tidak ngalir, Di stasiun juga ada toilet gratis, situ boleh kok mandi di toilet stasiun krl. So, saat kamu empet-empetan, bergelantungan dalam KRL sebelahmu ndak perlu nahan nafas, karena ndak tahan bau badan kamu.

8.    Jangan lupa, gosok gigi sebelum naik KRL, biar ndak bau jigong. Usahakan juga udah BAB sebelum berangkat. Kebayang kan, kalo lagi desak-desakan. Nahan panas, karena ac nya -kebetulan- ndak dingin. Kamu malah nglepas  pin granat, mbuang gas, alias kentut. Bisa-bisa, pingsan seisi gerbong.
9. Selain copet, hati-hati dengan mas-mas ataw om-om yang jari-jari tangannya ngedril. Ngomongnya  ngondek. Alay pisan. Atau ama mba mas setengah-setengah, yang dandanya menor, ketawanya kaya kunt*****k.  Pengalaman ane, sampe kebawa mimpi, ndak bisa tidur. Gara-gara pas pulang malem dideketi ama mas-mas ngondek. Jadi saran ane, jangan pulang terlalu malam. Bisa-bisa digodain ama mas-mas itu. Sorry ya mas brow…
10. Waktu mau turun, perhatikan stasiun mana kamu turun. Pintu mana yang akan dibuka. Mendekatlah ke arah pintu satu ataw dua stasiun sebelumnya. Jangan sampai ketiduran, ntar kebablasan.  Ndak usah teriak-teriak. Ndak usah kagetan. Ndak usah dorong-dorongan. Jangan sampai membahayakan diri dan orang laen.
 Ya sementara sekian dulu, trik dan tips dari saiya, semoga brmanfaat. Monggo ditambah sendiri. Intinya, Dengan naik KRL berarti kita udah ikut membantu menyukseskan program pemerintah. Menghemat biaya,  Mengurangi subsidi BBM, mengurangi kemacetan di jalanan, mengurangi stress, menambah awet kendaraan (karena ndak perlu sering-sering ganti oli dan ban). Menambah silaturahmi, dan banyak manfaat lainya.


Rabu, 08 Oktober 2014

ANTARA RIZKY DAN BEKERJA

"Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi rizqimu tahu di mana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.

Tugas kita bukan mengkhawatiri rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban "Dari Mana" & "Untuk Apa" atas tiap karunia.

Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.

Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki Ismail, bayinya? Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu kejutan.

Ia kejutan tuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugasnya cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.

Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, "Buat apa?"

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya "hak pakai" yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di'adzab.
Dengan itu kita mohon "Ihdinash Shirathal Mustaqim"; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat. Bukan jalannya orang yg terkutuk apalagi jalan orang yg tersesat.

Maka segala puji bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah maka kesempurnaan menjadi paripurna"



by: Khotib


Jumat, 30 Mei 2014

Yudistira & Dewa Dharma


Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, Yudistira dan keempat  adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali, Nakula disuruh menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.

Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Ada seekor bangau (Baka) yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan darinya. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang bangau untuk bertanya. Sang bangau lalu berubah wujud menjadi Yaksa. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab. Inilah sebagian pertanyaan yang diajukan Yaksa pada Yudistira:

Yaksa: Apa yang lebih berat daripada Bumi, lebih luhur daripada langit, lebih cepat daripada angin dan lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami?

Yudhishthira: Sang Ibu lebih berat daripada Bumi, Sang Ayah lebih luhur daripada langit, Pikiran lebih cepat daripada angin dan kekhawatiran kita lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami.

Yaksa: Siapakah kawan dari seorang musafir? Siapakah kawan dari seorang pesakitan dan seorang sekarat?

Yudhishthira: Kawan dari seorang musafir adalah pendampingnya. Tabib adalah kawan seorang yang sakit dan kawan seorang sekarat adalah amal.

Yaksa: Hal apakah yang jika ditinggalkan membuat seseorang dicintai, bahagia dan kaya?

Yudhishthira: Keangkuhan, bila ditinggalkan membuat seseorang dicintai. Hasrat, bila ditinggalkan membuat seseorang kaya dan keserakahan, bila ditinggalkan membuat seseorang bahagia.

Yaksa: Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan? Manusia macam apa yang mulia dan hina?

Yudhishthira: Kemarahan adalah musuh yang tidak terlihat. Ketidakpuasan adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Manusia mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk dan Manusia hina adalah yang tidak mengenal pengampunan.

Yaksa: Siapakah yang benar-benar berbahagia? Apakah keajaiban terbesar? Apa jalannya? Dan apa beritanya?

Yudhishthira: Seorang yang tidak punya hutang adalah benar-benar berbahagia. Hari demi hari tak terhitung orang meninggal. Namun yang masih hidup berharap untuk hidup selamanya. Ya Tuhan, keajaiban apa yang lebih besar? Perbedaan pendapat membawa pada kesimpulan yang tidak pasti, Antara Śruti saling berbeda satu sama lain, bahkan tidak ada seorang Resi yang pemikirannya bisa diterima oleh semua. Kebenaran Dharma dan tugas, tersembunyi dalam gua-gua hati kita. Karena itu kesendirian adalah jalan dimana terdapat yang besar dan kecil. Dunia yang dipenuhi kebodohan ini layaknya sebuah wajan. Matahari adalah apinya, hari dan malam adalah bahan bakarnya. Bulan-bulan dan musim-musim merupakan sendok kayunya. Waktu adalah Koki yang memasak semua makhluk dalam wajan itu (dengan berbagai bantuan seperti itu). Inilah beritanya.

Akhirnya, Yaksa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Yaksa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madri, yaitu Nakula.

Yaksa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan yaksa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.


Senin, 17 Maret 2014


NEGERI TANPA AYAH

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola
2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai  mengasuh anak bukan sekedar 'membuat' anak
3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi
4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja
5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah
6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?
7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya
9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya
10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya
11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country
12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?
13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi
14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya
15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya'qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli
16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH
17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak
18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya
19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi
20| Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.
21| Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut
22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid
23| Harus ada sosok AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH
24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan
25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid
26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya
27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya
28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH 'kepala sekolah' tapi AYAH 'penjaga sekolah'
29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya
30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak
31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika
32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama
33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi
34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH
35| Silahkan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan
pengasuhan. Salam bahagia (bendri jaisyurrahman)

Senin, 02 September 2013

SURAT CINTA ORANG PROYEK


Beginilah kalo orang proyek jatuh cinta pada mandornya. Menulis surat cinta untuk sang idola. Tak ada kertas dan amplop. Tak ada punya nomer HP dan pin BB. Dinding tembok jadi sasaranya. Cekidot.

Puisi Gila 




                                                                        Tipe standar


 Tipe standar jilid II




 Tidak bisa nulis. ya udah digambar saja




Ngrayu.....



Ngrayu jilid II


Ini penggemarnya DEWA 19




Kalo yang ini punya be be...



Ini baru awal... selanjutnya, tunggu edisi berikutnya.... he he he he...




Jumat, 30 Agustus 2013

Mari Merenung.. Mari Menghitung Diri...

Dalam sebuah obrolan aku diberi pertanyan pilihan. Mending  "Bodo nglakoni, utawa pinter ora nglakoni". Jadi orang bodoh tapi mengamalkan, atau menjadi  pinter tapi tidak mengamalkan.
Ditempat lain, pertanyaan yang laen muncul  "Pilih kere mule, apa sugih medit", Pilih miskin pemurah atau kaya tapi pelit.

Besar sekali kemurkaan Alloh dengan orang yang tahu tapi tak mau mengamalkan. Habis sudah sempurna kita di hadapan-Nya. Kemudian disejajarkan kita dengan makhluk yang lebih hina.  Berilmu kemudian beramal soleh.  Pengetahuan tanpa amal sholeh sangatlah berbahaya. Tak hanya menyesatkan diri sendiri namun bisa dipergunakan untuk menyesatkan orang lain. Menggunakan kemampuannya untuk keuntungan diri sendiri. "pinter, keblinger". Mengapa setelah  diberi ilmu dan petunjuk, malahan memilih jalan hina?

Yang beribadah tanpa ilmu dianggap sebagai orang yang merugi. Lelah badan dan hatinya, namun tak juga memperoleh apa-apa. Sangat banyak ayat-ayat maupun dalil-dalil tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Tak ada perbedaan antara ilmu-ilmu ibadah dengan ilmu-ilmu alam. Tak boleh kita menganggapnya salah satu lebih utama. Karena Alloh SWT meletakkan pula –tantangan- tentang pengetahuan alam untuk menunjang hal-hal yang terkait ibadah maupun terkait kehidupan manusia. Bukankah mereka yang diberi petunjuk adalah mereka yang senantiasa "berdzikir", merenung baik dalam segala keadaan, berdiri, duduk, maupun berbaring. Tuhanku, sungguh Engkau menciptakan segala sesuatu tak ada yang sia-sia.  

Kemudian, menjadi kaya dengan banyak harta, juga bukan tanpa konsekwensi. Harta yang kita punya ada pertanggung jawabannya. Ada audit dan perhitungannya. Dapat dari mana? Untuk apa dibelanjakan? Kekayaan yang dipergunakan secara bijak, akan membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi si empunya.  Kekayaan yang dipakai dengan sembrono, foya-foya, hura-hura akan membawa kesengsaraan pada akhirnya.  Alloh mengancam kita. Jikalau kita bersyukur, ditambahlah nikmat kita. Jikalau kufur, tunggu saja kecelakaan bagi kita. Lihatlah nasib Firáun, Qorun dan tsa'labah.

Kemiskinan membuat orang merasa aman. Kesalehan dalam keterbatasan. Tak ada harta yang perlu dipertanggung jawabkan. Namun, apakah kita akan menjadi soleh sendirian. Tak peduli pada keadaan sekitarnya. Bukankah setelah sholat ada amal sholeh? Setelah amal sholeh ada saling menasehati dan mengajak pada kebaikan dan kesabaran.  Bohong sholat kita, bohong puasa kita, jika kita hanya peduli pada diri sendiri. Mengabaikan  fakir miskin dan anak yatim. Kenikmatan dunia memang melenakan, namun ketidakpedulian bertentangan dengan maksud penciptaan. Bukankah Ia, Yang menciptakan alam semesta dan segala isinya, tak pernah sedikitpun mengabaikan ciptaan-Nya. Yang taat ataupun ingkar di perhatikan-Nya. Semua disayangi-Nya.

Sejatinya, bukankah hidup ini sebuah pilihan. Kita diberi modal. Panca indra dan kecerdasan. Umur dan kesempatan. Dalam hidup kita yang sekali-kalinya ini,  Apakah akan digunakan untuk duduk diam, ataukah bekerja? Sungguh  waktu akan terus berjalan. Jatah kita di dunia akan terus berkurang.  Maka kita diminta, Agar mencari sebanyak-banyak nya keduniaan, seakan-akan kita hidup selamanya. Kita diminta agar beribadah sekuat tenaga, seakan-akan kita mati esok hari. Banyak secara kuantitas, banyak secara kualitas.
 Pada akhirnya nanti kita semua akan menyesal, menyesal kenapa di dunia kita tidak berbuat baik. Menyesal karena hanya sedikit berbuat baik. Menyesal karena kebaikan  -yang kita rasa- banyak ini, masih tetap kurang banyak. Yang senantiasa berbuat baik saja akan menyesal, bagaimanakah dengan yang tidak berbuat baik?

 "Bodo nglakoni, utawa pinter ora nglakoni"  atau "Pilih kere mule, apa sugih medit" adalah pertanyaan bagi kita semua.  Berhentilah terlena.  Merasa nyaman.  Merasa  cukup berbuat baik. Merasa sudah cukup beramal ibadah. Nyaman kita dengan kebaikan yang sedikit. Nyaman kita memilih-milih dosa. Nyaman memilih-milih pahala. Mengapa tak kita borong saja banyak-banyak. Gapai sebanyak-banyaknya kebaikan, tinggalkan sebanyak-banyaknya keburukan. Padahal nabi saja tak pernah melewatkan istighfarnya sebelum tidur.

Maka semestinya kita memilih,  "yo pinter, yo nglakoni, yo duwe yo mule"  Ya pinter,  ya mengerjakan, ya kaya,  ya pemurah.  Pilihlah itu saja. Sekuat tenaga kita.
Selagi berkesempatan
Selagi berkesehatan
Selagi berkemampuan
Selagi berkekuatan

Selagi berkehidupan

Minggu, 18 Agustus 2013

Sore Di Pasar Rebo

Akhir-akhir ini hujan turun tiada berhenti. Bukankah ini bulan desember? Orang  jawa bilang bulan desember adalah kependekan dari  “Gede-gedene Sumber”, sebesar-besarnya sumbe r –penghidupan- .  Bersyukurlah kita yang tinggal di Indonesia. Sepanjang tahun Alloh menganugerahkan hujan. Menurunkan berkah dari langit.  Ijo royo-royo.  Al hasil bumi kita ini seperti surga saja. Tempat segala macam tetumbuhan dan hewan hidup. Berkah untuk disyukuri dengan tidak menyia-nyiakannnya, berkah untuk memanfaatkannya dengan bijaksana.
Minggu-minggu ini aku memang sibuk sekali. Bolak-balik karawang-jakarta. Untuk benyak keperluan, entah koordinasi, entah mengurus dokumen dan lain sebagainya.  Butuh waktu sekitaran 4 jaman sekali jalan. Berarti 8 jam Pulang pergi. Jadi kalau aku berangkat dari karawang pukul tujuh, potong segala urusan dan lain sebagainya. Maka aku paling cepat nyampai lagi di karawang abis maghrib. Waktunya abis di jalan. Tua di jalan pokoknya. Melelahkan bukan?
Langit nampak menghitam sejak aku naik mayasari di simpang point square. Biasanya aku naik busway nyampai point square kemudian lanjut mayasari atau koantas bima. Yang mana saja, yang penting bisa segera sampai di kp Rambutan untuk kemudian lanjut ke Karawang. Kali ini mayasari yang duluan lewat, aku langsung naik. Hawa dingin dan aroma pewangi murahan menghembus sejak aku membuka mayasari. Kontras dengan aroma   koantas bima, bau keringat dan “umpel-umpelan”. Ongkosnya pun beda. Tiga kali lipat lebih mahal.
Kali ini pilihanku tepat. Alkhamdulillah, hujan mengguyur deras sejak keluar pintu tol fatmawati. Tak kebayang seandainya naik koantas bima. Biasanya bocor di sana sini. Ya dari pinggiran jendela –karena udah rusak, atau memang kacanya ndak ada-. Ya bisa juga dari atap angkot yang bocor. Masing-masing pilihan ada konsekwensinya. “Rego nggawa rupo”. Sementara di mayasari, berasa semakin “adem”. Mal’lum ac nya ndak pake inverter, jadi yo dinginnya ngucur terus. Brrrrrrr......
Setelah setengah jam perjalanan bus sampai di pasar rebo. Aku lebih mengenal pasar rebo, sebagai  sebuah persimpangan rame di ujung selatan-timur jakarta. Tempat bis, Ojek, pedagang, angkot ngetem. Terminal bayangan istilah gampangnya. Diakui atau tidak, pasar rebo jauh lebih rame dari pada kp rambutan, terminal  yang sebenarnya. Kami tak berarti terbebas dari keramaian pasar rebo. Bis berjalan tersendat di underpass. Ndak kehitung jumlah kendaraan yang berlalu lalang. Saling nglakson satu sama lain. Sudah macam pesta tahun baru saja.
Aku turun dari bis, beberapa saat setelah hujan reda. Belum bener-bener berhenti, masih cukup untuk membuat pakaian ini lepek. Jalanan basah, becek, genangan air nampak di sana-sini. Beberapa anak kecil “pengojek payung” nampak berkumpul. Menghitung rejeki selama hujan tadi. Lumayan untuk uang jajan. Para pedagang kaki lima mulai bersih-bersih, menunggu pastinya hujan turun. Bersiap membuka dagangan mereka kembali.  Aku melintas saja, berlalu menuju ke mushola kecil di pingir jalan. Sudah adzan maghrib.
Selesai shalat, aku bergegas keluar mushola. Waktunya menuju karawang. Tujuan terakhir. Gerimis-gerimis begini, enaknya makan gorengan. Ada  tukang gorengan dekat poho cherry. Alamak,  ada “mendoan”.  Sudah lumayan lama ndak pulang.  Kangen sama mendoan.
Uap panas mengepul saat  kulepaskan gigitan pertama. Aku mengap-mengap. Terasa Panas di rongga mulut, ngilu di gigi, gurih di lidah. Paduan sensasi rasa yang luar biasa. Gigi dan lidahku berjingkit bergantian menahan panas gorengan. Nikmat dirasakan, sayang untuk dimuntahkan.
Aku megap-megap..
“Huft... Haaaft.... Enyak... nyanyas...” gumamku.
Hujan masih turun rintik-rintik. Kendaraan berjalan pelan. Pak polisi sibuk mengatur angkutan dan bis yang -selalu- bandel. Bandel ngetem di puteran. Peluitnya sudah lama tak bersuara. Nafasnya sudah habis sedari siang tadi.
Aku beringsut ke dipan dekat warung sate. Ada tempat kosong. Tidak enak makan sambil berdiri. Malu sama sahabat nabi. Lagian masih sore ini. Tak perlu terburu-buru pulang ke karawang. Toh bis terakhir masih berangkat sampai tiga jam lagi. Jadi tidak perlu kawatir terdampar di sini.
Di dekat dipan, seseorang sedang sibuk mengupas sisir pisang. Agak layu berwarna kuning emas bergaris kecoklatan, sedikit layu. Tersenyum kepadaku. Kubalas dengan senyum bakbao. Gembung di pipi. Ada yang terasa panas di dalam sana. Ternyata beliau si empunya gerobak gorengan itu.  Senang melihatku melahap gorengan. Senang melihat daganganya laris.
“Mau pulang atau berangkat mas?” si bapak berbasa basi.
“Ke karawang pak, mau pulang”
“Bagaimana dagangan hari ini pak? Laris?” aku iseng bertanya.
“Ya Alkhamdulillah, beberapa hari ini lumayan..”
“Sering pulang cepat, dagangan cepet habis, ya ndak Bu’e?”
Yang di panggil  menengok. Tersenyum. Kemudian kembali menggoreng.
Lagi banyak pesanan. Lagi banyak yang mengantri.
“Yah.. beginilah saya mas.. “
“ Usaha apa saja, yang paling penting halal.Berkah.  Penginnya punya rejeki banyak, kaya sampean ini. Tapi sedikitpun ndak papa.Rejeki halal itu pasti berkah. Kalo di makan ke badan jadi daging, ke otak jadi pinter. Ke akhlak jadi bener. Kalo rejeki harom mas. Biar kata banyak. Kalo ke badan jadi kangker. Kalo ke akhlak jadi bandel, kalo pinter, jadinya keblinger”
si bapak mulai ber cerita. Mengupas pisang terakhir. Tapi pembicaraan ini jelas ditujukan kepadaku.
Aku manggut-manggut. Si bapak ini, pantesan gorengannya seenak ini.Empat jempol untuk si bapak.
“Terus.. terus...?” aku semakin antusias.
Si bapak meletakan pisau dan pisang ke nampan. Membuang kulit pisang ke tempat sampah. Aku memperbaiki posisi duduk.
Bapak ini orang bodoh, SD saja ndak tamat. Ndak kaya sampean ini mas?"
Aku sedikit mengangkat bahu. Rada GR.
"Mangkanya, bapak pengin anak-anak bapak jadi orang pinter. Sekolah setinggi –tingginya"
"Pinter yang ndak Cuma pinter, tapi sekaligus baik akhlaknya"
"Biar pinternya ndak buat minteri, ndak buat ngakali hukum, ndak buat korupsi"
Kami terdiam. Bergelut dengan pikiran masing-masing.
Makin malam, jalanan tambah ramai. Gerimis mulai reda. Sepertinya orang-orang yang menepi mulai melanjutkan perjalanan kembali.
Ÿowis pak… "
aku pamit dulu..
sudah malam pak…
"Oke.. sukses yo mas!" Si bapak membalas, menepuk bahuku. Aku mengangguk.
 Aku bergegas menyangklong tas, pergi meninggalkan mereka berdua. Bis merah sudah merapat.
Semoga Alloh membalas kesungguhan bapak ibu berdua. Makin laris dagangannya yo pak. Makin pinter dan soleh solehah anak-anaknya. Makin sukses usahanya.

Tukang Gorengan.  (Ilustrasi aja)